Menikahi Bodyguard Buruk Rupa

Menikahi Bodyguard Buruk Rupa
Part 40


__ADS_3

Kenyataan yang diberikan oleh Liam membuat Amor sama sekali tidak bisa tidur walau hanya sebentar. Wanita itu dihantu-hantui oleh ucapan Liam. Ia sungguh merasa tidak yakin dengan Liam dan beranggapan jika pria itu hanya mengarang, maka dari itu ia saat ini tidak ingin memakan berita mentah-mentah.


"Tidak, aku harus memastikan cerita ini." Amor pun memutuskan untuk keluar dari dalam kamarnya dan menemui tukang kebun itu.


"Kau ingin ke mana?" Amor terkejut mendengar suara pria itu yang menyapa dirinya. Ia menatap ke arah orang tersebut dan tersenyum tipis.


"Tidak ke mana-mana, tapi aku hanya ingin ke dapur mengambil air." Amor sengaja berbohong kepada pria itu. Tidak mungkin kan ia menyatakan yang sebenernya kepada pria tersebut, itu adalah hal yang paling konyol pernah dilakukan olehnya.


Dari tatapan Liam, pria tersebut tidak semudah itu untuk mempercayai Amor. Alisnya berkerut membuat Amor beberapa kali menghela napas melihat laki-laki itu.


"Sudahlah jika kau tidak ingin percaya kepada ku, aku juga tidak berharap kau mengerti diri ku," ucap Amor dan tersenyum tipis. Ia terlihat sedang putus asa.


Liam tiba-tiba memberikan senyuman untuk dirinya. Amor mengerutkan keningnya kenapa tiba-tiba Liam sangat berubah. Entah kenapa pria itu sendiri juga tidak mengerti.


"Aku tidak bermaksud ingin menyinggung dirimu. Aku juga percaya dengan ucapanmu," tutur Liam dan lalu kemudian memusat kepala Amor dengan lembut.


Awal perjuangan melihat perlakuan lembut yang diberikan oleh laki-laki itu. Apakah perlakuan tersebut benar-benar murni dari hatinya, ataukah perlakuan tersebut hanya untuk melemahkan hatinya dan jatuh kepada pria itu lalu kemudian ia dihancurkan. Makanya Amor tidak boleh langsung percaya dengan Liam.


"Ya terima kasih kalau sudah percaya kepadaku,"balas Amor dengan perasaan canggung.


Wanita itu tersenyum di pintar kemudian melewati Liam begitu saja. Ia bergegas pergi ke dapur akar pria itu tidak terlalu curiga kepadanya.


"Hampir saja jantung ku ingin copot," ucap Amor dalam hati seraya mengusap dadanya. Ia pun menghembuskan napasnya gusar.


Amor benar-benar ke dapur untuk mengambil minum, karena berada di suasana yang menegangkan membutakan tidak bisa melakukan apapun dan tenggorokannya terasa kering. Sejenak ia ingin menenangkan dirinya.


Amor menghela napas beberapa kali dan memegang kepala yang terasa sangat sakit. Sejenak ia melupakan tentang tujuan utamanya dan membiarkan otaknya beristirahat terlebih dahulu.


Setelah lama berdiam diri, Amor pun memutuskan untuk menemui tukang kebun itu secepatnya. Namun terlebih dahulu dirinya harus memastikan bahwa Liam tidak ada di sini. Gawat jika pria itu diam-diam memperhatikannya, maka habislah dirinya.

__ADS_1


Amor menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Setelah yakin bahwa situasi saat ini sangat aman, Amor lantas langsung pergi ke kebun di belakang rumah.


Di sana ia bertemu dengan tukang kebun yang kemarin. Amor tersenyum lebar melihat Mike yang ada di sana tengah membersihkan bunga.


"Mike, bolehkah kita berbicara sebentar? Ada yang ingin aku katakan kepadamu," ucap Amor dan menatap ke arah Mike dengan penuh harapan bahwa pria itu akan setuju kepadanya.


Mike pun menghentikan pekerjaannya dan menata ke arah Amor dengan tatapan bingung. Amor kembali lagi meyakinkan pria tersebut. Mike sendiri tak memiliki pilihan lain selain menyetujui keinginan sang nona.


"Baiklah Nona, saya juga tidak berani menolak permintaan Anda." Mendengar pria tersebut mengatakannya membuat Amor merasa lega dan kemudian memberikan senyum lebar.


"Terima kasih kau sudah mau peduli kepadaku, tapi jujur saja ini membuatku sedikit gugup karena pertanyaan ini bisa saja mengungkit masa lalu," ucapan Umar dengan perasaan tidak enak.


Tukang kebun tersebut pun tercengang mendengar kalimat tersebut, selama ini ia tidak berani membuka suara karena takut salah mengucapkan saja akan berakibat fatal bagi kehidupannya.


"Nona saya tidak yakin bisa mengatakan semuanya, karena ini bisa saja taruhannya nyawa saya," ucap Mike dengan sungkan.


Amor pun menghembuskan nafasnya pelan, semua orang tidak yakin bisa membantu dirinya. Hal itu merupakan sesuatu yang membuat Amor merasa ragu dengan dirinya sendiri. Akan tetapi aku berusaha semaksimal mungkin akan mencari tahu segalanya.


