Menikahi Bodyguard Buruk Rupa

Menikahi Bodyguard Buruk Rupa
Part 42


__ADS_3

Setelah sekian lama terus dikurung di dalam rumah yang mewah dan tak memiliki kebebasan akhirnya hari ini ia bisa menghirup udara bebas lagi.


Amor sangat senang bak seperti burung yang baru saja lepas dari sangkarnya. Tak henti-hentinya ia menatap keindahan alam yang membuatnya terpana.


Liam yang tidak ingin melihat Amor yang terus menerus murung membuatnya merasa sangat tidak tega kepada wanita tersebut hingga hari ini ia pun mengajak wanita itu untuk menikmati liburan.


"Bagaimana apakah kau menyukai pemandangan ini? Jika tidak menyukainya maka aku bisa membawamu ke tempat lain." Amor menatap ke arah Liam dan kemudian menggelengkan kepalanya. Sama sekali tidak seperti itu ia merasa sangat senang dengan pemandangan gunung yang indah di depannya.


Jadi menurutnya pemandangan kali ini lebih dari cukup daripada ia terus-menerus terkurung di dalam rumah. Wanita itu menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan kemudian ia meraih tangan Liam dan menggenggamnya dengan sangat erat.


"Jujur kau benar-benar banyak berubah, apakah setelah memutuskan untuk memberitahu semuanya kau sudah bisa menerima kehadiranku?" Liam pun memandang ke arah Amor dengan tatapan bingung.


"Apa yang kau maksud? Kau benar-benar membuat ku sangat merasa marah karena menganggap jika aku tidak peduli kepada mu dulu." Amor menarik napas panjang dan kemudian menghembuskan napas kesal.


Selalu saja pria tersebut selalu saja paham dengannya namun tidak apalah akan tetapi Amor juga tidak  peduli dengan hal tersebut yang terpenting saat ini mereka bisa bersama lagi dan menikmati hal ini.


Amor menarik napas panjang dan kemudian mereka lantas menikmati keindahan dari pemandangan indah gunung di depan mata mereka. Semua itu berjalan dengan sangat lancar dan pendekatan yang dilakukan oleh keduanya membuahkan hasil yang manis.


Ini juga sebagai bulan madu mereka. Kemudian mereka mencoba untuk makan terlebih dahulu di sebuah restoran yang tidak jauh dari tempat itu.


Amor bisa melihat makanan kesukaannya yang ada di dalam menu tersebut. Ia sangat bangga dan memandang ke arah Liam dengan sangat semangat.


"Liam, aku ingin ini, apakah kau bisa membelikannya untuk ku?" Liam menganggukan kepalanya. Apapun untuk Amor pasti ia akan menurutinya karena ia ingin melihat hari ini wanita tersebut terus tersenyum.


"Pesanlah apapun yang kau inginkan, aku tidak mempermasalahkannya karena harta ku banyak." Amor memutar bola matanya dengan malas. Bisa-bisanya laki-laki tersebut masih sempat-sempatnya menyombongkan diri. Amor benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran pria itu.


Amor lantas memesan apa yang ia inginkan seperti pria itu katakan. Liam yang melihat banyak sekali makanan dan minuman yang dipesan oleh Amor hanya tercengang karena tidak menyangka jika wnaita itu akan memesan sebanyak itu.


"Aku tidak habis pikir kau bisa menghabiskan semua makanan itu. Kau benar-benar sangat rakus," ucap Liam seraya menyindir Amor. Akan tetapi orang yang disindir tidak merasa sama sekali bahwa sindiran tersebut untuk dirinya.


Amor diam dan memainkan ponselnya. Setelah sekian lama akhirnya ia bisa mendapatkan ponselnya kembali dan itu sangat menyenangkan.


Amor menahan napasnya saat melihat jika Liam saat ini tengah memandangnya. Amor berusaha sebisa mungkin agar dirinya tidak salting karena pria itu.

__ADS_1


"Liam apa yang kau lihat? Aku benar-benar sangat malu kau memandang ku seperti itu," ucap Amor yang mengeluh Liam terus memandangi dirinya.


Liam membuang pandangan tersebut dan menatap ke arah wanita lain. Amor yang menyadari hal tersebut juga sangat marah dan mempelototi Liam.


"Berani sekali kau menatap perempuan lain? Lihatlah lebih baik kau memang menggunakan topeng saja, semua orang memandang ke arah mu aku membencinya." Liam menjadi sangat serba salah dan ia harus pasrah ketika terus disalahkan oleh orang yang dicintainya.


"Terserah mu saja, yang penting kau bahagia saat ini."


__________


Amor merenggangkan tubuhnya yang terasa sangat lelah sekali setelah ia beraktivitas penuh haru ini untuk menikmati liburannya.


"Liam, apakah kau masih di dalam? Cepatlah keluar aku sudah gerah."


Liam memiliki ide jahil di otaknya ketika mendengar sang istri meneriaki namanya.


"Kenapa memangnya? Apakah kau ingin kita mandi bersama?" Wanita itu memutarkan bola matanya malas ketika tahu apa maksud Liam tersebut.


