
Amor perlahan membuka matanya dan kemudian ia mengucek matanya. Entah kenapa tubuhnya terasa sangat sakit dan wanita itu berusaha untuk menahan rasa sakit yang berpusat di bagian perutnya. Amor sangat yakin bahwa dirinya tidak sedang bermimpi.
Ia pun menyentuh perutnya dan kemudian menatap tangannya yang sudah penuh dengan darah. Amor pun lantas duduk di ranjangnya. Kemudian wanita tersebut menetap ke seluruh tubuhnya. Mata wanita itu langsung membulat seketika. Bagaimana mungkin tubuhnya sekarang sudah terbalut pakaian pengantin. Siapa yang telah melakukan hal tersebut kepada dirinya? Apa maksud dari semua ini.
Amor yang tengah panik tiba-tiba merasa kesakitan di area perutnya. Ia menatap ke arah perutnya tersebut dan menghela nafas saat melihat pakaian pengantinnya yang berwarna putih tersebut penuh dengan darah.
"Kenapa? Kenapa aku belum mati juga? Lebih baik aku mati saja,"ucap wanita itu yang sudah sangat putus asa dengan kehidupannya.
"Kau tidak akan bisa mati begitu saja, karena tubuhmu sangat berharga bagiku. Kau tidak akan bisa mati tanpa seizin ku." Amor menatap ke arah orang yang baru saja berbicara dengannya tersebut.
Wanita itu tercekat saat melihat orang yang berbicara dengannya itu adalah Liam. Buat apa pria tersebut datang ke sini. Bahkan untuk melihat wajahnya saja Amor sangat muak melihat pria tersebut.
"Kenapa kau lagi?" tanya Amor yang sudah sangat kesal sekali harus melihat pria tersebut. Padahal ia sudah sangat berharap bahwa dirinya tak akan melihat Liam untuk selama-lamanya.
"Amor, apakah kau sama sekali tak kerang berpikir bahwa diri ku ini sangat tidak bisa ditentang. Sementara kau sudah bermulut kasar kepadaku sangat lama. Memangnya aku akan memaafkanmu dengan mudah? Tidak akan semudah itu, apalagi saat ini kau adalah pengantinku maka dari itu takutnya kau tidak akan pernah lepas dariku."
Amor langsung tercengang mendengar pernyataan pria tersebut yang sangat tiba-tiba. Yang benar saja sekarang Ia adalah pengantin dari laki-laki mengerikan itu, Amor benar-benar tidak akan pernah sudi dan ia akan menuntut keadilan untuk dirinya sendiri.
"Apa maksudmu? Kenapa kau melakukan ini secara sepihak? Apakah kau sama sekali tidak pernah berpikir bahwa aku tidak akan pernah menyetujuinya?"
"Memangnya aku harus meminta pendapatmu? Kau bahkan sama sekali bukanlah orang penting untukku. Kau hanyalah bidak catur ku, maka dari itu jadilah orang yang patuh jika ingin hidupmu sejahtera."
Amor menggelengkan kepalanya. Selamanya hidupnya tidak akan pernah sejahtera. Ia sudah mati rasa sejak sekian lama, bahkan dirinya tak merasa hidup lagi setelah tragedi yang bertubi-tubi menimpa dirinya.
"Ada apa memangnya? Aku bahkan tidak akan pernah bisa mendapatkan kehidupan yang sejahtera itu. Karena aku tidak pantas untuk mendapatkannya."
__ADS_1
Seketika wajah Liam termenung seketika. Ia menarik nafas panjang seperti memikirkan sesuatu yang tidak bisa ditebak.
"Segera bersiap-siaplah karena acara akan dimulai."
Liam menatap ke arah para pelayan untuk membawa Amor keluar.
Sementara pria tersebut berjalan dengan langkah gontai. Sama seperti Amor, ia juga tidak akan pernah hidup dan merasa bahwa jiwanya telah mati semenjak kepergian orang tuanya dan ia tak bisa melindunginya sama sekali.
