Menikahi Bodyguard Buruk Rupa

Menikahi Bodyguard Buruk Rupa
Part 15


__ADS_3

Jelas Amor berada dalam bahaya. Wanita itu tak bisa mengelak pria tersebut yang ingin melecehkan dirinya. Tidak, ia tak akan semudah itu menyerahkan diri kepada pria itu. Ia akan memikirkan caranya untuk kabur.


Tubuhnya ini tidak akan pernah sudi disentuh oleh orang seperti Liam. Amor pun tersenyum sembari memikirkan cara yang pas untuk melawan pria ini dan tidak menjadi kaki tangan pria tersebut yang hanya bisa tunduk dan direndahkan bertahun-tahun. Memangnya dia orang seperti apa?


"Liam, aku tidak menyangka jika kau sudah sebejat ini."


Liam pun terkekeh. Istri kecilnya ini bahkan sangat berani mengatai dirinya bejat. Apakah wanita itu tidak menyadari bahwa Amor lebih menjijikan darinya. Akan tetapi tidak apa, ia sangat senang melihat wanita yang lemah seperti Amor. Seperti menjadi sensasi sendiri baginya tatkala melihat wanita itu.


Liam mendekati Amor dan Amor hanya bisa memaku di tempat tanpa bos melakukan perlawanan yang sesungguhnya. Mungkin karena ia sudah sangat terdesak dan tak tahu harus seperti apa lagi. Tapi wanita itu sangat berharap di hatinya bahwa akan ada keajaiban yang datang kepadanya.


Kemudian Liam mengangkat dagunya dan menyatukan bibir mereka. Kali ini Amor terdiam dan tak melawan. Ia memperhatikan mata Liam. Seperti apakah rupa di balik topeng ini? Ia sangat penasaran sekali. Tadi hampir saja ia berhasil namun tetap saja gagal.


Amor terus memperhatikan manik indah milik pria itu. Benarkah dia adalah orang buruk rupa? Yang jelas Amor tidak peduli dengan wajahnya yang terpenting orang ini adalah penjahat yang sesungguhnya.


Liam melepaskan ciuman mereka hingga air liur bekas ciuman tersebut masih menempel di bibir keduanya. Liam memperhatikan Amor yang tengah menatapnya. Entah kenapa ada perasaan lain ketika ia melihat wajah polos wanita itu. Ada perasaan yang ingin menjaga Amor dan melindungi wanita itu. Ia sendiri pun tidak mengerti kenapa perasaan itu tiba-tiba muncul begitu saja.


Liam pun langsung membuang wajahnya karena ia tak sanggup dengan degupan dadanya yang tidak seperti biasanya. Lantas ada apa dengannya? Kenapa akhir-akhir ini ia terlihat sangat aneh sekali? Apakah ada yang salah?


Liam pun menghembuskan napas secara kasar. Ia ingin melanjutkan yang tadi akan tetapi tiba-tiba ia merasakan panas pada wajahnya. Apakah saat ini ia sedang bersemu? Jika benar begitu maka tamatlah harga dirinya.


"Liam," ucap Amor yang menyadari jika ada keanehan pada pria itu.


Liam yang sedang sibuk dengan pikirannya tersebut lantas terkejut mendengar sapaan wanita itu. Ia pun menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.


"Tidurlah."


Kenapa tiba-tiba pria ini berubah? Tidak seperti biasanya Liam yang ia kenal? Tapi bagus jika laki-laki tersebut tak jadi ingin melakukan hal itu. Ia sendiri juga sungguh tidak Sudi untuk diperlakukan seperti itu.


"Ada apa dengan mu?"


"Aku akan melanjutkannya nanti ketika aku sudah tenang," ucap pria itu dengan tajam seolah tengah memperingati Amor bahwa wanita itu tak akan pernah bisa lepas dari dirinya apapun caranya.


Benar apa yang dikatakan oleh Liam bahwa dirinya hanyalah seorang tahanan yang tidak berguna tapi mencoba untuk kabur dari sangkar yang penuh dengan emas.


"Tetaplah menjadi istri kecil ku yang baik dan manis. Aku ingin kau patuh terhadap ku dan tidak membangkang. Mungkin aku akan berbaik hati dengan mu."


Sebelum Liam meninggalkan ruangan tersebut ia lantas menyempatkan diri untuk mengecup bibir Amor sekilas.

__ADS_1


___________


Liam menatap ke arah para wartawan yang sedang mengejar dirinya. Pasalnya terungkap bahwa ia adalah salah satu bodyguard yang bekerja di rumah terjadinya pembantaian tragis tersebut.


Semua orang tidak ada yang mengetahui bahwa ia lah pelakunya. Mereka pikir Liam selama ini adalah penyelamat sama seperti beberapa tahun lalu ketika ia menyelamatkan Amor dari pembantaian tragis malam itu.


Liam dengan santainya menjawab pertanyaan para wartawan yang mencurigai dirinya hingga ia pun pada akhirnya berhasil lepas dari tuduhan-tuduhan itu.


