
Liam terus mengawasi pergerakan Oliver. Sampai sekarang ia berusaha untuk mencari tahu di mana keberadaan Oliver. Salah dirinya yang sempat meremehkan pria itu dan bahkan ia sama sekali sampai sekarang belum menemukan jejak laki-laki tersebut.
Menangani Oliver rupanya tidak segampang itu, Liam berusaha mati-matian menaruhkan segalanya agar bisa menemukan Oliver dan menangkap pria itu sebagai tersangka pembunuhan keluarganya sendiri. Walaupun hal tersebut cukup kejam bagi Oliver namun itu lebih baik untuk dirinya daripada ia membunuh laki-laki itu.
Dari tadi Liam sama sekali tidak bisa tidur. Pria itu terus bekerja dan bekerja untuk mengurus perusahaannya yang baru yang mendapatkan pertentangan di masyarakat. Liam tidak akan secepat itu menguak siapa dirinya. Ia masih memiliki banyak pertimbangan.
"Tuan, apakah kau masih dengan pendirianmu? Terkadang lebih baik kau mengungkapkan identitasmu sebenarnya kepada publik agar publik tidak semakin liar." Youvie berusaha memberikan saran terbaiknya untuk sang atasan.
"Apakah menurutmu segampang itu? Jika bisa aku pasti akan melakukannya. Terlebih lagi nanti masyarakat akan semakin simpang siur dan mengatakan aku telah membunuh tuan muda Alexander karena ingin membalas dendam," ucap Liam seraya mengusap keningnya.
"Kenapa Anda sangat takut sekali? Kau tenang saja semuanya pasti akan baik-baik saja karena aku bisa menjaminnya. Terlebih lagi publik tidak akan tahu bahwa orang yang melakukan pembunuhan kepada orang tuamu adalah tuan muda Alexander sendiri. Jadi apa yang perlu kau takuti dari kasus ini." Lia pun berpikir sejenak.
Pria tersebut sangat fokus. Bener apa yang dikatakan oleh Yovie, bahwasanya publik tidak akan tahu siapa dalang dari orang tuanya. Jadi ia tak perlu takut untuk ketahuan.
Laki-laki tersebut tersenyum miring. Ia sangat beruntung sekali memiliki pengawal yang sangat cerdas. Setidaknya pria itu bisa mengurangi bebannya sedikit. Ia menatap ke arah Youvie dengan pandangan bangga. Setidaknya ia harus mencobanya dahulu dan jika gagal itu adalah urusan belakangan.
Berdiri dari tempat duduknya dan kemudian menghampiri Yovie. Ia pun memukul beberapa kali pundak laki-laki tersebut sebelum meninggalkan ruangannya.
Youvie merasa sangat terhormat dan pria itu menundukkan kepalanya ketika Liam melewati dirinya. Ia lantas langsung membersihkan tempat kerja Liam tersebut.
"Bagaimanapun dunia akan menghakimimu, kau berhak mendapatkan keadilan Tuan. Selama ini kau cukup menderita di luar sana, Selain itu kaulah yang menolong diriku. Jadi sudah sepantasnya aku melakukan hal yang terbaik untukmu."
Youvie sangat setia kepada Liam dan iam rela melakukan apapun demi pria itu. Mungkin karena balas budi makannya ia melakukan hal tersebut.
Sementara itu Liam berjalan ke arah kamarnya. Sebelum itu pria tersebut menatap ke arjoli yang terpasang di tangannya. Hari sudah pukul 01.00 pagi dan itu artinya istrinya telah tidur. Liam menguap dan menutup mulutnya, sepertinya ia sendiri sudah sangat mengantuk.
Laki-laki itu memutuskan untuk ke kamar dan menyusul Amor ke dunia mimpi. Ketika telah sampai di depan kamarnya, laki-laki itu mengurutkan keningnya ketika melihat pintu terbuka.
__ADS_1
Ia pun mendorong pintu tersebut dan membukanya lebar. Liam tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang, istrinya tersebut masih saja belum tidur dan tengah mengerjakan tugas-tugas sekolah yang ia berikan. Padahal Liam sama sekali tidak berharap bahwa tugas sekolah itu akan membebani Amor sehingga wanita itu sampai tidak tidur.
Ia pun menghampiri wanita tersebut dan duduk di sampingnya. Amor cukup terkejut mengetahui Liam telah kembali. Kemudian ia pun berusaha untuk menghindar dari laki-laki itu sebelum ia dimarahi habis-habisan.
