Menikahi Bodyguard Buruk Rupa

Menikahi Bodyguard Buruk Rupa
Part 9 b


__ADS_3

Amor seketika lemas dan hendak terjatuh. Ia sama sekali tak berdaya melihat darah yang bersimbah dan sangat banyak di depannya itu. Bahkan wanita tersebut merasa bahwa dirinya sedang bermimpi. Namun semuanya tampak nyata dan bukanlah mimpinya yang selalu datang di setiap malam.


Amor menggelengkan kepalanya dan air matanya jatuh. Ia tak tahu harus melakukan apa lagi tapi saat ini dirinya benar-benar sangat ketakutan dan tak bisa melakukan hal yang banyak lagi.


"Ada apa? Apakah malam jahanam itu kembali lagi?" gumamnya dengan perasannya yang sangat ragu.


Wanita tersebut berusaha untuk kembali tegak dan mencaritahu apa penyebab banyaknya darah. Ia tak ingin menjadi Amor yang lemah seperti dirinya yang beberapa tahun lalu, tidak bisa berbuat apapun sehingga keluarganya mati dan ia dengan tidak berdosanya masih hidup di bumi ini. Ia benar-benar orang yang sangat bersalah sehingga setiap malam ia akan bermimpi hal-hal yang buruk membuatnya mengalami insomnia.


Amor pun menarik napas panjang lalu kemudian ia memaksakan tungkainya untuk berdiri. Kemudian wanita itu melangkah perlahan dengan kaki bergetar melewati darah yang menggenang di depannya. Setiap langkanya Amor sangat berharap bahwa ia masih memiliki kekuatan dari semua ini.


"Semuanya pasti akan baik-baik saja," wanita itu berusaha untuk memaksakan dirinya untuk berpikir positif dan menentang segala hal-hal yang bersifat negatif.


Amor terlalu memaksakan keadaan hingga ia merasa kecewa yang sangat mendalam karena tidak sesuai dengan apa yang diharapkan wanita itu.


"Aku merasa jika diri ku akan mati," gumannya sambil melangkah gontai. Bagaimana tidak, genangan darah semakin terlihat mengerikan saat ia kian berjalan masuk ke dalam.


Sampai ia di ruang keluarga. Amor tak bisa berkata-kata dan ia menangis tanpa suara saat melihat para pelayan yang sudah tidak bernyawa lagi. Tubuhnya lemas dan ia berusaha untuk tetap tegar.


"Kenapa? Siapa kau? Kenapa membunuh keluarga ku? Apa salah kami?!!" teriak Amor berusaha untuk melampiaskan perasaannya yang benar-benar sangat marah.


Amor menarik napas panjang dan tangannya terkepal. Ia pun berusaha untuk mencari ke segala arah. Siapa tahu orang itu masih ada di sekitar sini. Namun Amor tidak bisa bertindak sendiri dan ia harus menelpon aparat.

__ADS_1


Ia pun meraih ponselnya dengan tanagn bergetar berharap ia bisa berhasil membawa polisi ke sini apapun kondisinya.


"Aku pasti akan berhasil membawa mereka ke sini, tanpa ada halangan."


Amor pun menelpon polisi dan ia dengan gercap mengatakan yang terjadi sebenarnya. Ia harus bisa menyelamatkan keluarganya atau orang lain di sini. Karena merasa bahwa polisi akan ke sini, lantas Amor pun berjalan ke arah kamar Oliver dan ia melihat bahwa pria itu tidak ada tapi terlihat jelas bahwa ad darah segar di ranjang pria tersebut.


Napas Amor pun tersengal-sengal. Wanita itu kembali berlari ke arah kamar Tante dan omnya. Tapi belum sampai mencapai ke ruang tersebut di tengah jalan ia melihat bahwa kedua orang itu sudah tak lagi bernyawa. Amor mengepalkan tangannya.