Sebenarnya Liam mengalami penderitaan yang sama dengan Amor. Pria itu juga ingin bawa Amor bisa merasakan apa yang telah dirasakannya selama ini. Ia sangat menderita dan bahkan tak bisa menyangkal bahwa ia telah tak bernyawa sejak lama.
______
Amor sama sekali tidak bisa bernapas dengan tenang. Saat ini dirinya telah resmi menjadi seorang istri bagi Liam. Hal yang benar-benar tidak disangka oleh wanita tersebut. Rupanya Orang yang akan menikahi dirinya adalah bodyguard-nya sendiri.
Mungkin ia terkejut akan tetapi sangat disayangkan Amor sama sekali tidak merasa bahagia dengan pernikahan ini. Ia merasa telah dipermainkan dan hidupnya benar-benar sengsara. Padahal Ia baru saja merasakan indahnya kehidupan dan dalam sekejap ia menjadi orang yang paling menyedihkan.
Membayangkan sang ayah membuat hati Amor sangat panas dan ingin membunuh orang yang telah mencelakai ayahnya tersebut. Ia pasti akan membunuh Liam dan para bawahannya tersebut. Sebenarnya apa motif Liam untuk melakukan semua ini? Apakah pria tersebut ingin merebut harta kekayaan milik ayahnya.
Tidak, tidak hanya harta kekayaan yang direbut oleh laki-laki tersebut. Ia juga merebut kehidupannya yang sejahtera dan bahkan menikahi dirinya. Padahal Ia hanyalah seorang pelajar dan ingin bersenang-senang dengan teman sebayanya. Tapi kenapa semua itu sangat sulit untuk ia dapatkan?
Amor menatap ke depan ke arah pria tersebut yang duduk di sofa sembari menghisap cerutunya. Tangan Amor terkepal dan seolah-olah hendak membunuhnya.
"Aku tidak akan memaafkan mu. Walaupun nyawa taruhan ku, aku pasti akan membunuh mu dengan tangan ku."
Liam yang merasa diperhatikan oleh Amor pun lantas menatap ke arah wanita tersebut. Ia memberikan smirk mematikan miliknya.
__ADS_1
"Simpan saja niat buruk mu itu di dalam benakmu, karena selamanya kau tidak akan pernah bisa mengalahkanku. Ingin membunuh ku? Lebih baik kau tidur terlebih dahulu dan bermimpilah bahwa di dalam mimpimu kau sedang membunuhku. Mungkin itu adalah hal yang lebih baik."
Amor menahan napasnya dan ia merasa heran dengan pria tersebut yang bisa saja menebak pikirannya.
"Kau memang sangat pintar Liam, bahkan kau dapat menebak dengan benar apa yang aku inginkan saat ini."
Lia menatap ke arah amar dan lalu kemudian ia beranjak dan menghampiri wanita itu perlahan-lahan.
"Karena itulah yang juga aku pikirkan saat berada di posisimu. Sekarang aku sudah membunuh mereka dengan tanganku sendiri."
Amor tercekat, apakah masalah hari ini karena ada sebuah dendam? Jika benar lantas dendam seperti apa yang membuat Liam melakukan sejauh ini.
"Jika keluargamu terbunuh kau tidak harus melakukan hal yang sama kepada keluarga orang lain."
"Nasehat mu sama sekali tidak berarti untukku, karena selamanya aku tidak akan pernah mendengarkan nasihat konyol seperti itu. Aku tidak pernah dibiarkan bahagia maka orang lain juga tidak bisa mendapatkan kebahagiaan itu."
Liam seakan menerawang ke masa lalu di mana dirinya pada saat itu masih kecil. Laki-laki itu terkekeh dan kemudian menahan nafasnya.
"Aku pasti akan membalaskan dendamku sama seperti kau membalaskan dendam mu."
Liam pun tanpa sadar tersenyum dan menghampiri wanita tersebut. Ia menepuk pundaknya beberapa kali.
"Bagus, aku akan menunggu balas dendammu."
________
__ADS_1
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.