
Amor berhenti melangkah pada saat melewati ruangan kerja Liam. Ia sudah sangat penasaran sejak lama dengan pria tersebut. Karena rasa penasarannya yang benar-benar sangat tajam membuat wanita itu memutuskan untuk menghampiri ruangan kerja milik Liam.
Tidak peduli bagaimana reaksi pria tersebut nantinya. Lagi pula iya juga tidak terlalu memikirkannya. Lebih baik ia memuaskan rasa penasarannya yang sudah mendarah daging.
Perlahan Amor membuka ruangan kerja pria tersebut dan mendorong pintunya. Ia merasakan perbedaan yang sangat luar biasa dan seperti ia masuk ke hawa yang sangat berbeda.
Akan tetapi Amor terus melangkah dengan mantap. Wanita tersebut tidak peduli bagaimana reaksi jantungnya yang malah tidak sesuai dengan keinginannya.
Perlahan Amor menutup kembali pintu ruangan tersebut. Kemudian Ia pun melangkah lebih dalam dan melihat meja kerja pria itu. Ia menatap ke seluruh ruangan tersebut yang sangat berbeda.
Ruangan ini didominasi oleh warna hitam. Amor sendiri merasa merinding dan bulu kuduknya berdiri.
Apakah pria tersebut sama sekali tidak memiliki hawa kehidupan? Mungkin wajar saja karena dia adalah seorang monster. Amor pun melangkah ke dalam seraya memandang ke setiap sudut ruangan tersebut.
Amor menatap beberapa lukisan yang tidak dimengerti oleh dirinya. Akan tetapi wanita itu tidak mempermasalahkannya. Tiba-tiba otak berliannya terpikirkan untuk mencari barang berharga yang bisa digunakannya sebagai senjata melawan pria itu.
Amor melangkah pelan ke meja kerja pria tersebut dan lalu mengitarinya dengan pelan. Ia pun duduk di meja kerja pria itu dan menatap ke arah semua berkas milik Liam.
Ia tersenyum melihat berkas-berkas tersebut dan kemudian membaca setiap berkas-berkas penting. Amor melihat ada berkas yang menarik perhatiannya. Ia pun mengambil berkas itu dan kemudian membuka map tersebut.
Amor terkejut saat mengetahui bahwa berkas tersebut merupakan berkas aset-aset harta milik keluarga tuan muda Karel. Bukankah berkas inilah yang merupakan berkas penting untuknya karena itu adalah harta milik tuan muda Karel yang diwariskan untuknya.
Amor menatap berkas itu yang ditandatangani olehnya. Ia sama sekali dulu tidak menyadari bahwa yang ditandatangani adalah merupakan berkas penting yang berisi aset semua harta kekayaan tuan muda Karel. Laki-laki itu telah menipu dirinya.
Amor pun mendecih mengingat betapa liciknya pria tersebut dan bahkan telah menipunya.
"Pria yang seperti ini benar-benar tidak tahu diri. Dia hanyalah seorang Bodyguard tapi tidak pernah berpikir bagaimana tuan muda Karel dulu menyelamatkannya."
Amar pun membaca berkas tersebut dengan teliti. Wanita itu langsung mengerutkan keningnya saat melihat ada keanehan pada berkas itu. Nama yang tertera di sana bukanlah nama Liam, akan tetapi nama orang lain yang tidak pernah didengar oleh Amor. Siapakah orang ini? Dan apakah Liam bekerja untuknya?
"Pria itu benar-benar penghianat. Jadi benar bahwa ia bekerjasama dengan orang lain. Itu artinya pria tersebut masih memiliki sekutu lainnya?"
Amor langsung tercekat dan jantungnya berdegup kencang. Ia pun langsung menghempaskan berkas tersebut dan tubuhnya terasa lemas. Menghadapi satu Liam saja sudah sangat sulit, lantas bagaimana ia menghadapi satu komplotan Liam? Habislah Amor.
"Tidak mungkin aku menyerah begitu saja."
Amor merasa sangat putus asa. Ia memegang kepalanya dengan perasaan gundah dan sementara itu napasnya tersengal-sengal.
"Apa yang sudah kau temukan?"
__ADS_1
Amor menatap ke depan dan tercekat melihat Liam yang sudah berdiri tepat di depannya.
"Kau! Kau bekerja untuk orang lain?"
Amor semakin ketakutan saat ia melihat Liam yang gelap mata dan menarik dirinya dari seberang sana hingga perutnya bertubrukan dengan meja.
