
Liam menarik napas panjang dan membuka kamar Oliver. Laki-laki tersebut mengabaikan perkataannya seolah menganggap remeh kalimatnya yang menyatakan bahwa ia akan mendatangi kamar pria tersebut untuk mengambil Amor di dalam sana.
Amor yang mendengar suara decitan pintu mengira bahwa orang yang akan masuk ke dalam kamarnya adalah Oliver. Namun siapa sangka persangkaannya tersebut salah. Tubuh Amor langsung bergetar dan refleks ia mundur.
"Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa kau bisa masuk ke dalam kamar Oliver?" Amor hendak berteriak akan tetapi dirinya tercekat saat melihat tatapan tajam yang dilontarkan oleh Liam.
Amor tak bisa mengekspresikan tubuhnya seperti apa karena saat ini ia benar-benar sangat ketakutan dan tak sempat memikirkan hal tersebut.
Lia pun semakin berani melangkahkan kakinya mendekati Amor. Kemudian ia naik ke ranjang dan menarik tangan wanita tersebut. Mata Amor membulat seketika dan ia berusaha untuk berteriak meminta pertolongan dari orang lain.
"Tolong! Tolong aku Oliver! Laki-laki jahat ini berusaha untuk menyakitiku!" Akan tetapi sangat disayangkan Oliver tidak berada di dekat kamar tersebut.
__ADS_1
Alhasil yang dengan mudahnya mengangkat tubuh Amor tanpa berbicara sama sekali dan lalu membawanya pergi ke kamar wanita itu. Amor berusaha untuk tetap berteriak dan memukuli tubuh Liam akan tetapi aksinya tersebut sama sekali tidak membuahkan hasil.
Untungnya ada Alexander yang kebetulan lewat dan tidak sengaja melihat pemandangan tersebut. Matanya terbelalak dan ia langsung menghampiri Amor yang sedang digendong oleh Liam.
"Liam, apa-apaan kau ini? Kenapa kau melakukan itu kepada Amor? Turunkan dia." Dari tatapannya yang tajam sudah berhasil menghunus jantung Alexander sehingga ia merasa deg degan saat melihat mata laki-laki tersebut.
"Apa yang kau lakukan? Berhentilah bersikap sok pengertian. Kau tidak tahu jika hal ini tidak ada hubungannya denganmu."
"Kau menyakiti keponakanku."
"Apa yang sudah kau lakukan? Kau benar-benar sangat keterlaluan Liam? Siapa di sini yang tuannya?"
__ADS_1
"Tuanku hanya tuan muda Karel, tuanku bukan kau. Aku hanya mematuhi perintah tuan muda Karel yang untuk menjaga dirimu."
Amar pun menghela napas panjang dan ketika ia termenung. Wajahnya berubah sangat sedih karena mengingat ayahnya yang sudah bertahun-tahun tak juga sadarkan diri.
"Kapan ayah akan bangun? Kenapa sudah lama sekali ayah tidak bisa sembuh? Aku rasa sudah membawanya ke rumah sakit yang paling bagus di kota ini, apakah aku sama sekali tak bisa menemuinya lagi? Aku merindukannya," gumam Amor yang teringat dengan sang ayah dan bagaimana kebersamannya dengan pria itu. Entah kenapa setiap kali membayangkannya membuat hati Amor benar-benar sangat sakit dan ia tak tahu harus bersikap seperti apa karena ia benar-benar hancur setelah tragedi malam ganas itu.
"Aku sudah tidak merasa dunia ku hidup lagi semenjak malam itu. Aku hanya berpijak di atas bumi tapi tidak dengan jiwa ku," ucap Amor yang membuat Liam mendengarnya hanya diam seolah ada hal yang tengah ia simpan.
"Maka dari itu kau harus menuruti semua apa yang aku katakan jika ingin tuan muda selamat."
________
__ADS_1
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.