
Amor menatap sendu ke arah polisi yang sedang mengintrogasinya tersebut. Sudah 5 jam lebih Amora sama sekali tidak berbicara dan tidak ingin menjawab segala pertanyaan yang dilontarkan oleh para polisi tersebut.
Karena menurutnya sangat percuma sebab tidak ada yang berusaha mencarikan keadilan untuknya dan terus mendakwa bahwa ialah yang salah. Seharusnya mereka tahu kenapa Amar melakukan hal tersebut. Tapi adakah yang peduli dengan alasannya melakukan itu.
"Amora, jika kau benar-benar tidak bersalah seharusnya kau mengatakannya."
Ucapan para polisi kali ini membuatnya sangat tertarik. Wanita itu lantas memandang ke arah polisi tersebut dengan tatapan meremehkan.
"Apakah kalian sedang mengatakan bahwa aku bisa saja tidak menjadi seorang tersangka? Tidak perlu lagi kalian mengintrogasiku karena semuanya sudah jelas. Kau bisa melihat dari CCTV bahwa akulah yang menusuknya. Kau bisa bertanya kepada Liam bahwa aku jugalah yang menusuknya." Menurutnya mereka sudah mengetahui siapa yang melakukannya tapi masih saja bertanya.
"Lalu apa alasanmu melakukannya?"
Kali ini Amor sama sekali tidak ingin berbicara. Karena menurutnya tidak perlu menjawab alasannya. Amor juga tidak ingin menjelaskan yang membuat mereka tidak akan percaya. Yang ada malah dirinya ditetapkan sebagai tersangka dan dianggap gila.
Melihat Amora yang sama sekali tidak ingin menjawab apapun, mereka pun saling bertatapan sesama polisi. Seperti tengah mendiskusikan sesuatu. Sama sekali tidak peduli dan malah mendecih. Mereka benar-benar hebat.
"Apakah kau sudah melakukan tes narkoba?" tanya salah satu ketua polisi kepada anggotanya.
Polisi wanita tersebut menarik nafas panjang dan kemudian menatap ke arah ponselnya.
"Dokter sudah melakukan tes narkoba. Tampaknya sebentar lagi ia akan datang ke sini dan membawakan hasilnya."
Tak lama pintu ruangan itu pun terbuka dan masuklah seorang dokter yang menyerahkan hasil tes narkoba milik Amor.
__ADS_1
"Ini adalah rincian tes narkobanya, tampaknya dia sama sekali tidak menggunakan narkotika. Hanya saja dia menggunakan obat tidur dan penenang."
Para polisi itu pun terkejut dan memandang ke arah Amor. Amar bersikap acuh tak acuh ketika semua polisi memandang ke arah dirinya.
"Mengapa kau mengonsumsi obat tidur dan penenang?" tanya polisi tersebut dan Amor tetap bisu.
Terdengar helaan nafas yang sangat panjang dari para polisi itu ketika Amor lagi-lagi diam. Mereka pun saling berpandangan dan kembali berdiskusi.
"Kami sudah lelah mengintrogasinya karena ia tidak ingin menjawabnya sama sekali. Apakah kau pikir dia benar-benar mengalami masalah psikologis?"
"Beberapa bulan yang lalu dokter mengkonfirmasi bahwa ia pernah dirawat di rumah sakit jiwa. Dia juga pernah tertembak Saat ingin melakukan wawancara mengenai keluarganya yang semuanya terbantai. Menurutku wajar saja jika dia mengkonsumsi obat tidur dan penenang, pasti paska tragedi itu Amora terganggu mentalnya sehingga ia pun pernah gangguan jiwa," jelas polisi lahirnya kepada sang ketua.
Ketua dari polisi tersebut tampak sedang berpikir keras. Laki-laki itu menyentuh keningnya dan menatap tajam ke arah Amor seraya menyelidiki wanita itu. Amar sama sekali tidak memiliki kehidupan dan pandangannya sangat kosong. Benarkah ia masih remaja? Kenapa ketika ingin memasuki usia dewasa segala sesuatu menjadi sangat berat.
"Jadi menurutmu apakah dia sedang kambuh dan gangguan jiwa sehingga menusuk Liam."