"Tuan," ucap salah satu orang yang saat ini menjadi pengawal Liam. Liam naik sebagai seorang CEO. Tidak seperti penjahat pada umumnya walaupun ia telah berhasil menyingkirkan para musuhnya tapi tidak segampang itu mengambil perusahaan. Liam tergolong mudah merebut semuanya entah apa yang telah laki-laki itu lakukan.


Liam menarik napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Semuanya sudah ada di depan matanya. Dendam ini akan berakhir dan ia akan memulai hidup baru.


Selesai menjawab semua pertanyaan yang dilayangkan oleh para wartawan itu lantas ia pun masuk ke dalam pengadilan untuk memberikan kesaksian atas beberapa terduga tersangka.


Mungkin ia adalah orang yang kejam untuk hal ini, akan tetapi ia menjadi kejam karena ada alasannya. Ia juga tak ingin berada di posisi seperti ini pada akhirnya, tapi apa daya ia pun sendiri tak bisa mencegah perasaan yang berkabut ini.


Liam menarik napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Ia memberikan beberapa kesaksiannya yang membuat terduga tersangka semakin bertambah bukti hingga membuat mereka tak berkutik.


Setelah keluar dari pengadilan tersebut ia pun langsung menuju ke kantornya. Banyak orang yang tak menyukai bos baru mereka dan menganggap bahwa Amor sudah besar jadi tidak perlu diwakilkan oleh bodyguardnya mengurus perusahaan. Tapi mereka juga semua tahu jika Liam sudah menjadi orang kepercayaan bagi tuan muda Karel.


Liam menatap ke arah dokumen yang ada di tangannya dengan pandangan kosong. Tidak ada orang yang bisa menentang keinginannya.


"Sudah Tuan. Mereka saat ini sedang menuntut keadilan, dan menganggap bahwa mereka sudah bekerja bertahun-tahun di sini akan tetapi tidak mendapatkan pertimbangan karena menurut mereka apa yang mereka kritik merupakan suatu hak mereka."


Liam membulatkan matanya dan makin mencengkram dokumen itu dengan sangat erat. Ia sendiri sangat kesal mendengar hal itu dan seakan tidak percaya bahwa ada orang yang sangat berani kepadanya.


Liam terbawa emosi dan ia membalikkan tubuhnya. Kemudian pria itu melemparkan semua berkas yang ada di tangannya dengan sembarangan hingga dokumen-dokumen itu berserakan.


"Lancang sekali! Bawa dia ke hadapan ku."


__________


Liam membuka pintu kamar dengan sangat kesal. Amor yang sedang mengerjakan tugas sekolah onlinenya itu pun sangat terkejut. Ia memberanikan diri mengintip akan tetapi tetap saja nyalinya sangat menciut melihat pria itu yang sangat sangar sekali.


"Ada apa dengannya? Kenapa dia sangat mengerikan sekali?" ucap wanita itu dalam hati dan kemudian menarik napasnya panjang. "Dia sangat aneh."


Amor lanjut mengerjakan tugas, sedangkan Liam menatap ke arah meja belajar wanita itu dan ia menghela napas kasar. Amarahnya sedikit mereda saat melihat wanita itu. Ia lantas menghampirinya akan di tetapi langkahnya terhenti. Tidak baik mengganggu istrinya belajar.

__ADS_1


Akan tetapi ia baru bisa tenang jika merasakan pelukan hangat dari Amor. Liam pun mendekati Amor dan memeluknya dari belakang. Amor sangat syok merasakan pelukan itu dan sangat di tidak rela tubuhnya dijadikan sandaran.


Wanita itu membalikkan tubuhnya dan mendorong tubuh Liam. Kemudian ia menancapkan pensilnya ke tangan atas pria itu hingga melukainya.


"Amor apa yang kau lakukan."


"Menjauh dari ku! Aku tidak menyukai orang seperti mu yang sangat jahat!"


Liam pun terkekeh dan ia berusaha untuk mengambil hati Amor.


"Amor, kau memang sangat liar. Aku penasaran bagaimana dengan di ranjang?"


Mata Amor langsung terbelalak mendengar ucapan frontal pria itu.


"Kau! Aku akan membuat luka lebih di tubuh mu." Ucapan Amor tidak digubris dan wanita itu kemudian ditangkap oleh Liam dan dipanggulnya. Amor berusaha berteriak minta dilepaskan tapi hasilnya tetap nihil alias usahanya sia-sia.


"Diamlah," pinta Liam dan kemudian menepuk pantat Amor hingga wanita itu terkejut dengan tepukan pria itu.


"Kau melecehkan ku."


"Tapi kau adalah istri ku," balas Liam seakan tidak peduli.


Kemudian wanita itu direbahkannya dengan sangat lembut. Bahkan Amor sampai terlena dengan cara pria itu yang membuat jantungnya berdebar keras.


"Liam," ucap Amor dengan pelan seakan menyimpan sesuatu pada dirinya. Perempuan itu menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.


Liam kemudian berada di atas Amor dan tersenyum lebar. Ia mengusap rambut Amor.


"Jika kau penurut seperti ini kau terlihat sangat manis."


Wajah Amor entah kenapa bersemu dan ia merasa malu dengan ucapan Liam. Apakah ia mulai terbuai dengan pria itu?


_______


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA

__ADS_1


__ADS_2