Menikahi Ayah Pelakor

Menikahi Ayah Pelakor
Kemarahan Abrisam


__ADS_3

Perlahan Vanya melangkah mendekati Ayahnya, Ia tidak berani menatap Ayahnya yang kini menatapnya tajam penuh selidik.


Dengan perasaan gugup, Vanya memberanikan diri untuk bertanya terlebih dahulu.


"A-a-ayah, Apa Ayah sudah lama menunggu ku?"


"Ya, Tiga jam lebih." saut Abrisam dengan suara tegasnya.


"M-maafkan Aku Ayah, A-aku...."


"Darimana?!"


"A-a-aku..." Vanya tidak bisa melanjutkan perkataan dan menangis memeluk kaki Ayahnya.


"Maafkan Aku Ayah, Aku telah membuat mu malu."


"Ayah tanya, Darimana kamu?!" seolah tidak peduli dengan tangisan Vanya yang bersimpuh di kakinya, Abrisam tak sedikit menundukkan kepalanya untuk melihat putrinya itu.


Raut wajah yang cukup membuat siapapun gemetar tak terkecuali dengan Maya yang melihat sisi lain dari sikap penyayang suaminya itu.


Masih tidak menjawab pertanyaan Ayahnya, Vanya terus menangis di kaki Ayahnya.


"Ayah tanya darimana kamu?!" triak Abrisam sembari melangkah mundur hingga membuat Vanya tersungkur di lantai.


"Maaasss!" triak Maya yang merasa iba kepada Vanya.


Mendengar teriakan sang istri, Abrisam sedikit menundukkan wajahnya dan melihat Maya yang tengah membantu Vanya bangun.


"Tidak bisakah Mas bertanya baik-baik padanya, Bukankah tadi Mas begitu mengkhawatirkan nya?"


Abrisam menarik nafas dalam-dalam dan mengontrol emosi nya.


"Vanya kamu tidak papa?" tanya Maya sembari mengusap air mata Vanya.

__ADS_1


Vanya menggelengkan kepalanya dan merasa terharu dengan apa yang Maya lakukan padanya.


"Bisa kita masuk dan bicara dengan kepala dingin?" tanya Maya kepada Abrisam.


Tanpa menjawab pertanyaan Maya, Abrisam melangkah masuk ke dalam.


"Vanya... Jangan membuat Ayah mu marah, Bicaralah terus terang, siapa tahu Ayah mu bisa membantu."


Vanya menganggukkan kepalanya dan masuk bersama Maya yang terus menuntunnya.


"Sekarang katakan darimana kamu? Dan apa saja yang kamu lakukan setelah lepas dari pengawasan Ayah sehingga kamu bikin malu Ayah seperti ini?"


Vanya pun mulai menceritakan semuanya tanpa ada yang di tutup-tutupi termasuk ibunya yang masuk ke penjara hingga usaha dirinya meminta pertanggungjawaban kepada Andrie dan Rio.


"Kamu benar-benar memalukan Vanya! Ayah malu menyebut mu sebagai putri ku!" Abrisam yang begitu merasa kecewa langsung pergi meninggalkannya.


"Ayaaaaah..." tangis Vanya.


"Ayah begitu marah padaku, Ayah pasti akan mengusir ku seperti Ayah mengusir ibu, Hiks... Hiks... Hiksh..."


"Itu tidak akan terjadi, Tenanglah, Aku akan bicara dengan Ayah mu."


Maya meninggalkan Vanya dan menyusul Abrisam ke kamarnya.


Ckleekkk...


Abrisam yang tengah berdiri di depan jendela menoleh sekilas melihat Maya dan kembali menatap keluar.


Maya melangkah masuk mendekati Abrisam dan langsung memeluknya dari belakang. Ia menci'umi punggung Abrisam berharap kemarahan sang suami akan sedikit mereda.


Usaha Maya pun tidak sia-sia karena hanya butuh beberapa menit kemarahan Abrisam sedikit mereda.


"Apa ini lebih baik?" tanya Maya sembari mencondongkan tubuhnya menatap wajah sang suami.

__ADS_1


Abrisam tersenyum meraih tangan Maya dan menci'um nya beberapa kali. Kemudian Abrisam memutar tubuhnya menatap sang istri dan menangkup kedua sisi pipinya.


"Kamu selalu bisa membuat hati ku menjadi dingin."


"Karena kemarahan hanya bisa di dinginkan dengan kasih sayang."


"Dan kasih sayang mu selalu berhasil meredakan amarah ku."


"Jadi sekarang boleh Aku mengatakan sesuatu?"


"Ya, Katakan."


"Aku tau perbuatan Vanya sangat membuat Mas marah dan malu, Tapi bagaimanapun dia adalah putri mu, Dia sudah di ceraikan oleh suaminya, Jadi siapa lagi yang akan melindungi dan memperjuangkan bayi yang ada dalam kandungannya jika bukan Mas Adi?"


"Sayang... Dia pernah menyakiti mu sampai begitu kejamnya, Tapi kamu masih memikirkan nasibnya?"


"Itu sudah berlalu dan Aku sudah menemukan cinta yang lebih baik dari cinta yang ku lepaskan, Justru sekarang Aku harus berterimakasih pada Vanya karena telah merebut Alvin dariku, Karena jika tidak, Aku tidak akan pernah menemukan pria sebaik dan setampan dirimu."


"Apa kamu sedang merayu ku, Hmm?" Abrisam menarik pinggang Maya hingga tubuh mereka merapat sempurna.


"Apa Aku terlihat seperti wanita perayu?" tanya Maya tersenyum.


"Kamu bukan saja terlihat seperti wanita perayu, Tapi kamu juga terlihat seperti wanita penggoda."


"Darimananya Aku terlihat seperti wanita penggoda?" tanya Maya sembari memukul lengan Abrisam.


"Buktinya Aku selalu tergoda dengan mu," ucap Abrisam tertawa kemudian mengecup sekilas bibir Maya.


Bersambung....


šŸ“Œ Di tunggu like komen dan vote nya.


Kalau rame ntar Up lagi šŸ˜šā¤ļøā¤ļøā¤ļø

__ADS_1


__ADS_2