
Ingin melarang dirinya ya? Sayangnya itu tidak akan pernah terjadi karena Amor memiliki seribu cara walaupun sudah dikurung. Ia akan datang ke sekolah hari ini juga. Jujur saja ia baik-baik saja dan ia ingin bersekolah lagi dan bukan berpura-pura terganggu psikologis hingga harus mendekam di dalam kamar. Sama sekali ia tidak seperti itu. Wanita tersebut pun menahan napasnya saat merasa aksinya yang ia lakukan ini sangat nekat.
Sudah berada di dalam mode yang sangat bahaya kenapa pula ia harus tetap bertahan hidup di lingkaran yang seperti itu? Hanya menunggu takdir yang tak berpihak kepadanya. Amor tidak akan mau.
Perempuan tersebut memberanikan diri untuk meloncat dari tembok yang sangat tinggi. Tembok itu berada di belakang rumahnya dan mungkin tidak akan ada yang menyangka dengan apa yang dilakukan oleh wanita itu. Memang Amor dikatakan orang yang paling nekat sejauh ini. Bahkan ia berani menaiki tembok yang sangat tinggi tersebut. Tapi ras takut dari semua itu tidak berarti ketika di depan mata hanyalah ada balas dendam dan juga rasa ingin kabur sejauh-jauhnya.
Amor menahan napasnya saat ia meloncat dan menutup matanya. Alhasil ia pun terjatuh ke tanah hingga membuat badannya terasa remuk semua. Ia berharap tidak akan cedera parah.
Setelah itu barulah Amor berlari sekencang-kencangnya dan melewati semak-semak. Ia berusaha mencapai jalan raya hingga pada akhirnya ia pun berhasil melakukan hal tersebut.
Melihat keberhasilan dirinya tersebut membuat Amor sangat bahagia. Mungkin ia akan bisa lepas dari sini selamanya, walaupun itu hanyalah sebuah angan semata tapi ia akan meyakinkan hal tersebut kepada dirinya agar bisa menjadi sebuah motivasi untuknya.
"Amor, kau yakin bisa. Kau tidak akan kalah dari pria itu. Kau harus keluar dari rumah yang berpenghuni toxic sepertinya. Memaksa ku menikah? Sampai kapan pun aku tak akan menikah dengan pria bertopeng dan buruk rupa sepertinya."
Amor kemudian naik ke dalam taksi yang sudah ia pesan. Kemudian wanita itu meminta agar pengemudi tersebut menjalankan mobilnya dengan sangat cepat.
Pasti ada CCTV dan pelariannya ini akan segera diketahui oleh Liam.
"Nona, apakah Anda adalah salah satu anggota yang selamat dari pembantaian di rumah itu?" Dalam keadaan panik tiba-tiba ada orang yang bertanya seperti itu kepadanya. Amor sampai terkejut untungnya ia bisa menahan perasannya itu.
"Ada apa? Ya benar aku berhasil selamat dal dua kali pembantaian. Mungkin ini adalah anugerah dari Tuhan aku sangat bersyukur dengan hal itu," ucap wanita tersebut seraya memberikan senyum palsu kepada sang supir.
Sang sopir melirik Amor melalui kaca mobil. Ia tahu jelas dengan ekspresi itu yang sama sekali tidak memberikan kepuasan kepada dirinya. Rasanya sangat sakit setipa kali mengingat apa yang terjadi di malam itu. Ia mengerti dengan apa yang dirasakan oleh Amor. Setelah melihat Amor secara langsung ia merasa kasihan kepada wanita itu akan tetapi media semakin liar dan berspekulasi yang tidak-tidak.
Dalam dua kali pembantaian ini tentunya menjadi tanda tanya bagi masyarakat kenapa hanya Amor lah yang selamat. Banyak yang menuduh bawa Amor salah satu pelakunya Apalagi setelah mereka mengetahui bahwa tuan muda karir memiliki anak angkat dan itu adalah dirinya. Banyak orang beranggapan bahwa dirinya sengaja membunuh keluarga besar tersebut untuk menguasai hartanya.
Tentunya hal itu sama sekali tidak seperti yang media katakan. Bahkan ia tidak pernah berencana ingin menghancurkan keluarganya sendiri dan membuatnya jatuh ke dalam dasar yang paling curam.
"Saya turut prihatin Nona," tutur sang sopir yang turut bersimpati. "Lebih baik Nona tidak membuka sosial media."
Amor pun terdiam dan ia memang sempat membaca berita tadi pagi bahwa banyak orang yang menuduh dirinya terlibat dalam pembantaian tersebut. Padahal ia sama sekali tidak ada dalam tragedi itu dan ia sendiri berharap bahwa pelakunya dapat ditangkap.
__ADS_1
"Kau sudah terlambat mengatakannya Pak, aku sudah melihat semuanya dan bagaimana media menuduhku. Maka dari itu aku ingin keluar dari rumah setelah dikurung, jika aku tidak selamat tolong bantu aku."
Sang sopir itu kaget saat mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Amor. Ketika mendengar ungkapan itu tentunya tanggung jawabnya semakin berat dan ia secara tidak langsung terlibat dalam kasus ini.
"Apa maksud Nona?"
"Bapak, aku tahu ketika aku keluar dari rumah itu tandanya aku telah berani melawan media tersebut. Mereka pasti tidak akan senang dengan tindakanku. Apalagi media mengatakan bahwa aku sengaja menyuruh Bodyguard ku untuk mengelola semuanya. Seakan-akan akulah pelakunya, tapi semua itu tidak seperti itu. Apakah bapak mempercayaiku?" tanya Amor yang berharap bahwa ada yang sepemikiran dengannya.
