
Amor menghampiri Liam yang saat ini tengah sibuk bekerja. Wanita itu tak perlu sungkan lagi untuk mengacau Liam.
"Liam, apakah kau sedang sibuk?" Liam mengangkat kepalanya dan melirik ke arah dirinya.
Laki-laki itu cukup lama memandangnya. Amor memberikan senyum miring di pipinya dan itu sangat terlihat jelas oleh Liam.
"Ada apa denganmu? Kenapa kau tiba-tiba berdandan seperti itu?" tanya Liam yang langsung menutup laptopnya.
Amar menggelengkan kepalanya bahwa ia tiba-tiba berdandan seperti itu bukanlah apa-apa dan hanya ingin saja.
"Apakah aku tidak boleh berdandan seperti ini? Aku hanya menginginkannya saja, dan tidak lebih dari itu," kemudian menghampiri diam dan duduk di pangkuan laki-laki itu.
Liam tersenyum melihat sifat manja Amor yang keluar. Jujur saja ia adalah orang yang sangat senang jika Amor akan manja seperti ini. Padahal Liam sendiri tahu bahwa ada sesuatu dibalik semua yang dilakukan oleh Amor.
"Apakah kau sudah tahu apa kesalahan mu?"
"Memangnya apa salah ku? Aku duduk di pangkuan suami ku dan itu salah?" tantang Amor dan menatap tajam mata Liam dari jarak yang sangat dekat.
Liam keras jika wajahnya sedang merona ketika bertatapan seperti itu dengan Amor dan terlebih sangat dekat lagi.
"Amor, apa yang harus aku katakan kepada mu ya, akan tetapi saat ini aku merasa cukup lelah dan tidak ingin bermain-main dengan mu. Jika kau ingin sesuatu maka kau harus katakan sekarang."
Amor yang wajahnya penuh dengan senyuman tiba-tiba langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Wanita itu menghembuskan napasnya last dan tertawa getir.
"Kau selalu menyadari keanehan pada diri ku ya."
"Karena terlihat jelas."
Amor memandang ke arah pria itu dan kemudian menatapnya putus asa.
"Apakah sejelas itu?"
Liam pun menganggukan kepalanya tanpa sungkan. Wanita itu langsung beranjak dari pangkuan Liam, namun tiba-tiba Liam langsung meraih pinggangnya dan membuatnya duduk kembali.
"Liam!"
"Amor, apa yang harus aku katakan kepadamu agar kau bisa menyerah."
"Katakan semua rahasia mu dan bagaimana keluarga ku membantai keluarga mu sehingga membuat mu sampai semarah ini dan selalu ingin balas dendam."
Liam menghela napas panjang dan itu artinya ia akan membuka luka lama lagi. Tapi tidak masalah, pria tersebut mengambil foto dirinya saat kecil.
"Apakah kau pernah melihat foto anak ini? Jika kau pernah melihatnya kau langsung tau alasannya."
Amor mengambil foto tersebut dan menatapnya dengan sangat serius. Ia seperti pernah melihat foto tersebut namun entah di mana. Tiba-tiba Amor tidak bisa mengingatnya.
"Aku seperti pernah melihat foto itu. Tapi aku melupakan melihatnya di mana."
__ADS_1
Liam pun menganggukkan kepalanya dan meraih kota itu kembali dan menyimpannya. "Kau hanya bisa melihat foto itu sebentar, aku tak ada akan membiarkan siapapun melihat foto itu lagi. Karena itu akan membahayakan mu dan juga aku." Liam meletakkan dagunya di pundak Amor. Ia memejamkan matanya dan menikmati setiap sensasi yang diberikan oleh Amor.
"Kau adalah satu-satunya wanita yang membuat ku ingin selalu menjaganya. Mungkin karena aku sudah merawatmu dari kecil. Aku menyayangimu namun aku juga tidak mengerti rasa sayangku sepertimu seperti apa. Apakah sebagai kerabat atau sebagai wanitaku."
Liam terlalu terus terang, yang menjadi tidak enak adalah Amor. Wanita itu mengalami nafas panjang dan kemudian tersenyum tipis.
"Kenapa kau blak-blakan sekali mengatakannya? Aku bahkan tidak ingin mendengarnya." Entah kenapa Amor mendengar itu sangat jijik.
Liam mendekatkan wajahnya sehingga mereka pun saling bertautan dan ia menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh Liam. Ia tak sabar ingin menerkam Amor dan membuatnya tak berdaya.
Namun sebelum itu ia pun menjauhkan pisau yang tersembunyi di balik kantong baju Amor.
Ia menatap pisau itu sementara Amor tercekat dan wajahnya pucat melihat pisau tersebut berada di tangan Liam. Liam menyeringai dan membuang pisau itu.
"Kau tahu caranya bagaimana dihukum dengan sangat kasar. Padahal mengingat mu sedang hamil aku ingin berbaik hati."
"Lakukanlah hingga aku tidak ada di dunia ini lagi."
"Jangan harap," bisik Liam dan kemudian menyerbu tubuh Amor.
________
Amor menatap tubuhnya ke dalam kaca kamar mandi. Ia sangat jijik dengan tanda merah yang bertebaran di area dadanya. Wanita itu berusaha menggosoknya untuk menghilangkannya. Tapi siapa sangka itu akan semakin membuat dadanya merah.
