
Amor menoleh ke belakang untuk memastikan jika situasi aman dan tidak ada yang membahayakan. Wanita itu menatap ke arah Oliver yang tetap masih percaya diri dan yakin bahwa dirinya tidak akan tertangkap.
Padahal perjagaan Liam di sekitar rumah mereka sangat ketat. Tapi kenapa laki-laki tersebut tetap bisa menerobos masuk? Amur pun menatap ke sekelilingnya dan matanya melotot pada saat melihat Youvie yang tidak sadarkan diri dengan darah yang bersimbah di depan teras rumahnya.
Wanita itu hanya bisa terdiam bak patung yang sedang menangis. Apakah hari itu akan terulang kembali? Sudah dua kali ia melewati peristiwa berdarah, apakah kali ini ia akan merasakannya kembali?
Amor menggelengkan kepalanya dan memandang ke arah Oliver tidak percaya. Sejenak wanita itu mengusap perutnya yang sedang membuncit tersebut. Ia menangis sesugukan. Kenapa hari bahagia hanya sebentar dan tak lama lagi ia akan kehilangannya kembali.
"Tidak ada yang berpihak kepadaku, aku tidak tahu harus seperti apalagi. Kenapa harus hari ini? Aku tidak ingin anak ku menjadi korbannya dan ia akan kehilangan ayahnya." Batin Amor.
Akan tetapi wajahnya tetap tersenyum padahal dalam hatinya sangat gelisah. Ia harus memastikan bahwa Oliver tidak akan menyerang keluarganya.
"Oliver, apakah itu kau? Kau selamat dari pembunuhan itu?" Amor berpura-pura bahagia setelah Oliver kembali.
"Ya aku akan memastikan bisa membawamu hari ini dari sini!" Setelah itu Amor tidak lagi bicara dan ia mengatupkan bibirnya. Amor tidak ingin diantara kedua belah pihak sama-sama terluka.
Amor menghindar dari jendela tersebut dan mencari ponselnya untuk menghubungi polisi. Tapi ia membulatkan matanya saat jaringan terputus dan WiFi tidak tersambung.
Wanita itu merasa sangat gelisah dan ia lantas mencari WiFi cadangan yang pernah ada ia simpan untuk berjaga-jaga semisal hari mengerikan itu kembali lagi. Tidak jauh berbeda taktiknya dengan apa yang dilakukan oleh Liam, jadi ia telah mempersiapkan segalanya.
Amor menghubungkan WiFi tersebut dengan tergesa-gesa dan beberapa kali gagal. Ia harus secepatnya menghubungi polisi walaupun tangannya bergetar karena di luar sana sudah penuh dengan suara tembakan serta suara Liam yang mengerikan berteriak marah.
Amor menangis dan ia memukul kepalanya sendiri karena tak bisa menghubungkan WiFi. Apalagi di luar sana sangat genting dan Amor tidak ingin ia terlambat hingga membuat keluarganya harus terbunuh. Cukup sudah hari itu ia merasa putus asa, sekali ini tidak lagi.
__ADS_1
"Hiks, aku bodoh sekali. Jika ayah mu meninggal maka aku akan selamanya menyalahkan diri ku," ucap Amor dan menghapus air matanya yang kembali keluar.
Amor benar-benar pejuang hidup dan mati hingga pada akhirnya ia bisa menghubungkan wi-fi ke ponselnya. Setelah itu ia pun menelpon polisi dan lagi-lagi polisi tidak mengangkatnya dengan cepat hingga ia mendengar suara langkah kaki seseorang yang mendekat ke kamarnya.
Kamar mama ajamkan mata dan bersamaan itu air matanya pun luruh. Hingga pada akhirnya teleponnya diangkat polisi juga. Amar meletakkan ponselnya di telinga dan kemudian memejamkan mata dengan penuh harap.
