
Pada hari Minggu Johari mengambil cuti untuk menemui Vanya yang sudah seringkali mengajaknya bertemu. Dengan mengendarai motor bebek Johari menuju tempat yang Vanya tentukan. Meskipun Andrie membebaskan Johari untuk membawa mobilnya. Namun Johari tidak pernah mengambil kesempatan itu hanya untuk terlihat kaya dan menjerat para gadis, Ia lebih memilih motornya dan bersikap seadanya tanpa merasa malu dengan pekerjaannya.
Begitu sampai, Johari melihat Vanya yang melambaikan tangan kepadanya. Johari pun segera turun dan menghampiri Vanya.
"Apa Nona Vanya sudah menungguku lama?" tanya Johari begitu sampai di depan Vanya.
"Lumayan." jawabanya singkat.
"Maafkan Aku, Aku vangun kesiangan."
"Tidak papa, Duduklah."
Mereka pun duduk dan memesan makanan.
Menunggu makanan sampai mereka berbincang dengan akrab.
Meskipun ini kali pertama mereka keluar bersama, Namun mereka sudah sering berbicara melalui telpon. Bahkan Vanya bisa menceritakan masa lalunya yang kelam tanpa beban. Apalagi penerimaan Johari yang begitu bijaksana tanpa memandang rendah dirinya, Semakin membuat Vanya jatuh hati pada pria sederhana itu.
"Oh ya kenapa kamu tidak membawa serta Vanina?"
Mendengar pertanyaan itu Vanya termangu menatap Johari. Bahkan ia tidak pernah berpikir untuk mengajak putri kecilnya keluar, Apalagi saat ia menemui pria pujaannya.
"E... Apa kamu tidak keberatan?"
__ADS_1
"Kenapa keberatan, Anak-anak itu sangat imut dan menggemaskan, Aku juga punya keponakan berusia sekitar 2th, Dan Aku tidak pernah melewatkan bermain dengannya ketika sedang libur bekerja."
Mendengar itu Vanya semakin bersemangat. Ia berpikir tentu Johari bisa menjadi Ayah yang baik untuk putri kecilnya jika ia berhasil meluluhkan hati Johari yang selama ini tidak pernah menunjukkan rasa ketertarikannya pada Vanya.
"Kalau begitu besok Aku akan membawanya." ujar Vanya antusias.
"Hmm... Jadi besok kamu ingin bertemu lagi dengan ku?"
Seketika Vanya menjadi gugup dan tak dapat menjawab pertanyaan Johari. Ia terlalu bersemangat hingga tidak ingat jika mereka tidak memiliki status apapun kecuali teman chatting.
Melihat itu Johari tersenyum dan menyetujui keinginan Vanya.
"Baiklah... Aku tidak keberatan."
"Iya, Tapi Minggu depan yah, Kalau Aku libur lagi."
Vanya menganggukkan kepalanya dengan bahagia, Meskipun ia harus menunggu satu Minggu lamanya. Namun itu sudah cukup membuat Vanya merasa memiliki kesempatan untuk mendapatkan Johari. Andai saja Vanya masih seperti beberapa tahun lalu, Mungkin ia akan melakukan cara yang sama saat menjerat Alvin. Namun kali ini ia sudah bertekad untuk menjadi orang yang lebih baik lagi dan tidak akan membuat Ayahnya malu.
Setelah selesai makan, Mereka keluar dari restoran dan melangkah ke parkiran. Sama-sama membawa kendaraan sendiri, Vanya seolah masih berat hati untuk berpisah dengan Johari. Terbukti ia masih berdiri di samping motor melihat Johari yang memakai helm dan menaiki motornya.
"Terimakasih untuk makan siang nya, Lain kali izinkan Aku yang membayar." ujar Johari sembari memasang tali helmnya.
Vanya hanya tersenyum tipis dan terus menatap Johari yang kini menyalakan motornya.
__ADS_1
"Baiklah Nona Vanya Kalau begitu..."
"Jo..." Vanya langsung memotong ucapan Johari.
"Sudah berapa kali Aku katakan, Jangan memanggilku Nyonya, Panggil saja Vanya, Aku bukan bos mu."
"E... Yah, Baiklah Nona.... E-maksudku Vanya, Kalau begitu Aku pulang dulu."
"Bisakah Aku ikut dengan mu?" tanya Vanya menghentikan Johari yang sudah memundurkan motornya.
Johari menatap Vanya bingung, Kenapa wanita kaya sepertinya ingin ikut dengannya yang hanya menggunakan motor, Sementara mobil mewahnya terparkir di sana.
"Jo... Bolehkah Aku ikut dengan mu?" tanya Vanya mengulangi.
"Mobil mu?"
Vanya menoleh ke belakang, Melihat mobilnya yang terparkir tidak jauh darinya. Setelah itu kembali menatap Johari yang masih menunggu jawabannya.
"Aku akan menyuruh supir mengambilnya." tanpa menunggu Johari menjawab. Vanya langsung baik di belakang membuat Johari termangu menatapnya.
"Ayo jalan."
Dengan mengangguk pelan, Johari melajukan motornya meninggalkan restoran.
__ADS_1
Vanya meminta Johari mengantarnya ke rumah. Bukan ingin menunjukkan kekayaannya melainkan ingin Johari mengenal keluarganya terutama putri kecilnya "Vanina"