
Ini adalah hari kelima Liam dirawat di rumah sakit. Kondisi pria itu juga semakin membaik. Liam sangat berharap bahwa ia akan secepatnya keluar dari rumah sakit ini karena masih banyak urusan yang harus ia selesaikan.
"Bagaimana dengan perusahaan? Apakah orang-orang itu masih tidak terima?"
"Tenang saja, perusahaan kembali stabil. Aku mengurusnya dengan sangat baik," ucap asistennya yang selama ini bekerja di belakangnya.
"Aku harap mereka semua cepat sadar, mereka terlalu mempercayai Alexander. Padahal pria itu sudah banyak menorehkan prestasi yang buruk bagi perusahaan."
Liam pun berusaha untuk bangkit dari rebahannya. Ia mengeluh kesakitan saat merasakan luka bacokan tersebut.
"Kau tenang saja, semuanya berjalan dengan sesuai rencana."
Liam pun menganggukkan kepalanya puas. Akhirnya setelah penantian bertahun-tahun Ia pun bisa mendapatkan hal ini. Tidak semudah itu bertahan hidup di antara para musuh-musuhnya.
"Bagaimana dengan kabar Oliver? Aku harap untuk waktu dekat dia tidak akan kembali."
"Mata-mata sudah mencari Oliver kemana pun di kota ini tapi masih belum ditemukan."
Liam menghela napas berat. Masih ada satu orang lagi yang sangat berbahaya dan ia harus menemukan Oliver secepatnya dan memberikan hukuman yang setimpal kepada pria itu.
"Kita harus menemukan Oliver secepatnya sebelum ia akan memberontak."
"Baik Tuan. Tapi Anda juga harus menyingkirkan Amora karena semua hartanya diambil oleh Anda dan Anda saatnya ia akan balas dendam, dan itu akan membahayakan posisi anda. Tuan, lihatlah saat ini Anda seharusnya tidak bisa meremehkan Amor. Dia membuat Anda berada di dalam rumah sakit."
Liam menyentuh kepalanya yang sedikit pusing. Memang saat ini ia tidak membutuhkan Amor lagi. Tapi entah kenapa terasa sangat berat saat ingin mencampakan Amor. Apalagi Amor benar-benar sangat berbahaya dan ia tahu akan hal itu.
"Aku tidak bisa berpikir apapun saat ini. Meskipun semua orang mengatakan bahwa Amor sangat berbahaya, tapi menurutku belum waktunya untuk melepaskannya."
"Tuan!" Asisten pria tersebut sepertinya kekeh ingin menjauhkan Amor dari Liam. "Apakah Tuan lupa dengan tujuanmu? Kau akan menyingkirkan siapapun agar bisa mendapatkan apa yang kau inginkan. Sementara itu Tuan tahu sendiri bahwa dia adalah merupakan ancaman."
__ADS_1
Liam memandang ke arah asistennya itu dengan sangat tidak suka. Tempatnya asistennya ini terlalu banyak ikut campur.
"Berhenti berbicara, kau tidak berhak menasehatiku seperti itu. Di sini akulah yang memutuskan Jadi kau tidak memiliki alasan untuk menjauhkannya dariku. Aku lebih tahu darimu," ujar pria tersebut dengan menunjukkan eksistensi kehebatannya.
"Baiklah, maafkan aku telah berbicara seperti itu kepada Tuan."
"Hm," ucap Liam dengan santainya.
Ia pun kembali memejamkan matanya. Selama ini ia berada di rumah sakit, bagaimana dengan Amor di luar sana? Ia mendengar kabar bahwa Amor telah dipenjara. Apakah wanita itu sedang ketakutan sekarang?" Entah kenapa kali ini Liam merasakan ada yang berbeda dan ia takut terjadi sesuatu kepada Amor.
Laki-laki tersebut berharap bahwa Amor akan baik-baik saja. Ia pun memejamkan matanya sembari memberikan harapan bahwa Amor tidak akan disulitkan. Apalagi selama ini penderitaan Amor benar-benar sangat dalam dan wanita itu bahkan sampai terganggu mentalnya. Apakah ia saat ini sangatlah kejam?
