Menikahi Ayah Pelakor

Menikahi Ayah Pelakor
Penyesalan


__ADS_3

Begitu malam menjelang, Vena dan Vanya pergi mengunjungi club malam dimana Vanya bertemu dengan dua pria yang telah membawanya ke hotel.


Dengan sama-sama berpakaian minim, Ibu dan anak itu nampak terlihat begitu seksi hingga siapapun pria yang melihatnya pasti akan tergiur dan tidak mengira jika mereka adalah ibu dan anak.


Terbukti begitu mereka sampai di club semua mata tertuju pada keduanya hingga membuat Vanya dan Vena mengangkat sedikit dagunya dengan penuh percaya diri masuk ke club tersebut.


Suara siulan dari pria-pria hidung belang mengiri langkah mereka yang menggoda siapapun yang memandangnya. Teriakan-teriakan dengan kata-kata vulgar seolah tak menjadi masalah untuk ibu dan anak itu, Justru mereka merasa ada kebanggaan tersendiri karena merasa mereka masih cukup menarik di mata pria-pria yang memandang.


"Kamu lihat itu Sayang, Semua pria melihat kita, Jadi tidak perlu khawatir jika Alvin menceraikan mu karena mengetahui jika bayi yang kamu kandung bukanlah bayi nya."


Vanya tersenyum tipis dan melihat kesana-kemari mencari dua pria yang membawanya ke hotel.


"Apa kamu melihat dua pria itu?" tanya Vena yang ikut menoleh ke belakang.


"Belum..."


"Baiklah tidak masalah kita tunggu saja."


Vanya mengangguk dan duduk menunggu kedatangan dua pria itu.


•••


Di jalanan, Tanpa arah tujuan, Alvin tengah meratapi nasibnya setelah mendapatkan hasil tes yang ia lakukan.


Ia bukan hanya terluka karena mengetahui kebenaran jika ia tidak mampu memiliki keturunan. Namun yang lebih menyakitkan dan membuat penyesalan dalam hatinya adalah ia meninggalkan Maya hanya demi wanita yang kini telah mengandung entah anak siapa.


"Aku benar-benar laki-laki terbodoh di dunia, Aku meninggalkan Maya yang begitu menjaga kehormatan dan harga diri ku demi wanita ja'lang seperti Vanya!" umpatnya kesal.


Sementara Maya dan Abrisam yang masih bergulung dalam satu selimut kembali bercum'bu mesra setelah beristirahat beberapa menit.


"Kamu mau lagi?" goda Abrisam yang langsung di respon dengan cubitan malu-malu oleh Maya.


"Tidak, Kata Dokter tidak boleh sering-sering kalau trimester pertama."


"Itu kalau ada masalah pada ibu dan janin yang ada dalam kandungan si ibu, Tapi kamu terlihat sehat tadi saja permainan mu begitu panas," ucap Abrisam sembari mengedipkan matanya.

__ADS_1


"Mas Adiiiiiiiiiiiiiiiiiiii..." Maya yang memerah kembali mencubit Abrisam yang terus menggodanya.


"Ini kekerasan dalam rumah tangga," ucap Abrisam sembari melindungi wajahnya dengan kedua tangannya.


"Salah sendiri nyebelin." Maya mengambil bantal di sebelahnya untuk memukul Abrisam. Namun belum sempat ia lakukan, Maya mengurungkan niatnya karena menyadari tatapan Abrisam yang mengarah ke kedua bulatannya yang tanpa tertutup sehelai benang.


"Mas Adiiii..." Maya langsung menutup kedua mata Abrisam dengan tangan kanannya sementara kirinya menaikkan selimut yang melorot sebatas perutnya.


Abrisam hanya tertawa dan menurunkan tangan Maya dari matanya. "Apa yang perlu kamu tutupi, Sore tadi aku baru menikmati nya."