Tampaknya sang supir itu benar-benar kebingungan namun melihat betapa Amor sangat menyedihkan membuatnya sedikit percaya dengan ucapan wanita itu.
"Lalu apa yang Nona ingin lakukan?"
"Jika aku tertangkap oleh orang-orang itu yang melarangku untuk mengaku yang sebenarnya maka kau adalah juru kunci terakhirku. Orang yang telah membunuh keluargaku selama ini adalah Bodyguard ku, jadi ketika aku tertangkap katakan itu kepada polisi." Amor sangat berharap bahwa kali ini dirinya bisa terbantu. Memberikan pengakuan yang tidak pernah diharapkan tentunya akan membuat dirinya semakin terperosok jauh.
"Aku akan mengerti dengan keadaanmu," ucap laki-laki tersebut. Tapi rampak seperti ada keraguan yang sangat besar di wajahnya. Terlihat ia tengah menggigit bibirnya. Amor yang menyadari hal tersebut lantas menarik napas gusar. Apa yang harus ia lakukan? Perlahan semua orang tidak akan percaya dengan apa yang ia katakan dan kemudian ia akan menjadi objek hujatan. Bagaimana pun juga ia baru saja remaja dan baru memasuki usia 17 tahun, mentalnya belum benar-benar terbentuk.
"Apakah aku salah? Maafkan aku karena secara tidak langsung telah mengajak mu terlibat pada kasus ini. Bapak, memiliki keluarga sendiri dan entah kenapa bodohnya aku tidak sampai berpikir sejauh itu. Aku sangat berharap bahwa kau akan memaafkan kelancangan ku."
"Saya akan memenuhi permintaan nona, lagi pula saya sudah terlanjur terlibat dan saya akan berusaha untuk melindungi Nona asalkan nona tidak melupakan jasa saya dan malah menuduh saya. Saya harap apa yang Nona katakan adalah benar."
Ya itu juga yang diharapkan oleh Amor. Ia tak akan menghianati sang supir itu dan lagi pula ia sudah terlanjur membuat sang sopir terlibat pada kasusnya maka ia harus bisa membantu supir tersebut.
"Tenang saja saya akan memikirkan bagaimana caranya Paman tidak terlibat pada kasus ini," ucap wanita itu kepada sang supir. Ia berharap kali ini rencananya lari akan berhasil dan tidak akan dikekang oleh Liam. Ia harus mengaku kepada awak media. Agar sang supir juga tidak terlibat.
Amor takut setelah ia menceritakan kepada orang lain sehingga banyak orang yang mengetahui siapa pelaku sebenarnya maka akan berbahaya pula bagi orang tersebut. Dan bodohnya ia tanpa sadar menceritakannya kepada sang supir.
Akhirnya ia pun sampai di depan gerbang sekolahnya. Para wartawan sudah berkumpul di sana karena ingin mewawancarai para guru mereka mengenai dirinya. Mungkin tidak ada yang menyangka bahwa Amor kembali bersekolah. Pada saat Amor turun dari mobil itu banyak yang belum menyadarinya sehingga ada seseorang yang berteriak.
"Itu Amor!" Semua orang menatap ke arah dirinya dan Amor hanya memandang para wartawan yang mulai menghampirinya tersebut dengan tatapan bengong. Seperti inikah dikejar-kejar oleh para wartawan? Memang rasanya sangat berbeda Amor pun berusaha untuk terlihat normal dan memberikan senyum manis miliknya.
Ingat kedatangannya ke sini adalah untuk mengakui siapa yang telah membunuh keluarganya.
__ADS_1
"Amor! Apakah kau bisa bercerita kepada kami bagaimana peristiwa itu berlangsung?"
Amor menatap darah para wartawan yang berserobot ingin menanyai dirinya. Jujur saja saat ini Amar benar-benar kebingungan dan wanita itu menggigit bibirnya dengan perasaan kalut. Tidak boleh takut karena ia harus melawan pria itu dan membalaskan semua dendamnya.
"Peristiwa itu berlangsung begitu saja aku juga kurang tahu karena aku berada di rumah sakit pada saat itu. Aku ingin pulang dari rumah sakit untuk mengambil beberapa tugas sekolahku. Pada saat aku pulang suasana rumah sudah berbeda, dia telah membunuh semua keluargaku."
Para wartawan itu pun langsung menatap ke arah Amor dengan tatapan serius.
"Siapakah dia? Apakah kau melihat pelakunya? Lantas kenapa kau terus berdiam diri dan tidak ingin ikut dengan polisi."
Amor pun menatap ke arah orang tersebut dan mengerutkan keningnya tak mengerti. Bahkan dirinya tak pernah sama sekali mengatakan hal tersebut dan jika polisi ingin membawanya sebagai saksi maka ia bersedia.
"Siapa yang mengatakan itu? Jelas-jelas di rumah aku dikurung oleh dia."
"Bodyguard Anda sendiri yang mengatakannya. Dia mewakili anda dan mengatakan bahwa Anda saat ini sedang dirawat di dalam rumah karena masalah psikologis sehingga tidak bisa ditemui."
"Benarkah seperti itu? Tapi aku tidak pernah mengatakannya."
"Lalu apakah anda melihat siapa yang membunuh keluarga Anda."
"Tentu saja," ucap Amor dengan perasaan yang tiba-tiba sangat gugup.
"Lantas siapa orangnya?"
"Dia adalah...."
Amor membulatkan matanya dan wanita itu terdiam sejenak seraya merasakan aliran tubuhnya yang terhenti. Antara itu darah mencucur dari mulutnya. Ia baru saja tertembak.
_______
TBC
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.