
Abrisam cukup di buat terpengaruh oleh perkataan Vanya dan mulai meragukan Maya. Dan itu di lihat oleh Maya yang sejak tadi memperhatikan reaksi wajah sang suami.
"Benarkan yang ku ucapkan Ayah?"
"Kamu benar Vanya!" ucap Maya lantang.
"Kamu memang benar Aku tidak pernah mengucapkan rasa cinta ku pada Ayah mu hingga detik ini, Karena menurutku yang terpenting adalah sikap dan perbuatan, Bukan perkataan." Maya menjeda ucapannya dan menggeser Vanya untuk lebih dekat dengan Abrisam.
"Perkataan bisa saja berdusta, Tapi tidak dengan perbuatan."
"Tapi setiap orang menginginkan kata-kata untuk meyakinkan bahwa yang ia rasakan di hatinya tidaklah salah, Bagaimana ia tau orang itu mencintainya atau tidak jika tidak ada kata-kata yang terucap?" tanya Vena menyela pembicaraan mereka.
"Anda benar, Tapi apakah Anda bisa menepati kata-kata Anda kepada Mas Adi?"
"Setidaknya mereka pernah saling mencintai Maya, Tidak seperti mu yang hanya memanfaatkan Ayah ku."
"Niat awal ku memang hanya memanfaatkannya, Tapi seiring berjalannya waktu, Aku tidak lagi ingin menyakitinya dengan memanfaatkannya, Aku..."
"Sudah! Hentikan! Bisakah kalian berhenti bertengkar?! Aaa..." triak Abrisam hingga membuat punggung dan lehernya terasa sakit.
"Ayaaah..."
"Abrisam..."
"Mas Adiiii..." Maya berusaha menyentuh tangan Abrisam. Namun langsung di tepis olehnya.
"Keluarlah kalian semua dari sini!"
"Mas..."
Vanya yang melihat Ayahnya marah, Tak terkecuali dengan Maya tersenyum smirk dan berharap kemarahan Ayahnya kepada Maya lebih dari ini.
"Aku ingin istirahat, Pergilah!"
"Aku tidak akan meninggalkan Mas sendirian, Apalagi Mas sedang terlihat kesakitan."
"Apa kamu tidak mendengar apa yang Ayah katakan! Ayah bilang keluar!" dengan kasar Vanya menarik tangan Maya. Namun langsung di tepis oleh Maya dengan kasar.
__ADS_1
"Lepaskan Aku! Dia suami ku dan Aku mencintainya!"
Sontak perkataan itu membuat semua orang tercengang, Terutama Abrisam yang langsung terpaku menatap Maya.
Melihat tatapan Abrisam, Maya menjadi salah tingkah, Ia melihat kesana-kemari untuk menghindari kontak mata langsung dengan nya.
"Apa yang kalian tunggu, Cepatlah keluar dari sini!" perkataan tegas Abrisam kembali mengagetkan semua orang hingga tidak ada yang berani melawannya. Perlahan semua orang melangkah meninggalkan ruangan, Tak terkecuali dengan Maya. Namun baru beberapa langkah, Abrisam menghentikan langkahnya.
"Tetaplah di sini."
Maya menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahnya begitupun dengan Vanya yang masih berada di ambang pintu.
"Keluarlah, Ayah hanya ingin Maya yang tetap berada di sini."
Mendengar hal itu Vanya menghentakkan kakinya dengan kesal sembari menutup pintu dengan keras.
Abrisam menarik nafas kasar dan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Vanya. Sementara Maya masih berdiri sekitar satu meter dari ranjang Abrisam terbaring, Ia benar-ben merasa gugup atas apa yang baru saja terucap dari bibirnya tanpa sengaja.
"Apa kamu akan berdiri saja di situ?" tanya Abrisam.
"T-tidak," ucap Maya cepat.
Perlahan Maya melangkah mendekati Abrisam, Ia berdiri tepat di sampingnya dengan kepala yang tertunduk sambil memainkan jari jemarinya untuk mengurangi kegugupannya.
"Lebih dekat."
"Hah!?"
Abrisam memberikan isyarat agar Maya duduk di sampingnya.
Tidak menolak perintah Abrisam, Maya pun duduk di samping Abrisam dengan posisi saling berhadapan.
"Lebih dekat lagi..."
Dengan terus menundukkan wajahnya Maya semakin mendekatkan wajahnya pada Abrisam.
"Sedikit lagi..."
__ADS_1
Meskipun permintaan Abrisam semakin membuat Maya gugup. Namun Maya menuruti permintaan Abrisam.
Abrisam tersenyum melihat Maya yang memerah dan terus menundukkan wajahnya seperti remaja sedang jatuh cinta untuk pertama kalinya. Kemudian ia menyingkirkan anak rambut yang sedikit menutupi wajah cantiknya.
"Apa kamu bisa mengatakannya lagi?" tanya Abrisam.
"A-a-apa?"
"Yang kamu ucapkan di depan semua orang, Aku ingin kamu mengucapkannya sekali lagi, Hanya kepada ku."
"M-mas sudah mendengarnya, Aku tidak perlu mengatakannya lagi."
"Tapi Aku ingin mendengarnya lagi."
Maya hanya terdiam, Bibirnya terasa begitu berat untuk kembali mengakui jika ia mencintai Abrisam.
"Baiklah, Jika kamu tidak mau... Aku..."
"Aku mencintai mu!"
Abrisam kembali terdiam sejenak menatap Maya.
"Katakan lagi..."
"Aku mencintai mu."
"Sekali lagi..."
"Aku Maya Alfiansyah sangat mencintai mu Tuan Adiyaksa Abrisam." Mendengar itu Abrisam begitu lega dan bahagia. Ia langsung menggenggam rambut bagian belakang Maya dan meraih bibirnya.
Dengan penuh cinta mereka saling membalas tautan bibir masing-masing. Kata cinta yang selama ini tertahan akhirnya Maya bisa mengungkapkannya dan itu sangat membuat Abrisam yang selama ini sabar menunggu begitu merasa lega.
"Aku juga sangat mencintai mu Sayang," ucap Abrisam yang kembali menci'umi wajah Maya bertubi-tubi.
Mereka tersenyum dan menatap penuh cinta. Kemudian saling memeluk dengan erat hingga membuat Abrisam kembali meringis kesakitan.
"Aaaa...!!!"
__ADS_1
"Mas Adiiii...."
Bersambung....