
Abrisam dan Maya tengah menikmati kebersamaannya setelah sekian lama tidak bisa melakukannya. Meskipun udara di luar masih panas, Tak menghalangi mereka untuk memanaskan ruangan ber-AC yang kini tak terasa dinginnya.
"Akhhh.... Ini yang terakhir." tawar Maya yang terus mendapat gempuran dari Abrisam yang seolah tidak memiliki rasa lelah.
"Apa kamu sudah lemas Sayang?" goda Abrisam sambil terus menghentak semakin cepat.
"Ini sudah sore, Waktunya anak-anak mandi Akhhh..." ujar Maya di tengah kenikmatannya.
"Ini salah mu, Kenapa semalam kamu tidur ketika Aku pulang?"
"Tapi kan tadi pagi sudah, Eummhhh..."
"Ya, Tapi itu belum cukup untuk membayar selama tiga bulan Aku berpuasa. Oughhh... Ahhhh..."
Mereka tidak lagi berbincang dan hanya menikmati di barengi dengan desa'han saling bersautan. Namun belum juga mereka sampai puncaknya, Mereka terganggu oleh ketukan pintu.
"Ayaaah... Tok... Tok... Tok...."
Sontak Abrisam dan Maya membuka mata dan melihat ke arah pintu. Kemudian mereka saling menatap bingung.
"Vanya," ucap Maya bangkit.
"Hey mau kemana?"
"Vanya memanggil."
"Ini sudah di ujung, Apa kamu mau meninggalkannya begitu saja tanpa penyelesaian?"
__ADS_1
"E... Tapi."
Tidak peduli dengan Vanya yang terus memanggilnya, Abrisam membalong tubuh Maya dan kembali melanjutkan permainan.
Hentakkan kuat yang terbilang kasar membuat Maya harus mengigit seprei agar suaranya tidak terdengar oleh Vanya yang tengah menunggunya.
Sementara Vanya yang tidak mendapat jawaban. Mencebikan bibirnya dan meninggalkan kamar Ayahnya.
Setelah itu Vanya ke ruang bayi dan langsung menggendong putri kecilnya.
"Hallo Sayang Eumuach."
"Kemana Ayah dan Ibu Maya?" tanya Vanya kepada pengasuh yang menjaga adik dan juga putrinya.
"Seharian Tuan dan Nyonya tidak keluar kamar."
"Benar Nona."
"Tapi Aku berkali-kali mengetuk pintu, Mereka tak menjawabnya." batin Vanya yang kemudian berpikir mungkin mereka tengah menikmati kebersamaannya karena beberapa bulan ini sibuk mengurus Adik dan juga putrinya.
"E-baiklah." ujar Vanya yang kemudian membawa Vanina keluar dari kamar bayi dan membawanya ke bawah. Karena tidak terbiasa menggendong bayinya, Terlebih menuruni tangga mengenakan high heels membuat Vanya Keseleo dan nyaris terjatuh.
"Non Vanya!" Johari yang melihat hal itu segera berlari dan menangkap keduanya.
"Hah!" Jantungnya berdegup dengan sangat kencang karena hampir saja ia jatuh bersama bayinya. Namun melihat Johari yang mendekap dirinya dan juga bayinya membuat Vanya terbawa perasaan. Menghayal kan betapa bahagianya memiliki suami yang bisa melindungi dirinya dan juga bayinya di setiap saat.
"Non Vanya tidak apa-apa?"
__ADS_1
"E-tidak, Terimakasih untung kamu menyelamatkan kami, Jika tidak bagaimana dengan putriku."
Johari menatap Vanina yang terus menangis dalam dekapan Vanya.
"Dia putri mu?"
Vanya menganggukkan kepalanya.
"Berikan padaku."
"Kamu bisa menggendongnya?"
"Tentu saja, Aku sudah mengatakan jika Aku terbiasa dengan Keponakan ku."
Mendengar itu Vanya tersenyum dan memberikan Vanina kepada Johari.
Johari dengan luwes menggendong Vanina, Menimang-nimang dan mengajaknya bicara, Usahanya pun tidak sia-sia karena Vanina tidak lagi menangis, Justru bayi tiga bulan itu kini tertawa merespon setiap kata-kata yang Johari ucapkan.
Melihat hal itu Vanya tersenyum dan semakin yakin, Jika kali ini pilihannya tidaklah salah. "Tapiii... Apakah Jo mau denganku? Jo memang begitu baik pada ku dan menerima semua masa laluku karena seratus kita hanya sekedar berteman, Tapi jika Aku mengungkapkan keinginan ku untuk menjadikan ku istri apakah ia masih mau menerima ku?"
š Mohon maaf untuk yang menunggu sampai jamuran maupun lumutan, Author nih selain punya bayi, Ada ibu yang tengah sakit keras, Jadi mohon di maklumi dan di do'akan supaya semua sehat agar Author bisa lebih sering lagi Update nya šā¤ļø
BUAT YANG KANGEN MAS ADI š„µš„
__ADS_1