
Amor mengakui jika semenjak kehamilannya, Liam lebih banyak berubah dan tidak menjadi seorang pemaksa. Yang paling mengejutkan bagi Amor adalah pria itu sangat perhatian dan berbeda dari Liam yang ia kenal.
Laki-laki tersebut seperti memiliki jiwa yang lain. Amor sendiri sangat tidak mengerti. Akan tetapi ia akan berusaha mengambil hati Liam dan membuat pria itu percaya kepadanya dan barulah ia akan memanfaatkan Liam.
Dengan begitu ia lebih mudah untuk membunuh pria itu. Pikirannya berjalan seiring Liam yang semakin baik padanya dan ia bisa menyuruh pria itu melakukan apapun dengan alasan anak. Amor merasa tersanjung dengan kebaikan tersebut dan ia menjadi berpikiran buruk jika seandainya Liam terus begitu betapa hidupnya sangat menyenangkan.
Akan tetapi Amor masih tidak bisa mendekati pria itu akibat dalam pikirannya selalu saja terbayang oleh dendam yang sangat dalam.
"Apakah kau sudah makan? Jangan lupa makan, aku tidak ingin terjadi sesuatu kepadamu."Amor pun menganggukkan kepalanya. Terlihat jelas wanita itu merasa enggan memakan pemberian Liam.
Akan tetapi ia akan berusaha untuk menelan makanan tersebut. Terlihat yang menyuapinya dengan sangat hati-hati. Liam merasa dicintai walaupun ia tahu Liam hanya mencintai anaknya. Lagi pula ia tak membutuhkan cinta dari pria itu.
Liam mengusap sudut bibir Amor yang terdapat sisa bubur. Wanita itu membuang pandangannya seraya menarik napas panjang.
"Aku sudah kenyang," ucap Amor yang menolak sendok berikutnya.
"Amor, kau harus makan. Kau harus memikirkan bagaimana nasib anak yang ada di dalam kandungan mu. Makanlah," pujuk Liam yang membuat Amor terpaksa kembali menelan makanan tersebut.
"Rasanya tidak enak." Amor blak-blakan mengatakannya dan tak peduli lagi apakah Liam akan tersinggung dengan ucapannya itu. Yang penting ia sudah merasa puas mengatakan yang sebenarnya.
Liam tersenyum dan kemudian mengusap kepala Amor. Amor sendiri terheran-heran dengan Liam. Padahal pria itu sudah ia sindir akan tetapi terus saja tersenyum. Ke mana Liam yang terlihat sangat mengerikan itu?
"Aku nanti akan membuatkannya yang lebih enak supaya kau lebih senang lagi." Amor terdiam membisu. Memangnya ada bubur yang enak? Padahal dia tahu sendiri bahwa Amor sangat tidak menyukai bubur dan sudah pasti wanita itu tak akan pernah merasa senang jika disuguhkan bubur.
Amor menggelengkan kepalanya berharap bahwa Liam tidak akan membuatkan bubur kesekian kalinya. "Kau tidak usah membuatkan ku bubur lagi. Aku merasa ini sudah baik."
Amor memberikan senyum tipis dan kemudian wanita itu pun pergi dari hadapan Liam. Secara ia tidak langsung ingin mengatakan bahwa dirinya bukan tidak menyenangi bubur tapi tidak senang jika ada pria itu di depannya.
Liam sendiri sangat mengerti dengan hal tersebut. Laki-laki itu menganggukkan kepalanya dan kemudian pergi ke dapur untuk meletakkan mangkuk bubur tersebut.
__ADS_1
"Memang wanita sedikit susah untuk diprediksi," gumam pria tersebut dan lalu kemudian pergi begitu saja.
Liam menarik napasnya panjang dan menghembuskannya perlahan. Pria tersebut menyentuh keningnya yang tidak berdenyut hanya saja ia yang terlalu banyak beban pikiran karena melihat Amor yang sedang hamil anaknya. Ia sendiri tidak menyangka akan menjadi seorang ayah, namun semua itu bukannya keinginannya dari awal? Jadi untuk apa ia merasa menyesal sekarang? Karena semua itu sudah tidak ada gunanya lagi.