Ketua dari polisi tersebut menetap ke arah anggotanya dengan tatapan tajam. Ia menggenggam tangannya dengan sangat erat dan memperhatikan Amora dengan sangat seksama.
"Jadi menurutmu Liam lah yang membantai keluargamu? Bukankah dia adalah Bodyguard mu yang menyelamatkanmu saat kau kecil. Dia jugalah yang merawatmu jadi apa alasanmu mengatakan bahwa dialah yang telah membantai keluargamu?"
Kali ini Amora tertarik dengan pembicaraan tersebut. Ia memandang ke arah ketua polisi itu dengan tatapan yang sangat mematikan.
"Aku mengatakan yang sebenarnya, karena aku ada di tempat kejadian itu dan melihat bahwa Liam lah yang telah membunuh keluargaku. Jadi kenapa kalian harus bertanya dan tidak menyelidikinya, dari dulu kalian tidak pernah peduli dengan kasus keluargaku yang dibantai. Jika bukan Liam siapa yang menjadi tersangka? Apa kerja kalian selama ini? Bahkan kalian tidak bisa mengatakan bagaimana keluargaku bisa mendapatkan keadilan. Sementara itu pembunuhnya masih berkeliaran di luar sana."
__ADS_1
Polisi itu pun balas menatap Amor. Ia mendekati Amor dan wajahnya yang serius tiba-tiba tertawa gelak. Amor yang melihat bahwa polisi itu yang meremehkannya pun membuang wajahnya dengan melayangkan tatapan benci.
"Kau sangat berlebihan sekali Amora. Tadi kau bertanya jika bukan Liam pelakunya maka siapa yang menjadi tersangka? Untuk saat ini yang menjadi tersangka adalah dirimu." Perkataan itu meluncur begitu saja sehingga membuat ledakan yang sangat besar bagi Amor.
Amor awalnya yang tidak Sudi menetapkan arah ketua polisi itu pun memandang tajam. Nafasnya tersengal-sengal menunjukkan bahwa saat ini ia benar-benar sangat emosi.
"Apa maksud dari ucapanmu itu? Kau seorang polisi jadi kau tidak bisa menuduh orang sembarangan!! Katakan dengan jelas, aku adalah seorang tersangka? Apakah kalian semua sudah gila? Jika aku tersangka apa motif ku?"
Amor tidak terima bahwa dirinya diduga sebagai tersangka. Dicap sebagai pembunuh keluarganya itu adalah penghinaan yang sangat besar baginya.
"Motifnya hanya kau yang sendiri yang tahu. Liam masih berbaik hati karena masih melindungimu. Namun kali ini kau sudah berada di luar batas, tidak peduli kau pernah menjalani spesialis jiwa. Untuk saat ini kau akan mendekam di penjara."
Amor pun langsung mengepalkan tangannya dengan sangat erat. Wanita itu berdiri dari kursinya dan memukul sisi kursi dengan sangat keras.
"BODOH! KALIAN SEMUA TELAH DIBODOHI. BERAPA LIAM TELAH MEMBAYAR KALIAN? KALIAN SEMUA HANYA MEMBUTUHKAN UANG DAN UANG. AKU TAHU BAHWA KAU SUDAH DISOGOK OLEH LIAM, MAKANYA KAU SAMPAI MENGATAKAN INI DI HADAPANKU! AKU SAMA SEKALI TIDAK PEDULI BAGAIMANA TANGGAPAN ORANG LAIN, MENJADI TERSANGKA SEBAGAI PEMBUNUH KELUARGAKU ITU ADALAH FITNAH YANG PALING KEJI UNTUK KU."
Amora yang sudah tidak terkendalikan tersebut lantas ditenangkan oleh polisi dan kembali diborgol untuk dibawa ke selnya. Ah marah hanya diam dan membiarkan tubuhnya di arak ke arah penjara. Mereka benar-benar bukan seperti seorang polisi. Tapi mengingat bahwa mereka telah disogok maka tidak ada yang mengherankan lagi.
"Kau benar-benar hebat Liam, semua orang saat ini teman berpihak dengan mu," ucap Amor dalam hati.
Ia memejamkan matanya dan membiarkan air matanya luruh.
__________
__ADS_1
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.