Menikahi Bodyguard Buruk Rupa

Menikahi Bodyguard Buruk Rupa
Part 45


__ADS_3

Oliver menatap ke arah rumah yang kini telah ditinggali oleh keluarga Alexander. Ia sungguh tak menyangka jika waktunya di rumah itu akan berakhir secepat ini. Oliver memang mengetahui perbuatan jahat ayahnya dan ia sama sekali tak peduli dengan malah menikmati hasil dari kejahatan ayahnya tersebut.


Pria itu menghela napas panjang dan kemudian menatap ke arah rumah itu dengan tatapan sedih. Kemudian ia pun mencoba untuk pergi dari sana karena tak sanggup menatapnya dengan lama.


Tak lama ia melihat Liam yang keluar dari ruang tersebut bersama dengan Amor. Oliver tercengang melihat Amor setelah sekian lama. Wanita itu sangat berbeda dari sebelum ia pergi dari rumah tersebut. Benarkah itu Amor? Kenapa wanita itu sedang mengandung?


Oliver memejamkan matanya dengan tangan terkepal. Hatinya sangat panas membayangkan bahwasanya Liam yang melakukan hal tersebut kepada Amor. Setahunya Amor sangat membenci pria itu dan bahkan tidak berani mendekati Liam, sudah jelas ini aslaha sebuah pemaksaan.


Oliver pun menghembuskan napasnya perlahan. Wanita itu telah berhasil merebut hatinya dan Oliver baik ke Amor benar-benar tulus dan tak menyimpan amarah apapun sehingga membuat dirinya hendak membunuh Amor.


Bahkan ia pernah sampai menantang orang tuanya yang sempat memutuskan untuk membunuh Amor karena ingin menguasai harta warisan tersebut secepatnya.


Begitu besar rasa cinta Oliver terhadap Amor. Tapi pria itu tidak menyangka bahwa orang yang ia cintai tak akan pernah didapatkan olehnya. Liam b******* itu kenapa selalu mendapatkan segalanya.


Sejujurnya hati Oliver sangat iri dengan Liam. Pria itu benar-benar sangat sempurna dan juga memiliki wajah yang sangat tampan ketika ia melihat untuk pertama kalinya Liam membuka topengnya.


Sekarang ia melihat Amor sangat akrab dengan Liam, bagaimana tidak hatinya begitu sendiri melihat keberuntungan Liam.


Sekarang ia tak lebih dari seorang anak jalanan yang hidup di pinggir jalan dan tidak memiliki tujuan. Bahkan untuk makan sebutir nasi pun ia harus berjuang mati-matian. Begitu kejam dunia mengadilinya. Pergi menjauh dari kehidupan yang dulu sangat glamour membuatnya tidak terlalu terbiasa dengan keadaan yang sekarang.


Pria tersebut menghela nafas panjang dan kemudian meninggalkan area pekarangan rumah Liam.


"Sedikitpun aku tidak pernah ikhlas kau mendapatkan segalanya, aku tidak akan membiarkanmu begitu saja dan mendapatkan apa yang harusnya aku miliki." Oliver mengepalkan tangannya dan ia sangat serius dengan hal tersebut.


Pria itu akan kembali lagi ke rumah itu untuk membalas dendam. Tak peduli bagaimana masa depannya yang penting ia harus bisa melawan ketidakadilan tersebut. Setidaknya jika ia juga harus dipenjara Liam juga turut bersamanya.


Sedangkan Amor tertawa gelak melihat tingkah konyol Liam yang sedang menghiburnya. Tadi Amor mengeluh bosan sehingga Liam dengan berbagai cara berusaha untuk menghibur Amor agar wanita itu kembali ceria lagi. Tampaknya usaha Liam tersebut membuahkan hasil karena Amor bahkan tak bisa menghentikan tawa gelaknya.


Sementara Liam berubah menjadi sangat khawatir takut karena tertawa terlalu keras membuat janin anaknya terganggu. Tiba-tiba perasaannya menjadi sangat was-was.


"Amor, kau tidak bisa berhenti tertawa? Aku benar-benar khawatir dengan anak kita. Pasti perut mu sangat sakit sekali." Amor lantas langsung menutup mulutnya wallpaper sebentar lagi ia akan tertawa kembali.


Tapi ia berusaha menahan mati-matian humornya tersebut. Ia mencoba untuk menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan.


"Tenang saja, aku baik-baik saja. Ini tidak akan membahayakan janin kita." Tiba-tiba Amor langsung memegang perutnya. Wanita itu mengeluh sakit dan Liam yang melihat hal tersebut menggelengkan kepalanya.


Baru saja ia memeringati wanita itu dna dengan pedenya ia sok kuat dan tak memperhatikan kesehatannya.

__ADS_1


"Sudahlah. Aku akan membawa mu ke rumah sakit secepatnya. Aku tidak ingin terjadi sesuatu kepada anak kita." Amor menganggukkan kepalanya kareja wanita itu berusaha untuk menahan tangisannya karena perutnya benar-benar terasa keram karena terlalu banyak tertawa.


Dengan sangat panik Liam lantas langsung mengeluarkan mobil dan menuntun Amor masuk ke dalam mobilnya. Mereka pun langsung pergi ke rumah sakit terdekat untuk menangani kasus Amor itu sebelum terjadi sesuatu kepada anak mereka.


