
Liam tersenyum lebar ke arah Amor yang saat ini hanya bisa terkurung di dalam kamarnya. Amor bukanlah targetnya dan mungkin dengan ini ia akan bisa melindungi Amor. Banyak hal yang tidak diketahui oleh Amor dan memang tida seharusnya wanita itu mengetahuinya.
Memang Amor tidak bisa ia tangani karena wanita itu yang terlalu liar. Tapi kali ini ia yakin bisa mengurung Amor dan menghentikan ruang gerak Amor.
"Amor. Apakah kah kau sudah mengerti dengan soal yang aku berikan tersebut?" Selain melatih kemampuan Amor, wanita itu juga dipaksa untuk mengerti di segala bidang mata pelajaran.
Memang Liam adalah anak yang sangat jenius dan mudah menguasai sesuatu. Ia akan membuat wanita itu menjadi lebih cerdas dari dirinya agar suatu hari nanti ketika ia telah hidup sendiri akan mulai paham mengenai kemampuan.
Amor memandang ke arah pria tersebut yang berada di belakangnya sedang mengawasinya belajar. Amor sendiri juga merupakan anak yang mudah dalam belajar sehingga ia pun sudah mengerti ketika dijelaskan oleh Liam.
Memang, Amor tergolong pintar karena ia selalu masuk dalam 5 besar. Hal itu cukup memuaskan untuk dirinya.
"Ya aku sudah paham," ucap wanita itu serah menarik nafas panjang.
Amor pun meninggalkan tempat belajarnya karena memang sudah waktunya ia berhenti belajar. Wanita itu melewati Liam dan pria itu menahan tangan Amor. Amor berhenti melangkah dan memandang ke arah Liam dengan tatapan bingung. Apakah ada yang salah dengannya? Bukannya iya sudah mengerjakan soal-soal tersebut dengan semaksimal mungkin dan ia sendiri yakin jawabannya adalah benar.
"Ada apa lagi kau menahanku?" Dari nada bicara yang dilontarkan oleh Amor terlihat jelas bahwa ada aura permusuhan yang sangat kental di antara mereka berdua.
"Jangan bersikap seperti itu kepada suamimu."
Amor pun mengerutkan keningnya ke bingung. Sejenak wanita itu menganggukkan kepalanya seolah-olah mengerti dengan ucapan Liam. Namun setelah itu ia pun pergi begitu saja.
Liam merasa dipermainkan oleh Amor. Ia pun menghampiri wanita tersebut dan kemudian langsung menyudutkannya di tembok. Amar terkejut dan memandang ke arah Liam dengan tatapan marah.
"Apa yang kau lakukan Liam? Tidak seharusnya kau melakukan ini kepadaku," ucap wanita tersebut dan kemudian merasakan degupan jantungnya semakin berpacu. Ia teringat kembali pada saat ia menyerahkan harta berharganya kepada pria itu. Setelah malam itu ia tidak lagi berhubungan dengan Liam, apakah kali ini pria itu ingin memintanya darinya.
"Liam ini tidak lucu."
"Tapi aku harus memberikan pelajaran kepadamu."
"Bukankah dari tadi aku terus belajar? Apalagi yang harus aku pelajari?"
"Kau harus mempelajari bagaimana menyenangkan suamimu."
Deg
Habislah dirinya. Pelajaran ini adalah pelajaran yang paling dihindari olehnya. Amor pun membuang wajahnya kesal.
__ADS_1
"Aku tidak perlu mempelajari itu. Kau sangat menyebalkan sekali. Ingat aku tidak pernah menganggapmu kau adalah suamiku."
"Tapi aku telah menganggapmu sebagai istriku," ucap Liam dengan sangat serius.
Amor pun memandang ke arah liang dengan tatapan tidak percaya. Apakah pria ini adalah seorang pedofil? Jelas-jelas ia masih di bawah umur.
"Kau benar-benar menakutkan Liam. Tidak cukupkah dengan mengurungku di dalam kamar ini dan menganggap aku gila tidakkah kau merasa puas?" tanya Amor dengan menggebu-gebu.