"Akhhh!"
"Siapa yang mengizinkanmu masuk ke dalam ruangan ini? Kau tidak boleh berada di tempat ini."
"Memangnya kenapa? Kenapa aku tidak boleh berada di tempat ini?"
"Karena kau sudah melanggar privasi ku."
Liam menarik rambut Amor ke belakang hingga kepala wanita itu terdongak. Amor merasakan kulit kepalanya yang ingin lepas akibat tarikan pria itu yang sangat kuat.
"Liam," cicit Amor sembari meneteskan air matanya. Ia berusaha untuk melepaskan tangan Liam.
Liam mendekatkan wajahnya hingga mereka hanya berjarak beberapa centi meter saja.
"Sekarang kau tahu kan apa akibatnya untuk menentang ku ke sekian kalinya?"
"Aku ingin kau mengandung anak ku. Suapaya kau tidak bisa kabur dari ku."
Amor menatap kosong ke arah jendela. Apakah ia hanya bisa dikurung di dalam kamar ini dan menjadi budak sek pria itu? Liam sangat kejam. Ia sudah diperkosa oleh laki-laki tersebut, akan tetapi ia tak kuasa mencari pembelaan.
"Aku ingin mati, tapi jika aku melakukan itu maka aku tidak bisa membalas dendam."
Amor menatap sendu ke arah langit. Di sana sudah berkumpul keluarganya yang mungkin tidak sabar menunggu kedatangannya.
"Aku pasti akan menemui kalian ketika aku sudah berhasil membalaskan dendam kalian. Aku berjanji untuk melakukannya dan tidak akan mengecewakan kalian."
Amor menarik napas panjang dan ia membalikkan tubuhnya. Sebentar lagi pria itu pasti akan datang untuk meminta haknya. Ia merasa tersiksa pada saat menyadari bahwa Liam kecanduan dengan tubuhnya.
"Liam," ucapnya dengan pelan.
Amor melihat ke arah pisau buah. Ia pun mengambil racun dari dalam lemarinya dan melumuri pisau buah itu dengan racun.
"Kali ini aku pasti bisa membunuh mu," ucap wanita itu licik.
__ADS_1
Sesuai dengan prediksi Amor, Liam benar-benar datang ke kamarnya dalam keadaan yang sangat lelah. Pria itu tampaknya memang ingin meminta haknya.
Amor tidak ingin bersikap lebih dominan agar pria itu tidak menyadarinya. Ia berharap bahwa kali ini rencananya tidak akan dapat ditebak.
"Aku sedang lelah."
"Aku juga lelah. Layani aku dan aku tidak ingin tahu."
Amor merasa emosi dengan perintah semena-mena pria tersebut. Bagaimanapun juga ia masih memiliki harga diri.
"Liam!!"
"Amor, kita harus sering melakukannya bukan agar kau cepat mengandung anakku."
Amor menggelengkan kepalanya seakan tidak percaya dengan pria tersebut.
"Apakah kau benar-benar gila Liam? Aku masih di bawah umur, walaupun aku baru mau memasuki umur 17 tahun tapi aku belum sanggup untuk mengandung."
"Itu adalah hukuman buatmu. Aku tidak ingin tahu kau harus mengandung anakku."
Liam pun lantas mendorong tubuh Amor kasar ke arah ranjang. Kemudian pria tersebut mendidihnya. Dalam hati sebenarnya Amor tersenyum lebar. Memang inilah rencananya.
Kemudian pria tersebut menciumi seluruh wajahnya dengan sangat semangat. Ia tak menyangka bahwa dirinya telah dijebak oleh Amor.
Pada saat Liam terperangkap dengan hasratnya, Amor pun mulai bereaksi. Wanita itu mengeluarkan pisau buah yang berada di dalam kantong bajunya.
Dengan perlahan-lahan kemudian Ia pun menancapkannya di belakang Liam. Pisau buah yang sudah dilumuri oleh racun tersebut membuat Liam tidak berdaya dan persendiannya terasa kaku.
"Amor apa yang kau lakukan?" Liam pun mencabut pisau tersebut akan tetapi tubuhnya terasa lemah sehingga pisau itu terus tertancap di tubuhnya.
Tapi karena ia merupakan pria yang penuh dengan perjuangan ia lantas menarik pisau tersebut dan kemudian menjauh dari Amor.
Ia memandang tajam ke arah wanita itu dan pergi dari dalam kamar Amor.
_____
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.
__ADS_1