"Ada apa dengan mu? Kau tampaknya sangat tersiksa sekali hari ini?" monolog Amora menatap dirinya yang ada di dalam kaca.
Ia menganggap ada dua jiwa di sana dan orang yang ada di dalam kaca tersebut sangatlah menyedihkan karena kondisinya yang terlihat parah.
Amor meneteskan air matanya dan menahan rasa benci kepada diri sendiri yang sangat tidak fokus itu. Apakah ia tak memiliki rencana yang saat matang sehingga membuatnya selalu saja kalah.
Tok
Tok
Tok
Amor menghela napas panjang dan membuka pintu kamar mandinya dan memandang ke arah Liam yang berdiri di depannya. Amor pun hendak menutup pintu itu kembali karena sangat marah dengan Liam.
"Apa yang kau lakukan? Aku belum sempat berbicara dengan mu." Liam menahan pintu tersebut dan membukanya dengan lebar.
Ia meraih tubuh Amor yang sangat lemah itu dan memeluknya.
"Maafkan aku terlalu kasar dan membuat mu tersakiti lagi."
"Apa lagi?" tanya wanita pada laki-laki itu. "Aku ingin sendiri, saat kau sudah melakukannya baru kau mengerti dengan kata maaf, namun sebelum kau melakukannya ke mana otak dan pikiran mu? Apakah aku sebodoh itu hingga bisa diperlakukan seenaknya oleh mu?"
"Aku akan membawa mu ke rumah sakit. Aku tak ingin terjadi sesuatu kepada anak ku.'' Berdebat dengan Liam bukanlah perkara yang bagus jadi Amor hanya akan menuruti setipa perkataan dari pria tersebut.
__ADS_1
__________
Amor menatap ke arah dokter yang sedang meng USG kandungannya. Terlihat jelas ada kekhawatiran yang sangat dalam pada diri dokter itu.
"Dok ada apa? Kenapa kau menunjukkan ekspresi seperti itu?" tanya Liam yang sangat marah kepada dokter wanita itu.
"Tenanglah, ini semua aku pikir akan baik-baik saja, namun memang kandungannya sangat lemah. Tenang saja aku akan memberikan obat penguat kandungan."
Liam menghela napas gusar dan melirik ke arah Amor penuh maaf. Amor hanya bergidik bahu dan seakan tidak peduli dengan pria tersebut.
"Seharusnya kau sudah mengerti dengan semua ini, tapi kau melakukannya sendiri." Pada akhirnya Amor memiliki alasan untuk menyindir Liam. "Sebegitu kau sangat menyayangi anak ini?"
"Tentu saja aku sangat menyayanginya karena dia adalah darah daging ku," ucap Liam kepada Amor.
Amor sendiri tidak seprotektif itu kepada anak. Namun dilihat-lihat tampaknya Liam memang sangat menyukai anak kecil.
Terdapat kebahagiaannya sendiri ketika melihat Liam yang sangat peduli kepada anaknya. Setidaknya pria itu tidak memikirkan cara untuk menggugurkan kandungannya dan menelantarkan anak mereka nanti.
Tapi tekad Amor tetaplah sangat kuat, iya tetap akan menitipkan anak tersebut ke panti asuhan walaupun Amor tidak mendapatkan persetujuan dari Liam.
"Pergilah ke tempat dokter dan tanyakan apa yang harus aku lakukan agar anak ini tumbuh dengan sehat di dalam kandungan ku."
Liam menganggukan kepalanya dan mengikuti ke dokter ke ruangannya. Setelah dokter itu dan Liam pergi barulah Amora bisa menarik nafas dengan bebas sekarang. Wanita itu terdiam dan memandang ke arah depan dengan pandangan dingin.
"Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku akan menjadi orang bodoh yang tidak berguna di sini?" tanya Amor kepada dirinya sendiri dan kemudian tertawa.
Decitan pintu membuat Amor berhenti dengan pikirannya yang tidak jelas dan memandang ke arah Liam yang menghampirinya.
"Kita sudah boleh pulang. Apakah kau perlu bantuan ku?" tanya Liam saat melihat Amor kesulitan untuk mengangkat tubuhnya.
"Tidak per..." Liam dengan sigap menahan tubuh Amor yang hendak terjatuh.
"Kau pandai sekali berakting dan untungnya aku segera tersadar dengan apa yang kau lakukan ini. Jika tidak ini akan bahaya bagi tubuh mu."
Amor tidak mengalihkan pandangannya dari Liam yang terus saja mengomelinya. Ia merasa tertarik dengan cara pria itu kepadanya.
"Liam."
"Hm?"
"Apakah aku masih bisa bertahan hidup?"
"Tentu saja. Kau harus hidup demi ayah mu dan juga anak ini. Kau tidak boleh membuatnya terlantar karena dia adalah anak yang tidak tahu apapun. Apalagi ada orang yang sangat berharap kau tetap hidup untuknya."
Amor memejamkan matanya dan membiarkan Liam mengangkat tubuhnya. Benarkah ada orang lain yang berharap ia tetap hidup? Siapakah orang itu?
_______
__ADS_1
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.