"Mas Adiiii.... Iiih dasar mesum!" Maya kembali mengambil bantal yang ada di sampingnya dan memukulkannya ke lengan Abrisam.


Canda tawa keduanya terus berlanjut hingga mereka kembali mengakhiri dengan saling pertukar peluh.


•••


Di club, Vena yang merasa bosan mulai tak bisa duduk tenang.


"Kita sudah menunggunya dua jam apa kamu yakin mereka tidak ada di sini?"


"Aku belum melihatnya ibu."


Vanya menuruti ucapan ibunya dan kembali mengamati satu persatu wajah pengunjung yang datang.


"Baiklah, Terus awasi mereka, Ibu ke toilet dulu."


Vanya mengangguk pelan dan membiarkan ibunya pergi, sementara ia terus fokus memperhatikan para pria yang tengah asik berjoget menikmati alunan musik yang DJ mainkan.


Karena tidak juga melihat dua pria itu, Vanya pun mengalihkan pandangannya. Dan tanpa sengaja pandangan Vanya tertuju pada pria yang baru datang.


Vanya pun membulatkan kedua matanya dan mengamati pria itu.


Setelah merasa yakin jika pria itu, Pria yang sama dengan pria yang membawanya ke hotel, Vanya pun bergegas menghampirinya.


Pria itu yang melihat Vanya mendekat menghentikan langkahnya hingga Vanya berdiri tepat di depannya.

__ADS_1


"Kau pria itu kan? Salah satu pria yang membuat ku mabuk dan membawa ku ke hotel?"


Pria itu menoleh ke sana kemari dan kembali menatap Vanya.


Kemudian ia menarik Vanya menepi dari keramaian.


"Kamu datang mencari ku, Apa kamu menginginkannya lagi?" tanya pria itu sembari membelai pa'ha Vanya yang hanya mengenakan rok begitu minim.


"Jaga bicaramu! Aku kesini bukan untuk itu!"


"Lalu untuk apa Sayang?!" Pria itu langsung memutar tubuh Vanya dan mengapitnya di dinding, Dengan brutalnya ia langsung menyibak rok yang Vanya kenakan dan kembali merud'al paksa Vanya yang tidak melakukan perlawanan yang berarti.


Pria itu menghujam keras Vanya yang terlihat ikut menikmati permainan kasarnya hingga terdengar lengu'han nikmat yang sedikit tertahan hingga membuat baji'ngan itu tersenyum puas dan terus melanjutkan permainannya.


"Jangan di tahan Sayang, Mendes'ah lah... Aku ingin mendengarnya."


Mendengar hal itu Vanya tak terkendali dan benar-benar mendes'ah merasakan sensasi yang berbeda yang belum pernah ia rasakan.


"Aaakhhhhh...."


"Ya begitu Sayang...." pria itu mempercepat permainannya hingga ia menengadahkan kepalanya ke atas sembari memejamkan mata.


"Aaarrrggghhh... Oughhhhhhhh...." pria itu melenguh panjang dan merasa lututnya begitu lemas. Ia pun memeluk erat Vanya dan membenamkan wajahnya di punggung Vanya yang penuh keringat.


Setelah tenaga mereka kembali pulih, Pria itu pun merapikan pakaiannya dan tersenyum puas menatap Vanya.


"Jika kamu menginginkannya lagi, Aku siap memuaskan mu," ucap pria itu sembari mengedipkan matanya.


"Aku kesini bukan untuk itu, Tapi..."


"Vanya... Rupanya kamu di sini, Ibu mencarimu kemana-mana."


Vanya yang melihat ibunya datang menjadi tegang karena apa yang baru saja ia lakukan bersama pria itu.


"E... D-di dalam terlalu ramai jadi Aku kesini."

__ADS_1


"Baiklah tidak masalah, Siapa pria..." Vena menghentikan ucapannya begitu melihat wajah pria itu. Demikian pula dengan pria itu yang cukup terkejut melihat Vena.


Bersambung...


__ADS_2