
"Papa, aku datang lagi untuk mu," ucap Amor dengan perasaan senang. Ia harus berakting di depan ayahnya sebisa mungkin agar orang lain percaya bahwa ia baik-baik saja dan ayahnya tidak perlu mencemaskan dirinya yang mana itu akan berdampak buruk bagi kesehatan sang ayah.
Sang ayah yang mendengar cerita dari anaknya tersebut turut berbahagia terlihat dari senyuman di sisi wajahnya. Ayahnya mengalami stroke berat sehingga sukar untuk berat dan bahkan sampai sekarang ia masih belum bisa berbicara.
Liam yang melihat kondisi tuan muda Karel semakin membaik merasa lebih lega. Sementara itu Amor sangat ketakutan sekali bahwa Liam akan melakukan sesuatu yang buruk kepada ayahnya. Namun kekhawatirannya itu terus saja berlangsung sampai sekarang akan tetapi ia belum pernah melihat Liam yang berusaha menyakiti tuan muda Karel. Ini cukup membingungkan bagi Amor.
"Tuan muda Karel, aku sudah menikahi anakmu dan sekarang dia sedang mengandung anakku," tutur Liam dengan lancar tanpa khawatir sama sekali.
Sedangkan tuan muda Karel yang memiliki pendengaran masih bagus pun memandang ke arah anaknya dengan perlahan-lahan. Sungguh Ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Liam. Namun melihat bahwa Amor hanya menundukkan kepalanya dan tidak membantahnya sama sekali membuat tuan muda Karel sedikit terkejut.
Amor yang melihat reaksi ayahnya yang sangat syok berat itu sangat khawatir. Ia memandang ke arah Liam dengan perasaan marah. Kenapa Liam tetap mengatakannya padahal Ia sudah melarang pria itu karena khawatir dengan kondisi ayahnya.
Tuan muda Karel memandang ke arah Liam dengan sangat intens. Seperti ada amarah yang meletup-letup dalam dirinya dan ingin dicurahkan kepada Liam. Akan tetapi kondisi kesehatannya membuatnya sangat terbatas dan hanya bisa memandang tajam ke arah pria itu.
Liam hanya menundukkan kepalanya. Pria tersebut pun acuh tak acuh dengan peringatan yang diberikan oleh Tuan Muda Karel. Karena semuanya sudah terlanjur terjadi dan Liam juga tidak memiliki hak apapun untuk menolaknya.
"Kau memang sangat keterlaluan Liam, bukannya aku sudah mengatakan kepadamu jangan beritahu Papa, tapi kenapa kau sama sekali tidak mendengarkanku? Apakah kau tidak khawatir sama sekali bagaimana misalnya tuan muda Karel akan mengalami stroke parah setelah hari ini."
"Tenang saja tuan muda Karel pasti akan baik-baik saja." Dari tadi Liam terus mengatakan hal yang sama. Tapi entah kenapa ia merasa sangat ragu. Apalagi setelah melihat reaksi ayahnya yang sampai sok berat seperti itu sungguh membuatnya ingin mencakar wajah Liam yang terus mengatakan baik-baik saja padahal nyatanya malah kebalikannya.
Amor pun meraih tangan sang ayah dan lalu kemudian menggenggam tangan ayahnya itu. Demi kesehatan sang ayah ia harus pandai berakting seolah-olah ia mencintai Liam sehingga membuat ayahnya sedikit lebih tenang.
"Papa, kau tenang saja karena aku juga sangat mencintainya. Kau tidak perlu khawatir karena anak ini terlahir dari buah cinta kami. Mungkin karena aku yang sudah terlalu buta dengan cinta dan terpaksa harus menikah dengannya. Jadi kau tak perlu khawatir tentang itu," bohong Amor yang sangat terlihat natural.
Liam sendiri ingin tertawa galak saat mendengar kalimat yang dituturkan oleh Amora. Siapapun tahu bahwa Amar saat ini sedang berbohong kepada ayahnya.
Tuan muda Karel terlihat sedikit lebih tenang saat anaknya mengatakan hal tersebut. Amor pun sudah mulai bisa lega dan mengusap dadanya. Hampir saja ia tidak bisa menyelamatkan nyawa sang ayah. Jika hal tersebut sempat terjadi, maka Amor tidak akan bisa memaafkan siapapun terutama Liam.
"Tenang saja Tuan, saya pasti akan menjaga anak Anda dengan sebaik-baiknya." Tuan muda Karel sama sekali tidak menghiraukan Liam yang berbicara. Seolah-olah ia ingin mengungkapkan kekecewaannya kepada pria itu.
Amor yang menyadari hal tersebut lantas langsung berpikir untuk pergi dari sekarang secepatnya. Mungkin ini akan membuat ayahnya sedikit lebih bisa tenang.
"Papa, aku pergi dulu. Jika butuh sesuatu katakan saja kepada suster." Amar melirik ke arah sang suster yang sedang sibuk mempersiapkan makanan untuk ayahnya.
__ADS_1
"Amora tenang saja, Papa kamu pasti akan lebih baik setelah ini."
Liam pun membawa Amor pergi dari sana. Permudah Karel tak henti-hentinya menatap punggung sang anak dan juga Liam.
Sesampainya di luar ruangan ayahnya, Amor pun langsung mendorong tubuh Liam. Ia sama sekali tidak sudi bermesra-mesraan dengan pria itu, hanya karena ia ingin prakting di depan ayahnya seolah-olah mereka tadi saling mencintai.