Ia pun berusaha untuk menatap ke sana kemari untuk mencari biang keroknya. Tapi tiba-tiba hawa terasa sangat mencengkram. Bulu kuduk Amor bahkan sampai berdiri saking menyeramkan hawa itu. Amor pun mengusap lehernya dengan perasaan tak nyaman.


Kemudian wanita tersebut membalikkan tubuhnya secara perlahan. Betapa terkejutnya ia melihat orang tersebut ada di depan matanya. Pisau itu sudah nyaris mengenai matanya. Tapi untungnya sama sekali tidak kena. Hilang sudah keberanian Amor yang tadi. Tubuhnya mundur perlahan akan tetapi kakinya malah memijak tangan Abigail.


Sontak Amor terpekik dan kemudian ia tersandung hingga terjatuh di atas tubuh kedua mayat tersebut. Amor menangis sejadi-jadinya dan berharap bahwa ia akan diselamatkan saat ini.


"Liam?"


Lantas laki-laki tersebut pun tersenyum miring seolah-olah tengah mengejek Amor. Amar menelan ludahnya dengan susah payah dan tak menyangka bahwa selama ini ia telah hidup dengan pembunuh keluarganya.


"Seharusnya aku menyadari dari dulu, kau adalah orang yang sangat misterius dan aku bahkan sama sekali tidak mengetahui bagaimana keseharian mu. Kau adalah pria yang aneh dan harus aku hindari. Andai aku sadar dari dulu mungkin keluarga ku tidak akan seperti ini. Aku bisa memberitahu mereka bahwa nyawa mereka terancam." Amor menghela napas dengan penuh penyesalan. Semua yang ada di sini tidak ada artinya dan bahkan Amor tidak bisa berpikir bahwa dirinya akan melewati titik berat di hari ini.


Sementara itu Liam yang penuh dengan aura kebencian itu hanya terkekeh melihat orang-orang bodoh yang ada di depannya. Amor adalah salah satunya.

__ADS_1


"Kau pikir jika kau menyadarinya dari awal kau bisa kabur dari kenyataan di hari ini? Kau sama sekali tak akan bisa kabur karena ini adalah takdir yang harus kau lalui," ucapnya dengan seringaian yang sangat mengerikan.


Amar pun mulai sadar bahwa yang dikatakan oleh Liam ada benarnya juga. Walaupun dirinya telah mengetahui bahwa liang adalah penjahat yang sesungguhnya tetap saja ia tidak akan tetap saja ia tidak akan bisa menghindar dari pria itu.


"Kau benar? Karena kau adalah orang jahat. Sudah pasti aku tidak akan bisa kabur dari mu. Tapi pernahkah kau berpikir bahwa kau berpura-pura menjadi orang baik adalah hal yang paling menyakitkan bagiku, dengan ayahku akan tetapi kaulah yang telah membunuhnya," ucap Amor yang sudah kehilangan arah dan bahkan pandangannya sudah kosong.


"Kenapa aku harus memikirkan perasaanmu? Memangnya kau siapa?" tanya wanita tersebut seraya terkekeh.


Perempuan itu menarik napas panjang. Ia mengepalkan tangannya, jelas-jelas iya sudah kalah tolak dari pria tersebut namun masih dengan beraninya menantang Liam. Jika ada orang yang paling bodoh di dunia maka itu adalah Amor.


"Kau benar-benar iblis, bahkan penjahat kelas kakap pun tak sebanding dengan mu karena kau adalah penjahat yang paling jahat di dunia ini," ucap Amor dengan sangat berapi-api.


Kemudian ia pun mengambil pisau yang berada di tangan Liam. Ia berniat ingin membunuh dirinya sendiri dari pada hidup di tengah-tengah keluarganya yang mati.


Liam hanya menatap apa yang akan dilakukan oleh Amor tanpa ingin mencegahnya sama sekali.


Perlahan pisau itu menembus perutnya dan lalu ia merasa sangat sakit hingga membuat kepalanya pening. Perlahan ia pun menutup matanya.


__________


TBC

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.


__ADS_2