"Tentu saja aku tidak merasa puas dengan itu. Kau tahu sendiri bukan kepuasan pria itu dari mana?"
Dia pun langsung mencium bibir Amor dengan sangat kasar. Kemudian pria itu mengangkat tubuh Amor ke atas ranjang.
___________
Amar memandang ke arah ayahnya yang sudah dipindahkan ke rumahnya untuk menjalani perawatan di rumah. Ia bahagia bahwa Liam tidak menargetkan ayahnya.
Ayahnya sudah membuka mata dan bahkan ia kadang tersenyum melihat putri kecilnya sudah semakin besar. Melihat hal tersebut membuatnya sangat bahagia dan ingin cepat sembuh dari penyakitnya.
"Papa, lihatlah aku membawakan bunga mawar kesukaanmu."
Tapi ia tidak mengatakan bahwa Liam yang telah membunuh keluarganya. Amor takut jika ayahnya akan segerakan jantung dan itu akan berakibat fatal pada kesehatan sang ayah.
Sedang asyik mengobrol dengan ayahnya tersebut tiba-tiba Liam datang dan menghampiri mereka. Amar memandang ke arah ayahnya yang tampak sedikit berbeda saat melihat Liam.
Amor yang menganggap bahwa itu adalah tanda bahaya lantas mengintimidasi Liam. Ia sengaja mengusir Liam agar tidak membuat ayahnya ketakutan.
"Liam, keluarlah dari sini. Ayahku tidak menyukaimu. Berhentilah bermimpi seolah-olah orang peduli denganmu."
Dia pun tidak mengeluarkan suara apapun akan tetapi ia pergi menuruti perintah Amor. Amor bersyukur kali ini dia mau mendengarkan ucapannya. Ia pikir laki-laki tersebut tidak akan mendengarkan apa yang ia katakan.
Amor pun membersihkan kamar ayahnya lalu kemudian pergi dari dalam kamar tersebut. Ia meminta agar suster menjaga sang ayah dengan sebaik-baiknya.
Pada saat di luar ruangan tersebut, Amor melihat Liam yang sedang menunggunya.
"Apakah ada yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Amor kepada laki-laki tersebut.
Akan tetapi tampaknya Liam tidak ingin mengeluarkan sepatah kata pun. Ia menarik pinggang Amor dan itu membuat wanita itu tersentak.
__ADS_1
"Aku hanya ingin memelukmu."
Kenapa Liam tiba-tiba sangat berubah seperti ini? Pria itu juga sangat lemah.
"Terima kasih."
"Buat?"
Liam hanya tersenyum masam dan tidak menjawab pertanyaan Amor. Amor merasakan degupan jantungnya berbeda kali ini.
Liam yang saat ini juga bukan seperti Liam yang ia kenal.
"Kenapa kau tiba-tiba berubah?"
"Aku tidak berubah sama sekali hanya kau yang tidak menyadari ini. Aku memang dari dulu sangat peduli denganmu Tapi kau selalu menganggapku adalah musuhmu."
Memang benar ia selama ini menganggap Liam sebagai musuhnya. Ia menganggap seperti itu karena memang Liam adalah musuhnya.
"Wajar saja aku menganggapmu seperti itu. Karena kau memanglah musuhku."
Amor menarik nafas panjang dan kemudian menjauhkan tubuh Liam yang tengah memeluknya. Kemudian ia pun meninggalkan pria tersebut begitu saja.
"Aku masih banyak urusan."
Liam memandang dari belakang Amor dengan tatapan kosong. Setelah itu barulah ia masuk ke dalam kamar tuan muda Karel untuk memastikan keadaan pria itu.
Tuan muda Karel terkejut melihat Liam walaupun kali ini pria itu tidak menunjukkan wajahnya. Mengenai bayang-bayang masa lalu membuatnya merasa terganggu.
"Aku kembali, apakah kau senang?"
Karel tercekat dan ia tak bisa bergerak sama sekali dan hanya membiarkan Liam yang semakin mendekat.
__________
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.
__ADS_1