Menikahi Bodyguard Buruk Rupa

Menikahi Bodyguard Buruk Rupa
Part 48


__ADS_3

"Amor, apakah kau sama sekali tidak merasa takut dengan Liam? Aku melihatnya saja tubuh ku langsung bergetar," ucap temannya kepada Amor secara diam-diam dan melirik ke arah Liam.


Liam langsung menatap tajam teman Amor itu hingga tubuhnya terasa dingin dan dia tidak bisa melakukan apapun selain menelan ludahnya dengan kasar. Amor yang melihat reaksi temannya itu hanya tergagah dan mengusap lengan temannya menenangkan wanita tersebut.


"Sudahlah, tidak usah takut kepadanya. Dia tidak akan memakan orang kok," ucap Amor dan melirik ke arah Liam memberikan peringatan kepada laki-laki tersebut agar tidak macam-macam kepada temannya.


"Memang dia tidak memakannya tapi dia membunuhnya," sahut temannya yang lain dan tanpa sadar ia menjadi pusat perhatian teman-temannya.


Ia sendiri tidak menyangka bahwa mulutnya akan keceplosan. Padahal itu hanyalah sebuah undang-undang yang ada di dalam hatinya tentang sadar ia ucapkan di mulutnya. Orang tersebut menatap ke arah Liam yang berwajah sangar. Amor yang melihat hal tersebut saja bahkan tidak bisa membela temannya tersebut karena ia sendiri merasa ketakutan setelah mendengar ucapan temannya itu.


Memang patut diacungi jempol karena keberanian temannya itu bukanlah main-main Tapi sayangnya itu hanyalah sebuah keceplosan biasa. Iya sendiri tidak berani bertanggung jawab dengan apa yang ia katakan.


Seandainya temannya itu memang mengucapkannya sungguh-sungguh pasti ia akan mengacungi jempol dengan keberaniannya tersebut.


"Apa yang kau katakan Denis? Apakah mulutmu sama sekali tidak bisa dihentikan? Kau benar-benar bodoh, apakah kau ingin menyerahkan nyawa kita kepadanya?" Setelah dirundung oleh teman-temannya Denis sama sekali tidak berani berbicara. Takut apa yang dia katakan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.


Amoorea melihat suasana menjadi tegang untuk mencairkannya. Ia menghadiri Liam dan memohon agar pria itu membiarkan temannya tersebut karena ia juga pasti tidak bermaksud untuk mengatakannya.


Liam tetap saja tidak berbicara dan hal itu menambah suasana menjadi tegang. Teman-temannya sudah mulai ketakutan bahkan ingin pulang, pasti setelah ini mereka tidak berani lagi untuk berteman dengannya. Membayangkan saja Amor benar-benar ketakutan. Apakah setelah ini ia tidak akan memiliki teman lagi?


"Kau benar-benar brengsek, tidak bisakah kau memikirkan bagaimana perasaanku? Sama sekali kau tidak peduli dengan teman-temanku yang ketakutan itu, berhentilah memberikan ekspresi seolah-olah kau ingin membunuh mereka."


Pria itu mengerutkan keningnya. Akan tetapi melihat ekspresi Amor yang sangat lucu ketika ia marah membuatnya malah diam-diam tersenyum.


"Tidak usah dihiraukan. Aku hanya menakut-nakuti mereka."


Amor sekarang bisa mengusap dadanya dengan tenang setelah mendengar pengakuan Liam tersebut. Setidaknya ia sudah bisa memastikan jika kondisi saat ini benar-benar aman dan tak perlu untuk ditakuti lagi.


Teman-temannya pun yang mendengar itu sudah bisa lega. Mereka berpikir sekarang nyawa mereka sudah bisa diselamatkan. Jujur saja ada sebagian yang memang tidak ingin ke tempat ini karena takut dengan Liam aka tetapi mereka pergi jugaa takut dengan Liam, karena Liam mengancam Liam.


"Kau membuatku ingin jantungan saja," keluh Amor dan menghela napas gusar.


"Tidak usah khawatir semuanya pasti akan baik-baik saja. Pergilah bermain dengan teman-teman mu, aku akan mengerjakan pekerjaan ku," ucapnya dan menguap kepal Amor sebelum pergi.

__ADS_1


"Baiklah," sahut Amor dengan malas.


Setelah itu ia melihat bahwasanya pria itu sudah pergi dan hanya meninggalkan dirinya bersama dengan teman-temannya. Setelah kepergian Liam teman-temannya lebih leluasa lagi untuk bersedia gurau dengan Amor di mana sebelumnya situasi sangat dingin dan bahkan semuanya terasa sangat canggung.


"Kau pasti hidup di bawah tekanannya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kau mengeluh setipa harinya. Pantas kau Spain divonis pernah mengalami masalah psikologis." Amar menggabungkan kepalanya karena hal tersebut memang benar. Selama ini hidupnya penuh dengan tekanan, bukan berarti sekarang ia telah mencintai Liam, dia tidak mengakui bagaimana hidupnya yang sangat susah dibawa pria itu dulu.


"Kamu memang benar, makan dari dulu aku berusaha untuk mati lebih awal. Tapi karena aku ingin membalaskan tentang orang tuaku aku berusaha untuk tetap hidup," ucap Amor seraya menarik napas panjang.


Membicarakan hal ini membuatnya ingin menangis. Mengingat masa-masa kelam adalah hal yang paling buruk pernah ia rasakan.


