Menikahi Ayah Pelakor

Menikahi Ayah Pelakor
Terpojok


__ADS_3

Begitu Dokter membuka pintu, Maya langsung bergegas menghampirinya. Ia begitu khawatir dan tak sabar ingin mengetahui kondisi suaminya.


"Dokter... Bagaimana keadaan suami ku, Kenapa dia tiba-tiba jatuh pingsan?"


"Suami Anda mengalami patah tulang belakang..."


"Apa!?"


"Ya, Patah tulang belakang atau fraktur vertebra. Sebagian besar fraktur vertebra disebabkan oleh cedera atau trauma akibat kecelakaan mobil, Jatuh, Olahraga, atau semacam benturan kecepatan tinggi. Apa suami Anda telah mengalami salah satunya?"


Maya menunduk sedih mengingat bagaimana Abrisam jatuh dari pohon.


"Ya Dok... Suamiku habis jatuh dari pohon yang cukup tinggi." lirih Maya.


"Tapi Anda tidak perlu bersedih, Kondisi suami Anda saat ini cukup baik."


"Maksud Dokter?"


"Ya, Fraktur kecil pada tulang belakang dapat disembuhkan dengan istirahat dan pengobatan."


"Jadi suami saya tidak perlu menjalani operasi?"


"Untuk sementara tidak Nyonya, Suami Anda hanya perlu mengenakan cervical collar untuk mencegahnya bergerak berlebihan agar tidak mengalami cedera lebih lanjut. Setelah kondisinya stabil kami akan menentukan apakah perawatan bedah diperlukan atau tidak. Tergantung pada tingkat keparahan dan lokasi fraktur, Karena beberapa patah tulang kecil dapat diobati tanpa pembedahan, Dan yang terpenting beristirahatlah dengan durasi waktu tertentu," ucap Dokter mengakhiri penjelasannya.


Setelah Dokter pergi dan mengizinkannya melihat keadaan Abrisam, Maya pun langsung bergegas masuk ke dalam. Ia menghentikan langkahnya melihat Abrisam yang setengah berbaring dengan alat cervical collar yang terpasang di lehernya.


Abrisam yang sudah siuman dengan susah payah menoleh ke arah Maya.


"Maya... Sayang..." lirihnya.

__ADS_1


"Mas Adiiii..." Maya langsung memeluk Abrisam dan menyandarkan kepalanya di dadanya hingga membuat Abrisam sedikit meringis kesakitan.


"Aaa..."


Maya yang mendengarnya langsung mengangkat kepalanya dan menatap wajah Abrisam.


"M-maafkan Aku..."


"Tidak papa,"


"Kenapa Mas memaksakan diri, Jika Mas merasa sakit, Mas tidak perlu memenuhi keinginan ku."


"Bagaimana mungkin Aku tidak memenuhi keinginan anak kita, Dia adalah lambang cinta ku padamu."


"Tapi ibu Maya tidak pernah mencintai Ayah," ucap Vanya yang tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu.


Secara bersamaan Abrisam menatap ke arah pintu, Keduanya terkejut melihat Vanya yang datang bukan hanya sendiri, Melainkan ia datang bersama Alvin dan juga Vena sang ibu.


"Jaga ucapan mu Vanya!" tegas Abrisam.


"Maafkan Aku Ayah, E... Apa yang terjadi pada Ayah?" tanya Vanya memeluk Abrisam.


"Apa yang terjadi Abrisam, Kenapa bisa seperti ini?" sambung Vena.


Maya semakin merasa penasaran siapa wanita itu.


"Kenapa mereka terlihat seperti sebuah keluarga, Apakah wanita itu ibu kandung Vanya?" batin Maya.


"Kamu pasti sedang bertanya-tanya siapa wanita itu kan?" lirih Alvin mendekati Maya yang berdiri di belakang Vanya dan Vena.

__ADS_1


Maya hanya menoleh sekilas kearah Alvin dan tak menjawab pertanyaannya.


"Dia adalah Nyonya Vena, Ibu kandung Vanya, Mantan istri Adiyaksa Abrisam." jelas Alvin.


Maya yang mendengarnya begitu terkejut, Seketika ia merasa cemas akan kehilangan Abrisam melihat kedekatan mereka bertiga. Terlebih Alvin yang kembali memanas-manasi Maya dengan mengatakan jika mereka terlihat seperti keluarga yang sempurna.


"Bagaimana kalian tau Aku berada di sini?" tanya Abrisam.


"Ayah... Beberapa hari ini Ayah tidak pulang ke rumah, Aku begitu merasa khawatir, Jadi Aku bertanya pada supir dan memaksanya mengatakan dimana Ayah tinggal."


"Bukankah kita sepakat untuk tinggal terpisah, Dan untuk apa kamu membawa wanita ini kemari?"


Maya menatap Abrisam yang terlihat menatap sinis wajah istrinya.


"Ayah, Dia adalah ibuku, Bagaimanapun dia juga mantan istri Ayah, Apa salahnya Aku mengajaknya melihat keadaan Ayah?"


"Sejak kapan kalian berhubungan lagi?"


"Ayah... Tidak ada salahnya kan Aku kembali berhubungan dengan ibu kandung ku ketika ibu sambung tidak bisa menggantikan posisi ibu kandung?" dengan sinis Vanya menatap Maya.


Begitupun semua orang yang ikut menatap Maya termasuk Vena yang terlihat tersenyum smirk melihat Maya yang terpojok.


"Jangankan menggantikan posisi ibu dan mencintai ku seperti layaknya seorang ibu kepada anaknya, Bahkan dia tidak bisa menggantikan posisi ibu sebagai istri Ayah." lanjut Vanya.


"Itu karena kesalahan mu padanya Vanya!" tegas Abrisam.


"Baiklah, Katakan Aku memang bersalah kepadanya karena Aku merebut Alvin darinya, Tapi bagaimana dengan Ayah, Apa kesalahan Ayah, Apa yang kurang dari Ayah, Apapun telah Ayah lakukan untuk nya, Bahkan menjauhi ku dan memilih tinggal bersamanya. Tapi apa dia membalas cinta Ayah? Sepertinya berterimakasih saja tidak!"


Abrisam terdiam menatap Maya mendengar perkataan Vanya.

__ADS_1


"Hmm... Diamnya Ayah sudah menjelaskan semuanya, Bahwa hingga detik ini ibu Maya tidak pernah mengatakan jika ia mencintai Ayah."


Bersambung...


__ADS_2