"Kau jangan membuatku lebih kesal, cepatlah kau mandi. Aku akan menunggumu di luar awas aja kau tidak keluar-keluar, aku akan mandi di kamar orang lain."


"Awas aja jika kau sampai melakukannya, aku akan memarahimu."


Tak lama dia pun keluar dan Amor langsung masuk ke dalam kamar mandi itu. Liam tampaknya memang harus diancam terlebih dahulu barulah ia mengerti dengan orang lain.


"Kau memang sangat payah,"sindir Amor dan kemudian mengunci pintu begitu saja.


Wanita itu menarik nafas panjang dan kemudian melakukan ritualnya. Sementara itu Liam membuka handuknya dan lalu memakai baju sederhana sembari menunggu Amor.


Amor pun keluar dari dalam kamar mandi telah berpakaian lengkap. Ia tidak ingin memakai baju di depan pria itu karena tahu Liam tidak akan bisa menahannya.


"Kau rupanya membawa baju ke dalam." Amor menjulurkan lidahnya seolah-olah tengah mengejek pria itu.


Liam menarik nafas panjang dan tiba-tiba ponselnya bergetar. Sontak pria itu meraih ponselnya dan melirik notifikasi yang merupakan dari Yovie.

__ADS_1


Ia membuka pesan tersebut dan melihat bahwa bukti-bukti Oliver telah keluar dari kota dan mereka kecolongan lagi. Liam mengepalkan tangannya dan menarik nafas panjang untuk menetralkan perasaannya yang berkecamuk.


Amor yang melihat laki-laki itu sangat frustasi lantas menurunkan keningnya. Menghampiri Liam dan bertanya ada apa dengan pria itu.


"Kenapa? Apakah ada sesuatu yang membuatmu sangat marah?"


Sebelum ia menjawab pertanyaan tersebut Amor sempat melirik ke arah ponsel milik laki-laki itu.  Amor melihat beberapa laporan mengenai Oliver. Walaupun Oliver adalah anak dari Alexander akan tetapi dirinya tetap merasa ia harus berbaik hati kepada Oliver, jujur saja selama ini Oliver memang memberikan kasih sayang yang tulus untuknya.


"Apakah kau ingin menangkap Oliver dan membunuhnya? Liam, cukup tante dan om saja yang kau bunuh, Aku mau mintamu walaupun permintaanku ini egois. Bisakah kau mengampuni nyawa Oliver, kau tahu sendiri Oliver juga seumuranmu dan ia tidak mengerti apapun."


Liam memandang ke arah Amor tidak setuju. "Apakah kamu mencoba untuk menyelamatkannya? Kau mengatakan bahwa Oliver seumuranku, asal kau tahu Oliver lebih tua dari ku 5 tahun."


Amor baru tahu akan hal tersebut. Wanita itu menundukkan kepalanya lagi-lagi ia salah padahal ini semua juga karena pria tersebut.


"Memangnya kenapa sih? Asal kau tahu kau dulu sangat mengerikan dan Oliver lah yang selalu memberikan kasih sayang yang tulus untukku. Selain itu Oliver benar-benar menyayangiku dan tidak pernah membedakanku karena aku hanyalah anak angkat."


Lia mengepalkan tangannya mendengar pembelaan yang sangat nyata dari mulut istrinya tersebut. Ia yang sangat emosi ditambah lagi dengan Amor membuatnya semakin emosi.


"Apa maksudmu dari semua ini? Apakah kau ingin membuatku sangat marah? Berhentilah membela dia dan jangan ikut campur. Biarkan semua ini aku mengurusnya, aku tidak ingin kau terlibat lagi."


Amor mau menatap ke arah punggung pria itu ia meninggalkannya. Amar meminjamkan matanya dan menutup kedua wajahnya dengan tangannya. Wanita itu menyembunyikan tangisannya yang tampak nyata.


"Aku tahu apa yang dilakukan keluarga Alexander memang salah, aku juga pasti akan ingin membunuhnya saat tahu dari awal. Tapi Oliver benar-benar tidak terlibat dalam hal itu, itu murni kesalahan ayahnya kenapa pria tersebut tidak bisa memaafkannya? Apakah mereka benar-benar sangat bersalah di mata Liam? Oh anakku, Aku harap kau tidak akan pernah menyesal memiliki seorang ayah pembunuh."


Pasti anaknya tidak akan pernah menyangka bahwa ayahnya pernah membunuh orang. Amor tidak ingin memiliki anak yang broken home karena keluarganya yang tidak bisa mengurusnya. Amor berharap bahwa dirinyalah yang hanya merasakan betapa kejamnya hubungan keluarga.


Wanita itu mengusap perutnya seraya menahan amarah yang sangat dalam kepada Liam. Hanya anak yang ada di dalam perutnya lah yang dapat menguatkannya.


"Jangan pernah dendam dengan masa lalu orang tua mu."


Amor berpikir jika menjadi orang kaya adalah sesuatu yang sangat menyenangkan tapi tak pernah tahu bahwa orang kaya hidupnya sama sekali tidak tenang.


__________

__ADS_1


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.


__ADS_2