"Halo Bapak, saya Amora Dwi Hauria ingin memberitahukan bahwa di rumah saya terjadi penyerangan kembali yang dilakukan oleh oleh Oliver. Saya harap Bapak bisa membantu saya segera untuk mengirimkan pasukan." Amor mengusap dadanya dengan lega setelah berhasil menghubungi polisi dan meskipun sedikit sulit karena ia menghubungi melalui via WhatsApp karena WiFi hanya bisa digunakan untuk internet.
Ceklek.
Amor terkesiap saat mendengar suara pintu yang dibuka tersebut. Ia memandang ke arah orang yang masuk ke dalam kamarnya itu dengan tubuh bergetar. Sebentar lagi ia mungkin tidak akan melihat betapa cerahnya dunia.
Amor mengerjapkan matanya karena tak mengenali wanita yang mengenakan pakaian putih penuh dengan darah tersebut. Amor memeluk tubuhnya adalah memegang perutnya, jujur saja ia benar-benar merasa kesel karena tidak bisa melindungi anaknya padahal sebentar lagi anak mereka akan lahir ke dunia.
"Kau tahu rupanya bawa ini adalah malaikat pencabut nyawa mu. Tidak ada gunanya menangis sekarang, karena kau harus mendapatkan segala penderitaan."
Amor mengangkat wajahnya dan memandang ke arah wanita itu. Ia pun menarik napas panjang untuk mengumpulkan keberanian.
"Siapa kau? Dan apa mau mu? Kau mengatakan jika aku tidak menderita? Aku selama ini menderita!!! Ayah! Ibu!!! Ku dibantai, selain itu aku kehilangan sepupu ku Oliver! Om! Tante! Dan aku dipenjara dan dijadikan terduga tersangka karena telah melakukan pembuahan Tante dan om ku sendiri! Aku dicap gila dan dimasukkan ke rumah sakit jiwa! Apakah semua itu sama sekali tidak membuatku menderita? Aku lebih menderita lagi setelah aku mengetahui bahwa orang yang telah membunuh semuanya adalah keluarga sendiri! Aku menyimpan dendam dan harus salah paham. Aku mengandung di usia ku yan masih belia dan kau bilang aku tidak menderita? Hari ini aku semakin menderita karena ketika aku sudah mendapatkan senyumanku setelah sekian lama pada akhirnya malam ini akan musnah ketika kau akan membunuh orang yang aku cintai."
Marry tak bisa berkutik mendengar keluhan Amor. Ia tidak mengenal Amor dan bagaimana hidupnya. Ia hampir tidak percaya dengan ucapan wanita itu dan untungnya ada Oliver yang datang seraya menurunkan senjata api Marry.
"Apa yang dia katakan benar, sampai sekarang ia sama sekali tidak pernah bahagia. Ia harus dipaksa menikah dengan orang yang tidak dicintainya, dan sekarang aku akan merebutnya kembali dan memberikan hidup yang lebih bahagia untuknya." Amar sama sekali tidak marah dan maupun menerima ucapan Oliver.
__ADS_1
Ia hanya tak berekspresi karena ia sudah lupa bagaimana caranya hidup sebab ia sekarang berada di posisi netral dan tak ingin keduanya menderita.
"Kau akan memberikan kehidupan yang sesungguhnya kepadaku? Apakah benar? Aku tidak tahu, karena aku merasa mulai detik ini aku akan mati. Bagaimana kabar Liam dan ayah ku?!"
Amor menatap ke belakang Oliver di mana Liam dengan tenaga yang tersisa berusaha untuk menembak Oliver.
Amor menahan napasnya dan memejamkan matanya. Ia tak bisa membayangkan Oliver sepupu terbaiknya mati di depannya.
DOR
Amor membuka matanya dan melihat Liam yang terjatuh ke lantai tak sadarkan diri dan ia melihat beberapa polisi yang berdatangan.
Amor menahan napasnya dan memegang perutnya yang berdenyut sakit. Ia merintih kesakitan karena sebentar lagi ia akan melahirkan.
"Akh!!"
"Amor!" Dengan panik melihat aot ketuban yang mengalir membuat Oliver tak memikirkan apapun selain secepat mungkin membawa Amor ke rumah sakit.
___________
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.
__ADS_1