Menikahi Bodyguard Buruk Rupa

Menikahi Bodyguard Buruk Rupa
Part 26


__ADS_3

Liam dengan sangat panik membawa Amor ke rumah sakit. Ini adalah kali pertamanya setelah sekian lama ia bisa merasakan sepanik ini. Ada apa dengannya? Kenapa dengan hanya melihat Amor yang sangat tersiksa sekali membuat dirinya tidak berdaya.


"Amor, ada apa dengan mu? Apakah kali ini adalah cara mu untuk melawan ku?" tanya Liam yang berada di luar ruangan pemeriksaan. Pria itu tidak bisa tenang dan menatap ke sana kemari saking merasa paniknya.


Yovie menatap ke arah Liam yang sangat panik tersebut. Sama halnya dengan Liam, ia juga merasa baru kali ini melihat pria tersebut sangat panik. Amor benar-benar luar biasa karena bisa membuat jiwa orang lain merasa sangat terguncang.


"Aku tidak tahu jika hari ini adalah hari yang paling menakjubkan bagi mu. Apakah kau baru saja merasa panik?" tanya Yovie ke arah Liam.


Liam melirik sebentar ke pria itu lalu kemudian menghembuskan nafas berat. Seolah-olah begitu besar beban yang harus dipikul oleh laki-laki tersebut.


"Kau tahu sendiri tentang itu. Jadi diam lah jika kau tidak ingin dalam masalah."


Setelah diberi nasehat oleh Liam, Yovie langsung tak berbicara sama sekali dan ia menatap ke arah Liam dengan pandangan yang sedikit merasa takut. Liam yang melihat Yovie yang sadar dengan batasannya pun merasa menjadi lebih baik dari sebelumnya.


"Baik Tuan."


"Inilah yang aku mau, jangan membuatku kesal seperti ini."


Liam memejamkan matanya dan kemudian pria tersebut menyandarkan tubuhnya ke tembok rumah sakit seraya menunggu dokter keluar.


Pria itu melipat kedua tangannya di dada. Ia tampak seperti malaikat hidup walaupun banyak orang yang mengatakan bahwa ia adalah pria yang buruk rupa karena terus menerus mengenakan topeng. Orang-orang berspekulasi dengan semau mereka tanpa mencari tahu kebenarannya.


Tapi Liam juga sama sekali tidak bereaksi apapun dan membiarkan mereka semua hidup dengan ekspektasi mereka yang tidak sesuai dengan realita.


"Tuan!"


Liam pun membuka matanya perlahan saat mendengar asistennya tersebut memanggilnya. Pria itu melirik ke arah asistennya itu dengan kening yang berkerut. 


"Ada apa?" tanya Liam dengan suara seraknya. Jika diamati lebih dalam lagi tampaknya Liam tengah menahan begitu banyak beban terlihat dari matanya yang menampilkan tatapan yang sangat kosong.


"Dokter telah keluar dan ingin berbicara dengan mu."


Dokter tersebut merupakan temannya. Liam pun lantas tanpa basa-basi langsung mengikutinya ke ruangan wanita itu. Ia menarik napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan saat melihat dokter itu yang melipat satu tangannya di dada dan satunya lagi menadah seakan-akan tengah meminta sesuatu dari Liam.

__ADS_1


Liam pun mengeluarkan beberapa lembar uangnya dan menyerahkannya kepada pria itu.


"Jika aku tidak memintai mu lebih dulu kau bisa pergi begitu saja."


"Baiklah, aku sudah memberikan apa yang kau inginkan. Sekarang beritahu aku apa yang terjadi pada Amor? Apakah kali ini wanita itu membohongi ku dan ingin menjebak ku? Menurut mu bagaimana?"


Dokter wanita itu dari tadi terus memandangi Liam. Ia tertawa gelak melihat kekhawatiran Liam. Liam tak mengerti kenapa dokter tersebut berani mengejek dirinya. "Ada apa? Kenapa kau sampai tertawa seperti itu? Apakah ada yang lucu?"


