
Amor menghela napas dengan sangat keras. Perlahan wanita itu menolehkan kepalanya ke belakang. Tepat dugaannya bahwa orang yang baru saja berbicara dengannya itu adalah Liam. Pria itu berbohong kepadanya seolah-olah sangat peduli dengan hidupnya akan tetapi ia tak pernah memikirkan bagaimana perasaan Amor selama ini.
"Kau tidak perlu berbohong Liam. Bahkan kau sangat peduli kepadaku juga karena anak ini. Tapi tidak apa, aku bisa menjaganya dengan baik." Amor memberikan senyum terbaik yang ia miliki. Sesuai dengan rencananya wanita itu ingin mengelabuhi Liam melalui perasaan.
Membuat pria itu jatuh cinta kepadanya bukanlah merupakan hal yang buruk. Ia bisa membuat Liam tergila-gila dan melakukan apa saja demi dirinya. Amor jadi sangat bersemangat dan tidak sabar melihat hari itu akan datang.
Terlebih lagi ia tahu Mbah wali yang memiliki cinta yang sangat mendalam kepada bayinya ini. Memanfaatkan hal tersebut bukanlah sesuatu yang buruk bukan? Ini juga salahnya Liam yang selalu mencari masalah dengannya.
Liam sendiri melihat senyum itu tak berkutik di tempat. Sangat jelas pria tersebut merasakan debaran yang sangat kencang di dadanya. Ada apakah dengannya? Lia menundukkan kepalanya dan kemudian menyembunyikan wajahnya terlebih dahulu dari wanita itu.
Amor yang melihat hal tersebut cukup terkejut karena tidak menyangka akan secepat ini membuat Liam terpana kepadanya.
"Ada apa denganmu? Apakah kau baik-baik saja?" Amor bertanya dengan sangat intens kepada pria itu.
Liam menganggukkan kepalanya. Kemudian pria itu mengangkat kepalanya kembali dan melemparkan senyum tulusnya.
"Kau tidak usah khawatir dengan ini. Aku pasti akan menjagamu selama kehamilan mu."
Amor langsung tak berekspresi apapun. Wanita itu hanya memberikan senyum tipis kepada Liam.
"Maaf aku terburu-buru dan tidak jadi keluar."
Liam menghela napas panjang. Apakah kali ini adalah karena dirinya membuat Amor merasa tidak nyaman. Jika dipikir-pikir memang salahnya yang selalu membuat Amor merasa salah paham kepadanya.
Laki-laki tersebut mengejar Amor kembali dan lalu menuntun Amor ke kamarnya. Amor terkesiap saat Liam tiba-tiba menyentuh tangannya dan membawanya berjalan.
"Aku khawatir terjadi sesuatu kepadamu. Aku harap kau baik-baik saja dan tidak melawanku kali ini. Kau sendiri yang mengatakannya bahwa kau merasa menderita di dunia."
"Aku menderita karenamu Liam, dan kau juga tahu hal itu," ucap Amor namun setelah itu ia masih bia memberikan senyuman kepada laki-laki tersebut.
"Tidak usah berbohong kepada ku, aku tahu senyuman itu palsu," ucap Liam yang kemudian membalas senyuman milik Amor.
Amor pun menjadi diam saat Liam tahu akan hal itu. Lagipula tidak masalah kali ini gagal, ia bisa mencobanya lain kali dan mencoba untuk kesekian kalinya. Bisa dikatakan ia adalah orang pantang menyerah.
"Kau tidak marah kepadaku?"
"Aku tidak ingin marah kepada mu karena aku tak memiliki waktu," tutur Liam dan pada akhirnya ia pun mengangkat tubuh Amor karena ia khawatir Amor terus berjalan seperti itu akan membuat wanita itu kesusahan sendiri.
"Liam apa yang kau lakukan?" kaget Amor dan refleks memukul dada pria tersebut.
__ADS_1
Pria itu menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia pun tak menjawab Amor dan terus melangkahkan kakinya ke kamar mereka.
"Diamlah. Jika kau banyak bertanya nantinya akan buruk bagi kandungan mu."
Amor langsung diam.
_____________
Amor membuka matanya dan pemandangan yang pertama kali dilihat oleh wanita itu adalah sosok Liam yang tengah terlelap di sampingnya. Amor melirik sebentar ke arah pria tersebut. Terlihat jelas bahwa wajahnya sedikit merasa ngeri saat melihat Liam yang bahkan masih tidur pun masih mengenakan topeng.
Apakah pria itu begitu sangat misterius? Bahkan ia sama sekali tidak ingin mengungkapkan identitas yang sebenarnya kepada Amor. Padahal kamu harus sangat ingin tahu bagaimana asal-usul Liam dan seperti apa keluarganya melakukan pembantaian sehingga ia merasa sangat tersakiti dan memutuskan untuk balas dendam kepada keluarganya. Mungkin setelah pria itu menceritakannya ia bisa memberikan perasaannya sedikit kepada Liam.
Tapi nyatanya pria itu sangat tertutup dan tidak ingin bercerita apapun. Bahkan Amor seperti hidup dengan orang asing di rumahnya. Yang ia tahu hanyalah nama pria tersebut adalah Liam, bahkan nama panjangnya laki-laki itu pun ia tidak tahu.
Padahal dalam hati Amor benar-benar sangat ingin menguak fakta yang lebih banyak mengenai Liam.