"Kenapa kok tiba-tiba langsung berubah tidak seperti di depan ayahmu tadi?"
"Apa kau gila? Aku sama sekali tidak sudi bermesra-mesraan denganmu seperti itu. Rasanya aku geli sendiri," ucap Amor lalu pergi begitu saja.
"Wanita memang sangat aneh dan tidak bisa ditebak," ujar Liam yang sudah sangat pasrah.
_________
Liam menatap beberapa hasil laporan yang diberikan oleh anak buahnya. Ia meminta agar mereka semua mencari Oliver seluruh kota ini dan tidak membiarkan pria itu keluar dari kota.
Dia harus membasmi Oliver sebelum laki-laki tersebut membocorkan semuanya dan menggagalkan segala rencananya. Apalagi Oliver sangat berpotensi untuk melakukan balas dendam kepada keluarganya nanti.
Begini lagi kah rasa dendam dibalas dengan dendam maka akan menimbulkan dendam baru. Akan tetapi Liam sama sekali tidak peduli dengan semua itu dan hanya berpikir untuk memuaskan hatinya tanpa bisa memikirkan sebab akibat dikedepannya nanti.
Nafas Liam pun tersengal-sengal. Pria itu mengepalkan tangannya dengan sangat keras hingga kertas yang tengah digenggamnya menjadi kusut.
"Tidak berguna!" bentak Liam dan lalu kemudian melemparkan semua dokumen-dokumen laporan tersebut.
Ia pun memanjangkan matanya dan menarik nafas panjang untuk menetralkan pikirannya. Saat ini ia benar-benar kacau dan tidak bisa berpikir jernih.
"Tuan, yang lain sudah bekerja semaksimal mungkin dan saya juga berusaha untuk mencari Oliver ke manapun. Namun Tuhan sendiri juga tahu bahwa pergerakan kita tidak sebebas itu sehingga Oliver bisa memanfaatkan peluang tersebut."
Liam menganggukkan kepalanya, ia paham akan hal itu. Tapi tidak bisakah mereka seharusnya lebih kecil lagi daripada polisi. Apalagi polisi juga tengah mencari Oliver karena dari pembantaian tersebut memang Oliver lah yang berhasil lolos.
Banyak orang berspekulasi bahwa Oliver dalam utamanya apa lagi liang sengaja memberikan barang bukti mengarah kepada Oliver. Namun ada kubu lain yang menyatakan bahwa Oliver pasti tidak bersalah dan hal itu membuatnya sedikit sulit untuk menyelidiki di mana Oliver melarikan diri.
"Aku paham dengan semua ini, tapi aku tidak mau tahu bahwa kalian harus bisa mendapatkannya sebelum orang lain," ucap Liam yang sangat menuntut para bawahannya tersebut.
__ADS_1
Mereka juga tidak berani membantah Liam dan hanya menuruti setiap perkataan yang Liam tegaskan.
"Baik Tuan, kami pasti akan bekerja semaksimal mungkin." Mereka pun pamit undur diri dengan perasaan yang takut.
Hampir saja nyawa mereka melayang, untungnya kali ini Liam tidak ingin melakukan hal yang buruk karena mengingat istrinya tengah mengandung dan ia khawatir terjadi sesuatu yang buruk nanti kepada sang anak.
"Kenapa hari ini sangat menyebalkan bagiku? Apakah tidak ada yang membuatku sedikit lebih baik?" tanya Liam dan menatap ke arah foto ia dan keluarganya pada saat dirinya kecil sebelum malapetaka pada keluarganya.
Liam menghela napas panjang dan kemudian menghampiri gambar tersebut. Ia lantas mengambil gambar itu dan mengamatinya dengan sangat seksama. Senyumnya sedikit terukir dan foto itu membuatnya lebih baik dari sebelumnya.
"Aku di sini hanya untuk kalian, semua yang aku lakukan saat ini untuk kalian. Aku ingin mendapatkan keadilan bagi keluarga kita. Sekian lama dan bertahun-tahun aku menahan diri pada akhirnya aku bisa mendapatkan harta dan semua yang seharusnya menjadi milikku. Tenang saja aku akan menjaga semua peninggalan ini dengan baik."
Liam menarik napas panjang dan memejamkan matanya. Air matanya lantas terjatuh setiap kali mengingat kebersamaannya dengan keluarganya walaupun singkat. Tangisan seorang pria sangat tulus dan itu artinya ia benar-benar terpukul. Sejauh ini Liam menyembunyikan kesedihannya di balik topengnya. Ia pun membuka topeng tersebut dan berharap orang tuanya bisa menatapnya yang sudah dewasa dengan bangga.
Saat sedang berlarut dalam kesedihan Liam tidak menyadari Amor masuk ke ruangannya.
"Rupanya kau bisa sedih."
Liam langsung menghapus air matanya dan kemudian menyimpan foto tersebut ke belakang.
"Ada apa kau kemari?"
Amor membuang napasnya dan kemudian mengusap air mata Liam.
"Amor."
"Kita mengalami penderitaan yang sama. Rasa aku ingin membunuh mu sama seperti perasaan mu saat membunuh keluargaku. Rasanya sangat puas."
Liam memandang ke arah Amor tanpa ekspresi.
__________
TBC
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.