Menikahi Ayah Pelakor

Menikahi Ayah Pelakor
Semakin Cinta


__ADS_3

Keesokan harinya, Vanya yang sudah di izinkan pulang baru sampai di rumah besarnya. Dengan di temani Vena, Vanya beristirahat di kamarnya, Sementara Alvin yang berjalan di belakang mereka langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Melihat pintu kamar mandi telah tertutup, Vanya kembali meluapkan kekesalannya pada ibunya karena usahanya semalam mengambil hasil tes yang Alvin jalani telah gagal.


"Kenapa kamu masih menyalahkan ibu, Setidaknya hargailah usaha ibu."


"Apa yang perlu di hargai, Usaha ibu tidak menghasilkan apapun."


"Sayang... Penjagaan rumah sakit begitu ketat, CCTV juga terpasang dimana-mana, Apa kamu mau ibu tertangkap basah dan di masukkan ke penjara?"


Vanya menghelai nafas kasar mendengar penjelasan Vena yang cukup masuk akal.


"Sayang... Nanti siang Alvin akan mengambil hasil tes nya, Jadi bersiaplah untuk rencana ke dua."


"Ibu Aku tidak Sudi bertemu dengan mereka lagi!"


"Sayang, Kamu belum mengenalnya, Siapa tau jika kamu melihatnya dalam keadaan sadar, Kamu akan tertarik padanya."


Vanya terdiam dan mencerna ucapan Vena.


"Sudahlah Sayang, Jangan pikirkan Alvin, Selain dia tidak sepadan dengan mu, Dia juga tidak bisa memiliki keturunan, Jadi apa yang ingin kamu pertahankan dari pria seperti itu?"


Ckleekkk...


Vena dan Vanya cukup di buat kaget oleh pintu kamar mandi yang terbuka.


"Ada apa, Kenapa kalian menatap ku seperti itu?" tanya Alvin yang melihat Vanya dan ibu mertuanya menatapnya tegang.


"E... Tidak, Kami hanta merasa kaget saja karena kita sedang asik mengobrol, Tiba-tiba kamu membuka pintu," ucap Vena beralasan.


"Obrolan apa yang memuat kalian begitu serius sehingga kalian begitu kaget saat pintu terbuka?"


"B-bukan apa-apa Alvin, Ibu hanya mengajari ku bagaimana menjaga kehamilan agar tetap sehat dan kuat melakukan aktivitas." saut Vanya beralasan.

__ADS_1


"Oh baiklah, Kaau begitu Aku pergi dulu."


"Alvin... Apa kamu benar-benar ingin mengambil hasilnya?" tanya Vena.


"Ya."


"Baiklah tidak masalah, Semoga kamu tidak menyesal."


Mendengar itu Alvin merasa terusik, Ia merasa ragu untuk melangkahkan kakinya. Namun setelah beberapa menit berdiam diri akhirnya dengan lemah Alvin kembali melangkah meninggalkan kamar.


"Bagaimana jika benar Aku tidak bisa memiliki keturunan, Dan bagaimana jika anak yang ada dalam kandungan Vanya bukan anakku, Apa yang harus ku lakukan dengan pernikahan ku?" batin Alvin yang merasa sedih memikirkan hal terburuknya.


•••


Di rumah barunya, Maya dan Abrisam tengah bersantai di ruang tengah sembari menonton televisi.


Dengan manja Maya menyandarkan kepalanya di dada sebelah kiri Abrisam dan tangan kiri memeluk perutnya.


Mereka pun saling menatap penuh cinta, Tak ada lagi perasaan yang mengganjal pada keduanya, Keduanya telah memutuskan untuk melupakan masa lalu dan menata lembaran baru dengan bayi yang akan segera hadir melengkapi pernikahan mereka.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Abrisam memulai perbincangan.


"Aku sedang memikirkan, Jika bayi kita laki-laki pasti dia akan setampan Mas Adi."


"Dan jika bayi itu perempuan, Dia akan secantik dirimu." sambung Abrisam sembari menangkup kedua sisi pipi Maya.


"Mas Adi menginginkan bayi perempuan?"


"Apa saja, Yang penting sehat tanpa kurang suatu apapun."


Maya tersenyum dan langsung memeluk Abrisam, Membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami dengan begitu nyamannya.


Abrisam membalas pelukan hangat sang istri dan mengecup pucuk kepalanya.

__ADS_1


Cukup lama mereka saling berpelukan hingga Maya merenggangkan pelukannya karena merasakan ada sesuatu yang bergerak di bawah sana.


"Ada apa?" tanya Abrisam yang pura-pura tidak tahu apa yang membuat Maya melepaskan pelukannya.


"E-Mm... T-tidak," ucap Maya yang menjadi malu.


"Dia begitu cepat merespon ketika kamu menyentuh ku" ucap Abrisam yang tersenyum penuh arti.


"A-aku tidak tau apa yang Mas bicarakan," ucap Maya yang langsung beranjak bangun dari duduknya dan mencoba pergi. Namun Abrisam kembali menarik tangan Maya hingga Maya jatuh terduduk tepat di pangkuannya.


"Apa kamu mau menghindari ku?"


"T-tidak, Aku masih ada pekerjaan dapur."


"Itu bukan tugas mu, Tugas mu hanya melayani ku," ucap Abrisam yang langsung menelusuri leher jenjang Maya.


Maya sedikit mendorong Abrisam untuk menghentikan aksinya, Kemudian Maya menoleh kesana kemari dan merasa khawatir ada asisten rumah tangga yang melihat apa yang Abrisam lakukan.


"Apa yang kamu cari?"


"Jangan lakukan ini di sini, Bagaimana jika ada yang melihat?"


"Biarkan saja mereka melihat, Ini rumah ku, Aku yang bayar mereka lalu apa yang di risaukan?"


"Tetap saja Mas, Sekarang kan jamannya segala macam di viralin, Bagaimana jika ada yang merekam kemesraan kita dan di sebarkan ke media sosial, Mau di taruh dimana muka kita?"


"Mereka tidak akan berani melakukannya."


"Tapi waspada lebih baik kan?"


"Ya baiklah... Kalau begitu ayo kita lanjutkan di dalam." Abrisam langsung membopong tubuh Maya dan membawanya ke kamar.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2