Dokter tersebut memukul pundak Liam dengan cukup keras hingga membuat sang empu tersentak.


"Liam, kau sungguh hebat. Apakah kau seorang pedofil? Aku tidak menyangka sampai saat ini bahwa kau akan menjadi seorang ayah. Apakah dia benar-benar anak mu? Atau anak dari pacarnya?"


Liam langsung terkejut. Ia pun menatap ke arah dokter itu dengan tatapan meminta penjelasan. Akan tetapi dokter itu enggan menjelaskannya karena ia tahu Liam pasti akan mengerti.


"Maksud mu dia hamil."


"Hm, aku tidak tahu anak siapa. Apakah itu anak dari pacarnya?"


"Dia hamil anak ku? Jadi seperti itu."


Dokter itu terlihat kegirangan dan menggelengkan kepalanya mengejek Liam.


"Jadi itu benar anak mu?"


Dokter wanita itu mendekatkan bibirnya ke telinga Liam lalu membisikkan sesuatu yang membuat Liam sedikit kesal dengannya.


"Sebuah hubungan yang menarik bukan?"


"Jangan sekali-kali kau mengatakannya pada siapapun. Aku menyuruh kau melupakan itu tapi kau mengungkitnya kembali. Ingat hilangkan ingatannya seolah tidak terjadi apapun."


"Ya, ya baiklah," ucap sang dokter dengan santainya dan tidak takut dengan desakan Liam.


Liam pun menarik napas panjang an keluar dari dalam ruangan dokter itu dengan perasaan menggebu-gebu.

__ADS_1


"Hey kau! Aku belum memberitahukan mu tentang kehamilan suapaya kau bisa menjaganya."


Liam tak mendengarkan dokter yang merupakan temannya itu karena saking kesalnya. Ia pun masuk ke dalam ruangan tempat di mana Amor dirawat.


Amor sedang terlihat sangat depresi dan ia tebak jika Amor sudah mengetahui bahwa ia sedang mengandung. Pasti bagi wanita itu sangat terpukul sekali.


"Amor."


Amor mengepalkan tangannya dengan kuat.


"Diam kau bajingan! Kau lihat, bagaimana keinginan mu terwujud dan itu benar-benar menghancurkan hidup ku. Aku tidak mungkin membunuh anak ku atau membunuh mu karena aku tidak ingin nanti anak ku tahu bahwa aku membunuh ayahnya. Tapi yang paling berat bagaimana caranya aku mempertahankan darah daging dari orang seperti mu?!!" Amor menunjuk ke arah Liam dengan perasannya yang sudah sangat hancur. Berada di posisinya memang sangat menyakitkan.


"Apakah setelah ini kau akan membenci ku selamanya?"


"Aku sudah membenci mu sejak lama dan itu selamanya," ucap Amor membalas Liam dengan puas.


Liam mendekati Amor dan meraih tangan wanita itu. Amor mendecih melihat apa yang dilakukan Liam.


"Amor, aku memang orang jahat. Tapi aku ingin egois dan meminta mu agar menjaga kandungan mu. Aku tahu ini akan sangat membuat tuan muda Karel senang makanya aku meminta mu untuk melakukan itu."


Amor pun langsung diam. Anak ini hadir karena kebencian bukan karena rasa cinta yang dimiliki oleh keduanya. Ia padahal berharap bahwa ia memiliki anak yang lucu dari orang dicintainya. Tapi semua harapan yang ia buat sirna dan penyebabnya adalah Liam.


"Kau menghancurkan ekspektasi ku Liam," ucap Amor lemah dan terlihat sangat depresi.


Amor memandang Liam penuh aka kebencian dan lalu kemudian menampar wajah pria itu dengan sangat keras.


"Aku membenci mu dan sungguh sangat membenci mu," ucap Amor berteriak. Entah naluri dari mana, Liam langsung menghampiri wanita itu dan memeluknya dengan sangat erat.


__________


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.

__ADS_1


__ADS_2