"Kenapa kau belum tidur? Apakah kau mencari sakit karena belum tidur sampai sekarang? Kau adalah wanita hamil dan kehamilanmu semakin membesar, sekarang kau tidak bisa melakukan apapun selain banyak berisitirahat. Jangan terlalu memaksakan diri, aku tidak senang kau melakukan itu." Amor sangat mengerti sekali dengan perasaan Liam tersebut. Tapi entah kenapa tadi tangannya sangat gatal untuk mengerjakan soal-soal berat yang menjadi tantangan untuk dirinya tersebut. Itu menjadi sensasi yang sangat luar biasa untuknya, makanya Ia melakukan hal tersebut.
"Bukan seperti itu. Kau tidak mengerti sama sekali. Aku tidak ada berniat ingin menyiksa diriku sendiri tapi aku sangat penasaran dengan jawabannya. Lagi pula aku sama sekali tidak mengantuk Jadi untuk apa aku tidur."
Liam memprototi Amor yang terus melawan dirinya tersebut. Laki-laki itu kemudian menarik wajah Amor dan memberikan ciuman kasar kepada wanita itu.
Amor terkejut dengan ciuman yang tiba-tiba itu. Refleks wanita itu langsung memukul dada Liam dengan cukup keras.
"Apa-apaan kau ini!"
"Itu adalah hukumanmu."
Liam menyipitkan matanya melihat Amor yang diam-diam tersenyum. Ia mengangkat dagu wanita itu dan menyuruh mata Amor menatap matanya.
"Ada apa denganmu? Kenapa kau tiba-tiba tersenyum sendiri?"
Amor menjauhkan tangan Liam dari dagunya dan kemudian membuang wajahnya yang sudah memerah. Tidak tahu seperti apa perasaannya sekarang tapi tampaknya ia telah jatuh cinta kepada pria tersebut.
__________
"Selamat pagi?"
Amor mengusap kepala suaminya tersebut yang masih terlelap. Laki-laki itu tiba-tiba langsung terbangun mendengar suara istrinya yang menyapanya.
__ADS_1
Perlahan Ia membuka matanya dan melirik ke arah istrinya tersebut. Kemudian ia tersenyum lebar ke arah sang istri dan lalu ia langsung memeluk tubuh Amor snehan cukup keras.
"Aku benar-benar mencintaimu. Sedetik pun rasa cintaku tidak akan pernah luntur. Hanya kau yang ada di hati ku," ucap wanita tersebut dan ucapannya benar-benar sangat tulus.
"Pagi-pagi jangan membuatku salting." Rupanya Liam juga bisa salting. Amor baru tahu dan kedengarannya ini sangat lucu, melihat laki-laki itu yang sangat manja pagi ini dengannya saja membuat hatinya berdetak lebih kencang dari sebelumnya.
Amor membalas pelukan liang dan kemudian mengusap pundak laki-laki tersebut. Siapa sangka jodohnya bukanlah orang lain akan tetapi bodyguard-nya sendiri. Bodyguardnya itu akan menjadi penjaganya seumur hidupnya.
Lia pun perlahan lepaskan pelukan itu dan merubah posisinya menjadi duduk. Kemudian ia menarik tangan Amor membantu wanita itu untuk duduk. Ia meletakkan tangannya di atas perut buncit Amor dan kemudian mengusapnya dengan perlahan.
"Anak Papa sehat-sehat di sana, jangan menyusahkan mama mu jika kau ingin hidup lebih tenang."
Sontak Amor langsung membulatkan matanya mendengar ancaman yang diberikan oleh Liam tersebut. Padahal anak itu juga belum lahir dan berani-beraninya Liam mengancamnya di depannya.
"Apa-apaan maksudmu ini? Kau jangan membuatku darah tinggi."
Liam hanya terkekeh kecil dan kemudian mengangkat tubuh Amor dan membawanya ke kamar mandi.
"Tidak usah dipikirkan mending kita mandi bersama saja!"
"Kau bodoh aku tidak mau! Aku tahu ujung-ujungnya seperti apa." Amor menghembuskan napas kesal. Ia tak akan pernah bisa lepas lagi dari pria ini saja terpaksa menyerahkan dirinya begitu saja.
_________
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.
__ADS_1