Huft
Liam menghembuskan napasnya dan berjalan meninggalkan dapur.
__________
"Apakah wajah ku semakin berisi? Apakah aku pucat?" tanya Amor yang sedang memiliki tatapan kosong tersebut kepada pelayannya.
Pelayannya memberikan senyuman yang sangat manis dan siapa saja yang melihatnya akan terkesima.
"Anda sangat cantik Nona, walaupun memang Anda terlihat sedikit pucat, tapi saya rasa mungkin itu akibat kehamilan di usia Nona yang sangat muda membuat Nona sedikit syok dan saya tahan tubuh Nona yang belum siap."
Pembantu nya itu terlihat sangat terkejut saat mendengar pertanyaan yang diberikan oleh nyonya nya tersebut. Ia berharap bahwasanya nyonya nya tidak akan melakukannya.
"Nyonya, bagaimana pun dia adalah anak Anda, dia juga tidak meminta Anda melahirkan dan mengandungnya, dia hadir karena ingin menemani Nona."
Pembantunya itu ada benarnya juga. Anaknya tidak pernah meminta dilahirkan. Ia juga sama seperti anaknya dan tidak pernah berharap dikandung dan dibesarkan akan tetapi ia yang tidak tahu apa-apa ini tidak pantas kan mendapatkan kebencian dari banyak orang?
"Kau benar. Aku tahu rasanya tidak diterima dan hidup di jalanan. Kali ini aku sangat mengerti dengan hal itu, maka dari itu aku tidak akan membenci dan membuangnya karena aku ingin dia hidup lebih baik. Walaupun ini adalah karena pria itu akan tetapi tetap saja ini darah daging ku."
Amor mengusap perutnya yang semakin membuncit. Wanita itu menarik napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Sedikit demi sedikit senyum nya yah dulu mulai kembali lagi.
"Bantu aku keluar rumah, aku ingin melihat pemandangan siang ini."
Pelayannya itu pun dengan sigap membawa Amor ke luar dari kamarnya. Ia menjaganya dengan sangat baik. Amor juga tahu akan hal itu, namun tetap saja ia tak percaya dengan pelayannya itu karena Amor tahu bahwa dia adalah salah satu orang Liam.
__ADS_1
Ia tak akan berhubungan lebih jauh lagi dengan orang-orangnya Liam karena hidup mereka hanya untuk memata-matai dirinya. Ia tak ingin menjadi orang yang masuk dalam jebakan Liam.
"Nona, Anda harus berjalan lebih hati-hati. Tuan pasti akan marah kepada saya karena tidak bisa menjaga Nona dengan baik." Lihatlah betapa setianya seorang pelayan itu kepada Liam. Lantas kenapa ia harus terpengaruh oleh kebaikan yang diberikan oleh pelayannya tersebut.
"Kau begitu sangat setia kepada-nya." Amor tersenyum getir karena selama ini ia hanya mendapatkan kebaikan Liam pada saat ia sedang mengandung saja. Sebelum-sebelumnya laki-laki tersebut bersikap sangat kasar kepadanya.
"Karena Tuan sudah menyelamatkan hidup saya."
Amor menganggukkan kepala. Semua orang memandang dengan cara yang berbeda. Namun Amor tidak akan pernah memandang Liam dengan cara seperti pelayannya itu.
"Dia tidak pernah menyelamatkan hidup ku."
Pelayannya tersebut tak banyak bicara lagi dan malah menundukkan kepalanya karena benar-benar merasa sangat bersalah kepada Amor.
Amor meneteskan air matanya saking tak sanggupnya. Wanita itu berusaha menelan ludahnya dengan susah payah.
"Apa aku harus menderita saja di dunia?"
"Kau salah, kau hadir membawa penerang hagi kehidupan seseorang," ucap suara berat yang berada di belakangnya.
Amor tertawa getir, mentertawakan nasib yang sangat malang ini.
"Sayangnya itu hanyalah sebuah perkataan bohong belaka."
___________
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.
__ADS_1