_________


Oliver menatap dirinya yang sangat lusuh dan bahkan pakaian tidak berganti. Selama bertahan hidup ia menjadi seorang kriminal dan tak segan-segan akan merampok orang.


Tapi itu belum bisa membuat dirinya puas karena tujuan utamanya adalah menghancurkan hidup Liam dan merebut Amor kembali bagaimana pun caranya.


Pria itu menarik napas panjang dan meninju tembok hingga tangannya mengeluarkan darah. Ia menatap darah yang menetes dari tangannya tersebut dengan tatapan kosong.


Tidak ada gairah kehidupan di matanya tersebut selain melakukan balas dendam bagaimanapun juga.


Pria itu benar-benar sudah merasa putus asa di tengah jalan sehingga ia melakukan kejahatan untuk menyenangkan hatinya.


Oliver menatap tangannya yang terus berdarah tersebut. Kemudian ia menghela napas panjang. Sejenak ia menutup matanya untuk membuat dirinya menjadi lebih baik lagi. Ia harus memiliki rencana matang jika ingin Melaka balas dendam kepada pria itu. Tidak mungkin ia datang dan menantang tanpa ada persiapan sama sekali, itu sama saja dengan dirinya mati konyol.


Ia membuka matanya, tiba-tiba ia teringat dengan kartu nama yang diberikan oleh wanita itu. Tampaknya wanita itu bisa berpihak kepadanya karena nasi bungkus yang diberikan oleh wanita tadi sama sekali tidak membahayakan dirinya. Seolah jal tersebut bisa memberikan ia sinyal yang baik.


Oliver mengambil kartu nama tersebut. Ia berusaha untuk mencarinya ke manapun, hingga ia berhasil menemukan jika kartu nama itu ada di kantong bajunya.


"Tampaknya kau sudah kembali."


________


Oliver mengetuk pintu rumah dari wanita itu dan menunggu penghuninya tersebut membukakan pintu untuk dirinya.


Tak lama pintu tersebut terbuka dan dengan senang hati wanita itu menyambut kedatangan dirinya.


Ia menganggukkan kepalanya dengan perasaan puas. Sementara pria itu memutar bola matanya malas karena dugaannya tidak salah.


"Marry?"


"Wow rupanya ingatanmu tidak buruk. Kau benar jika itu adalah aku. Masuklah, kita akan berbicara di dalam. Jika kau di luar dan ada yang melihatmu maka itu akan berbahaya." Oli pernah melakukan kepala dan kemudian membuntuti wanita itu masuk ke dalam rumahnya.


Pria tersebut langsung duduk di sofa milik wanita itu dan tingkahnya sangat semena-mena.

__ADS_1


"Bagaimana menjadi orang susah? Bukannya sangat menyenangkan? Kau terlalu konyol hingga tidak menyadarinya."


"Aku juga tidak menyangka bahwa ia akan melakukan hal tersebut kepada keluarga ku. Aku di rasa kali ini aku sangat kecolongan."


"Yah kok bener-bener sangat kecolongan sehingga tidak bisa menyadarinya. Yang paling menyedihkan adalah kedua orang tuamu terbunuh."


Olivar yang mendengar hal tersebut langsung mengepalkan tangannya dan menatap tajam ke arah Marry.


Marry hanya tersenyum pelan dan kemudian meletakkan beberapa cek uang di depan Oliver.


"Terserah kau mau mengatakan apa, tapi aku juga sangat berterima kasih kamu peduli kepadaku. Ya walaupun aku tahu pasti semua ini tidak gratis," tutorial sudah tahu apa niat Marry yang sebenernya.


Marry bertepuk tangan dengan sangat senang. Akhirnya tidak perlu menjelaskan panjang lebar laki-laki tersebut sudah mengetahui rencananya.


Ia mengganggukan kepalanya dan kemudian mengambil beberapa cek uang dan diserahkan kepada Oliver.


"Semua ini untukmu, dan gratis. Kau tidak perlu melakukan apapun untuk membayarnya," ucap Marry dan menepuk pundak Oliver.


"Terima kasih."


"Oliver, bagaimana pun juga kau adalah teman ku waktu kecil. Kita memiliki dendam yang sama karena orang tua kita bekerja sama sehingga kita sama-sama harus menerima penderitaan yang sama." Marry memiliki pandangan yang kosong.


Oliver terkejut dan tak pernah tahu jika orang tua Marry sudah lama tiada. Ia pun tersenyum tak menyangka dan menatap wajah Marry yang sangat sedih.


"Marry, aku tidak tahu jika kau juga mengalaminya. Kapan itu terjadi?"


"Mungkin 5 tahun yang lalu, dan aku sudah mengetahui orangnya setelah beberapa tahun setelahnya. Aku meminta mu ke sini untuk mengajak mu membalaskan dendam kita. Aku sendiri sudah memiliki caranya." Marry langsung mengangkat satu sudut bibirnya dengan tatapan licik.


Oliver pun mengangkat alisnya tersebut dan kemudian menganggukan kepalanya menunggu wanita itu menceritakan rencanannya.


"Aku harap rencana yang bagus."


"Kau tenang saja. Kita pasti bisa membunuh pria itu dan menyiksanya."


________


TBC

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.


__ADS_2