Mike menganggukan kepalanya, bisa dikatakan ia adalah orang yang sangat setia kepada tuan muda Karel. Hanya saja selama ini ia tutup mulut.


"Nona, saya mengerti dengan perasaan Anda. Saya juga berharap bahwa anda mendapatkan hidup yang lebih baik lagi setelah ini. Maafkan saya jika tidak menjawabnya dengan begitu rinci karena saya hanya mengetahuinya beberapa saja."


Amora menganggukan kepalanya memaafkan laki-laki tersebut. Kemudian Ia pun menarik nafasnya terlebih dahulu sebelum mempertanyakan luka lama.


"Apakah yang kau ketahui tentang masa lalu? Siapakah orang yang telah membuat ayahku dalam bahaya dan membantai keluargaku? Lalu apakah pembantaian yang dilakukan kepada ayah dan ibuku dengan pembantaian kepada keluarga Alexander itu orang yang sama? Apakah dilakukan oleh orang yang berbeda?"


Mike menatap ke arah langit dengan perasaan kalut, akan tetapi pria itu sudah berjanji untuk menceritakan kebenarannya kepada Amor.


"Seperti yang kau tahu jika orang yang membantai keluarga Alexander adalah Liam, aku tahu itu kareja aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Aku juga sempat berpikir bahwa Liam lah yang telah membunuh ibu mu, tapi setelah aku melihat foto itu kemarin aku menjadi tidak yakin dan malah berpikir Liam adalah anak dari tuan muda Karel yang hilang selama ini, kau tidak perlu marah jika dia sudah kembali apalagi kau dan dia sudah menjadi pasangan suami istri dan kau tengah mengandung. Aku yakin dia adalah orang baik dan jika ia yang membantai tuan muda Karel harus ya dia sudah lama membunuh tuan besar dan diri mu." Amor masih tidak percaya dengan hal tersebut, masih banyak yang mengganjal di hatinya dan ia harus menuntaskannya hari ini juga. Wanita tersebut menarik napas panjang dan membuang pandangannya..

__ADS_1


"Ucapan mu adalah pikiran ku, aku hanya memastikan apakah kau banyak tahu dan rupanya kau tetap tidak ingin mengatakan yang sebenarnya kepadaku. Masih banyak yang kau rahasiakan dan itu terlihat dari tatapan mata mu,"ucap Amor seraya sambil menyindir tukang kebunnya tersebut.


Tukang kebunnya itu menunjukkan kepalanya seolah-olah ya dengan rasa bersalah karena telah membohongi Amor. Dia berpura-pura seakan-akan tidak mengetahui banyak.


"Anda mengatakan seperti itu, dan saya bisa berbuat apa? Baiklah saya akan mengatakan apa yang saya ketahui lagi. Tuan muda Karel dengan tuan muda Alexander memang terlibat pertengkaran harta warisan. Saya juga melihat beberapa kali tuan muda Alexander ingin mencelakai keluarga tuan muda karya dan diri mu. Tuan muda Karel sepertinya tahu dengan hal tersebut, tapi dia tidak ingin berburuk sangka dengan tuan muda Alexander." Jika benar tuan muda Alexander lah yang telah mencelakai orang tuanya maka memang ia harus mendapatkan balasan tersebut.


"Apakah kau menemukan petunjuk lain?"


"Tentu saja Nona saya mendapatkan petunjuk yang lain. Saya juga melihat beberapa kali tuan muda Alexander menelepon seseorang yang tidak dikenal dan juga bertemu dengan seseorang yang mencurigakan. Saya sempat melihat penculikan yang dilakukan oleh Tuan Muda Alexander, dan Oliver yang pernah memperlakukan Tuan muda dengan sangat buruk. Tidak hanya itu, tuan muda Alexander juga di saat Anda remaja sering ingin membunuh Anda." Mendengar semua cerita yang diberikan oleh tukang kebunnya tersebut membuat jantung Amor terasa sangat sakit.


Sungguh ini jauh dari pemikirannya dan sangat plot twist sekali, Amor sendiri sendiri tidak menyangkalkan hal tersebut akan tetapi ia besar untuk tetap tenang dan memikirkan cara-cara yang lain.


"Aku benar-benar terkejut mendengarnya. Tapi terima kasih karena kau telah menceritakan yang sebenarnya," ucap Amur sembari memberikan senyuman hangat kepada tukang kebunnya tersebut.


Setelah itu wanita tersebut pun berjalan gontai meninggalkan tukang kebun itu. Air matanya jatuh satu persatu, orang yang ia percaya justru orang yang telah menghancurkan segalanya. Jika benar seperti itu wajar saja Liam memiliki dendam yang sangat dalam kepada keluarga Alexander.


Amor merasa sangat bersalah karena terus menuduh pria itu selama ini tanpa mencari tahu apa penyebab Liam melakukannya. Liam pastinya sangat sakit menanggung derita ini dan ia berusaha untuk orang lain merasakan apa yang ia rasakan.


"Maafkan aku terus menyalakanmu, aku berjanji tidak akan melakukan hal tersebut."


Amor berjalan ke ruangan kerja Liam dengan sangat semangat. Saat berada di depan ruangan pria itu ia tersenyum lihat Liam yang keluar.


Amor berlari ke arah pria itu kemudian memeluknya dengan sangat erat.


"Terima kasih. Dan maafkan aku juga."


___________


TBC

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.


__ADS_2