"Liam, apakah kau benar-benar seorang penjahat? Aku tidur dengan seorang penjahat yang telah membunuh keluargaku dan bahkan mengandung anaknya. Ini sungguh tidak masuk di akal."
Amor pun mengubah posisinya menjadi miring menghadap pria itu. Lalu kemudian ia menggerakkan tangannya ke arah laki-laki tersebut. Amar menyentuh wajah pria tersebut dan ingin membuka topengnya. Ia sangat ingin tahu bagaimana rupa Liam. Benarkah jika wajahnya sangat buruk rupa seperti dugaan orang-orang. Amor tidak menyangka bahwa dirinya akan melakukan aksi nekat ini kepada Liam.
Amor berharap bahwa Liam tidak akan sadar dengan apa yang ia lakukan saat ini. Wanita itu menghembuskan nafasnya secara perlahan dan memberanikan dirinya walaupun jantungnya berdegup dua kali lipat dari biasanya.
Perlahan namun pasti Ia pun mengangkat pelan-pelan topeng tersebut. Akan tetapi tiba-tiba tangan seseorang menahan dirinya. Nomor langsung ke aku di tempat tidak bisa melakukan apapun saat ia tertangkap basah oleh laki-laki tersebut.
Amor pun memejamkan matanya bersiap-siap untuk dimarahi oleh pria itu. Sedangkan Liam menghembuskan nafas pusar dan lalu kemudian menjauhkan tangan Amor.
"Apa yang ingin kau lakukan Amor? Kau tidak semudah itu untuk melakukannya," ucap pria tersebut yang memberikan peringatan bahwa Ali Amar tidak bisa melakukan apapun karena ia lemah.
"Kau jangan salah paham kepadaku dulu, aku tidak bermaksud untuk melakukannya. Aku hanya ingin mengambil lalat yang ada di topengmu," ngelesnya.
"Benarkah seperti itu?" tanya Liam lebih menantang lagi.
Amar pun menjadi getar-ketir dan sulit untuk menjawab pertanyaan yang diberikan oleh laki-laki tersebut. Tidak mungkin ikan ia jujur kepada pria itu dan berujung ia akan diamuk olehnya.
Amor menganggukkan kepalanya meyakinkan bahwa apa yang ia ucapkan itu benar-benar dari lubuk hatinya dan ia tidak berbohong walaupun dugaan Liam memang ada benarnya.
"Ya Aku sama sekali tidak berbohong," jawabnya dengan mantap dan kali ini terlihat Liam menganggukkan kepalanya mengerti.
Akhirnya Amor pun bisa mengusap dadanya dengan perasaan lega. Ia tidak mengetahui bahwa ada senyum miring yang sangat tipis di ujung bibit pria tersebut.
__ADS_1
Secara mengejutkan, Liam pun tiba-tiba langsung berada di atas Amor. Amor refleks membulatkan matanya dan menyingkirkan tubuh Liam dengan sekuat tenaganya.
"Apa yang kau lakukan? Liam menyingkirlah dariku."
Liam pun menggelengkan kepalanya. Pria tersebut mendekatkan wajahnya ke telinga Amor. Amor merasa merinding dibuat pria itu.
"Amor, aku tahu apa yang kau lakukan itu. Kau ingin melihat wajahku bukan?" Kemudian Liam pun membuka topengnya secara perlahan-lahan. Amor tidak menyangka bahwa pria tersebut akan melakukannya sendiri.
Ia menjadi sangat deg-degan karena takut apa yang ia lihat tersebut merupakan hal yang paling mengerikan. Bukan bermaksud body shaming tapi ekspektasinya sudah dibayangkan bahwa Liam adalah pria buruk rupa.
Amor pun terkejut saat topeng itu benar-benar telah terbuka. Tubuh Amor menjadi gemetaran melihat pemandangan yang sangat mengerikan. Ini lebih mengerikan dari ekspektasinya. Wanita itu tersengal-sengal dan langsung membuang wajahnya.
"Oh Tuhan? Benarkah itu dia? Kenapa sangat tampan? Aku tidak pernah melihat orang setampan ini sebelumnya," ucap batinnya yang sangat tersiksa.
Selain itu dadanya berdetak hebat. Apakah kali ini ia terjebak oleh pria itu? Yang benar saja ia sedang mengalami jatuh cinta pada pandangan pertama.
Liam yang melihat ekspresi yang pertama kali ditunjukkannya saat melihat wajahnya pun hanya terkekeh. Kemudian Liam menarik dagu Amor agar terus menatapnya.
Pria itu mendekatkan wajahnya dan Amor tidak bisa menolaknya. Ia sendiri terpana dengan Liam.
"Izinkan aku menjenguk anak ku."
"Hah?"
Liam pun hanya tersenyum dan kemudian menggigit telinga Amor. Wanita itu mendesis saat merasakan sensasi lain. Ia pun berusaha menahan mati-matian sensasi mengerikan tersebut.
"Liam, aku gugup."
"Kenapa sayang?" tanyanya dengan sangat lembut. Hal itu membuat kesadaran Amor semakin menipis.
"Apa-apaan kau ini. Aku akan membunuh mu."
"Kau yakin?" Kenapa menjadi seperti ini sih? Padahal Amor yang berniat ingin membuat Liam jatuh cinta kepadanya dan memanfaatkannya. Akan tetapi saat ini dia lah yang terpikat pesona pria itu.
Memang kesalahannya untuk membuka topeng Liam hingga ia terjebak dengan perbuatannya sendiri.
_________
TBC
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.