"Yovie, kau bantu Amor agar tidak menjadi tersangka. Aku tidak ingin dia mendekam di dalam penjara. Karena penjara yang paling pantas untuknya adalah kamar ku."
_________
Lagipula Amor sama sekali tidak peduli dengan tatapan mereka yang seperti itu kepadanya. Namun saat ini ia merasa heran karena tampaknya ia sedang dibebaskan.
"Apa yang kalian lakukan? Apakah kalian merasa kasihan karena aku masih dibawah umur? Bukannya kalian mengatakan bahwa anak di bawah umur pun harus mendapatkan hukuman yang setimpal."
Tidak lama ketua polisi yang paling menyebalkan itu pun datang. Amor berharap tidak bertemu dengannya lagi akan tetapi sangat sial kali ini ia melihatnya untuk kesekian kalinya. Rasanya umur ingin muntah melihat wajah songongnya itu.
"Kau harus berterima kasih kepada Liam? Ketika dia sedang ditusuk pun dia masih bisa menyelamatkanmu. Dia bersaksi bahwa kau tidak terlibat pada pembunuhan keluargamu."
Amor pun langsung kaget. Dari ekspresi wajahnya pun wanita itu seakan tidak percaya bahwa Liam akan melakukan hal tersebut.
"Liam? Dia benar-benar gila. Seharusnya dialah yang dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa. Tapi baguslah Jika dia membebaskanku, kali ini aku mungkin akan mendapatkan cara untuk membuatnya meninggal. Dia sedang membebaskan malaikat pencabut nyawanya," ucap Amor dengan tatapan dingin namun merasa sedikit senang ketika mengetahui bahwa ia akan bebas.
"Apakah kamu merasa senang?"
__ADS_1
Amor pun langsung pergi begitu saja dan seolah mengacuhkan pertanyaan polisi. Lagi pula ya atau resmi dinyatakan bebas dan Amor saat ini bebas akan pergi kemanapun.
Pada saat sampai di depan halaman kantor polisi Ia pun melihat anak buah Liam yang tengah menunggu dirinya. Amor benar-benar muak saat melihat mereka.
"Ada apa? Bukannya aku sudah bebas, kku akan pergi ke mana pun semau ku. Jadi kalian semua tidak berhak untuk menghalangiku."
"Maaf Nona, tapi Anda harus mematuhi perintah. Anda harus mendengarkan tuan muda Liam dan kembali ke rumah."
Amor lantas masuk lebih dulu ke dalam mobil yang menjemputnya. Bukan ia berarti luluh akan tetapi dirinya sudah lelah untuk berdebat. Lagipula ia tak memiliki alasan untuk kabur karena ayahnya masih di sana dan tidak mungkin ia meninggalkan ayahnya.
Para anak buah Liam itu lantas membawanya kembali ke rumahnya. Sejujurnya ia sangat merindukan rumah tersebut.
Tak lama ia sudah sampai di halaman rumahnya. Amor memperhatikan rumah itu dengan seksama. Rasa rindu yang sangat dalam dengan rumah itu kembali membucah. Namun perasaan haru tersebut seketika hilang dan digantikan dengan wajah masam ketika ia melihat sosok yang paling dibencinya berada di depan sana.
Amor lantas masuk ke dalam rumah tanpa mempedulikan Liam sama sekali. Ia harus bisa hidup dan berpijak dengan kemauannya sendiri.
Amor langsung menuju ke ruangan ayahnya. Perasaannya sangat tidak tenang selama ini karena ayahnya ia tinggalkan sendiri dan ia takut jika sang ayah akan mendapatkan perlakuan buruk dari Liam.
Amor berlari kencang ke kamar ayahnya dan membuka pintu itu dengan kasar. Sedetik kemudian ia baru tersadar bahwa itu akan membuat ayahnya terganggu.
Amor mengusap dadanya dan merutuki kesalahannya. Kemudian ia pun menutup pintu itu dengan sangat pelan.
"Papa, maafkan aku karena sudah membuatmu sampai terkejut seperti ini."
_______
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.
__ADS_1