"Sudahlah, mari kita lupakan masa lalu dan kita akan menatap masa depan. Mungkin, aku akan lebih baik setelah ini dan dia juga."


Mereka semua terharu mendengar kata-kata Amor tersebut. Jujur saja Amar memang sangat baik di kelas, yang memiliki banyak teman dan teman-temannya juga merasa nyaman dengan Amor.


______


Oliver menghela nafas panjang, bergabung dengan teman lamanya untuk menghancurkan Liam ia pikir itu bukanlah sesuatu yang buruk.


Setelah itu ia tidak pernah bertemu lagi dengan Marry, makanya ia sampai tidak mengenali wanita itu.


"Keputusan orang tua kita untuk membantu tuan muda karir memanglah salah, tapi haruskah Yonatan membalaskannya dengan hal yang serupa dilakukan oleh orang tua kita," ucap Marry sambil memandang ke arah laptopnya. Saat ini mereka tengah melakukan transportasi pada perusahaan Liam.


Oliver membuang wajahnya, ia seperti tidak Sudi mendengar nama pria itu. Laki-laki tersebut seharusnya bisa merasakan betapa mengerikannya kehidupan yang sesungguhnya.


Oliver sama sekali tidak peduli bagaimana Liam menjalani hidup di luar sana sama seperti dirinya sehingga Ia memiliki dendam yang sama seperti Oliver rasakan sekarang.


"Laki-laki itu memang sedikit berbeda. Aku sangat membencinya, dari dulu bahkan sebelum mengetahui bahwa ia adalah Yonatan aku sudah sangat membencinya. Sikapnya memang sangat sok-sokan dan tidak cocok dengan ku." Marry hanya tertawa mendengar betapa marahnya Liam saat ini. Tapi ia tak peduli karena yang paling ia inginkan adalah membuat Liam merasakan kesengsaraan yang sesungguhnya.


"Namanya adalah Liam sekarang? Apakah dia berganti nama dan tidak ingin menggunakan namanya yang dulu."


Oliver berhenti mengetik dan menatap ke arah Marry yang terus berpikir tentang hal itu. Ia merasa tak seharusnya wanita tersebut memikirkan hal yang tidak penting.


Merry yang sedang asyik berpikir tanpa sengaja melihat tatapan Oliver yang jijik kepadanya. Wanita itu langsung bersikap normal kembali dan menelan ludahnya.

__ADS_1


"Tidak usah dipikirkan, kan aku hanya bertanya kepada diriku sendiri."


"Kau Bener-bener menyebalkan. Dari dulu kau tidak pernah berubah sama sekali." Mata Marry langsung mendelik.


Marry menghela napas panjang. Menahan amarah itu lebih baik bagi dirinya dari pada meladeni orang seperti Oliver. Ia harus ekstra sabar dan berusaha untuk mengontrol emosinya.


Memang pasca Oliver menolak perasaan cintanya, hubungan mereka menjadi tidak lebih baik. Beberapa masalah berdatangan dan pada akhirnya Marry pun harus meninggalkan kota mereka. Semenjak saat itu mereka sama sekali tidak pernah bertemu lagi.


Oliver juga tidak pernah memikirkan bagaimana keadaan Marry. Sementara itu berbeda dengan wanita tersebut yang harus menangis setiap harinya karena cintanya ditolak. Ia memang sangat membenci Oliver, akan tetapi perasaan benci itu sama sekali tidak ada gunanya sekarang karena mereka harus bersatu kembali untuk melawan Liam.


"Apakah kau sudah menemukan caranya? Kita harus bertindak secepatnya."


Marry memandang ke arah Oliver dan menganggukkan kepalanya. Wanita itu menghampiri laki-laki tersebut dan menjelaskan bagaimana strategi yang akan mereka gunakan.


Pertama-tama mereka akan menekan Liam dan kemudian menyudutkan laki-laki itu. Setelah itu barulah mereka menyusup dan menghancurkan reputasi Liam di depan publik. Setelah itu mereka akan merebut harta warisan milik Liam dan menjebloskan laki-laki itu ke penjara.


"Idemu memang sedikit cemerlang."


Marry hanya menyeringai dengan pujian yang diberikan oleh Oliver tersebut. Dirinya memang sedikit pintar, dan itu tidak bisa diragukan lagi.


Wanita itu semakin besar kepala dan menepuk pundak oleh per beberapa kali. Kemudian ia kembali ke tempatnya dan mengerjakan beberapa situs untuk menyebarkan berita hoax.


"Dia benar-benar licik ya, bahkan dia menuduhmu sebagai tersangka dari pembunuhan orang tuamu sendiri. Aku tidak mengerti kenapa ada orang sebesar itu."


Oliver sama sekali tidak berbicara karena ia tidak ingin mendengar berita tersebut. Awalnya memang sangat terkejut mengetahui bahwa dirinya dinyatakan sebagai terduga tersangka dan sedang menjadi buronan polisi. Semenjak itu ia tidak bisa mengilap hidupnya yang sekarang penuh dengan noda hitam.


Ingin melawan ketidakadilan yang dilimpahkan oleh Liam tersebut namun ia sama sekali tidak berdaya. Hingga pada akhirnya ia pasrah dengan keadaan dan perlahan-lahan menyusun rencana dan keyakinannya semakin memuncak saat ia bertemu dengan Marry.


_________


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.

__ADS_1


__ADS_2