Menikahi Bodyguard Buruk Rupa

Menikahi Bodyguard Buruk Rupa
Part 32


__ADS_3

Amor mengingat bibirnya karena merasa sangat tidak nyaman dengan keadaannya sekarang. Mengetahui hal yang seharusnya tidak ia ketahui membuatnya menjadi tidak tenang. Memangnya salah ia mengetahui bahwa ada yang selamat saat pembantaian itu.


Amor pun menundukkan wajahnya dengan perasaan cemas. Pasti ada niat buruk yang ingin disembunyikan Liam dari dirinya.


"Tidak, tidak bisa. Aku harus menghentikan niat buruk pria itu sebelum ia menjalankan aksinya. Tapi harus bagaimana? Semua rencana ku gagal dan tiada satu pun yang berhasil. Ini sungguh membuatku tidak bisa tenang," ucap wanita itu dengan hari yang gelisah.


Amor dari tadi tidak henti-hentinya mondar mandir dan sambil menggigit  bibirnya seakan tengah frustasi dengan diri sendiri yang sampai sekarang belum berhasil membuat Liam tersakiti dan membayar semua perbuatannya.


Amor pun pada akhirnya menyerah. Wanita itu memutuskan untuk duduk setelah sekian lama mondar-mandir tidak jelas. Ia harus mendapatkan ketenangan agar dirinya bisa berpikir jernih lagi.


Amor memejamkan matanya seraya memaksa otaknya untuk bekerja keras mencari rencana. Mencelakai pria itu? Jelas bukan sebuah rencana yang baik karena dirinya tahu betul bahwa beberapa kali rencana tersebut gagal. Itu artinya lian tidak mudah untuk dicelakai secara diam-diam.


Jadi Amor harus bagaimana? Semua yang ia lakukan selalu saja salah. Akibatnya wanita itu merasa pusing sendiri.


Amor yang sudah merasa sangat lelah dengan dirinya itu lantas melempar selimutnya dengan asal ke lantai.


"Apa yang membuatmu sampai seperti ini? Kau terlihat sangat tidak senang, apakah sesuatu sedang mengganggumu?" tanya Liam dengan memungut selimut itu dan meletakkannya dengan sangat rapi di atas kasur.


Amor mengejutkan bibirnya dan itu ia terlihat sangat manis. Liam sendiri tidak bisa menarik hal tersebut dan ia tersenyum lebar.


"Kau tahu, aku sekarang tidak ingin diganggu."


"Tapi kau terlihat sangat manis jika kau seperti ini, rasanya aku ingin melakukan sesuatu di ruang kerja ku sehingga membuatmu sampai sekesal ini," sindir Liam membuat Amor merasa sangat tersinggung karena pria itu sengaja membuat dirinya mengakui sendiri telah menemukan sesuatu di ruangan laki-laki itu.


"Apa peduli mu? Kau tidak harus melakukan itu. Sudahlah, aku ingin mengerjakan tugas-tugas ku tadi." Amor langsung menutup mulutnya karena sengaja tidak keceplosan bahwa ia melupakan tugas yang diberikan oleh Liam. Pasti setelah ini pria itu akan memarahinya secara habis-habisan.


Maka gawatlah dirinya. Untuk menghindari pertengkaran yang lebih lama lagi Amor pun memberikan senyum manis kepada pria itu dan tentunya terlihat jelas bahwa senyuman tersebut sangat palsu.


"Kau belum mengerjakan tugasmu? Jadi apa yang kau lakukan selama ini? Kau terlalu melonjak, Untung saja aku cepat pulang jika tidak mungkin kau tidak akan patuh lagi denganku."


Amor pun memandang ke arah liang dengan sangat serius. Wanita itu berkacak pinggang seolah-olah menantang Liam.


"Kau mengatakan cepat pulang bukan? Itu artinya seharusnya kau masih lama pulang, kenapa kau bisa pulang secepat ini?" tanya Amor seraya menyipitkan matanya untuk menyelidiki sesuatu.


"Tidak seharusnya kau tahu. Tapi karena kau sudah sangat sudah penasaran sekali, maka aku akan mengatakannya bahwa aku mengetahuinya dari Mila."


"Mila," gumam Amor dengan sangat lemah seraya mencengkram kedua telapak tangannya dengan sangat kencang. Bisa-bisanya wanita itu menghianati dirinya. Awas aja iya pasti akan melakukan sesuatu atas ketidakadilan ini. "kenapa kau harus mengerjakan seorang pelayan hanya untuk memata-matai ku."


"Jika tidak seperti itu lantas aku harus bagaimana?"

__ADS_1


"Aku bisa mempekerjakan pelayanku sendiri dan mengajinya sendiri."


Liam pun mengangkat satu sisi bibirnya. Kemudian laki-laki itu melipat tangannya di dada seraya melangkah dengan sangat pelan ke arah Amor.


"Kau sangat yakin bisa menggajinya? Apakah benar kau bisa membayar pelayan? Apakah kamu memiliki uang?"


Iya sama sekali Amor tidak memiliki uang sepeserpun karena dirinya juga tidak pernah berbelanja dan semuanya diberikan oleh Liam.


"Kau di sini sengaja aja untuk menghinaku bukan?"


Amor pun meludah dengan sangat marah di hadapan pria itu dan kemudian dengan beraninya ia menarik dasi laki-laki tersebut sehingga Liam sangat dekat dengannya. Amar memandang diam dengan tatapan tajam seakan-akan ia tidak akan kalah dengan pria itu.


Namun mata mereka saling bertemu tatapan Amor yang semuanya sangat tajam berubah menjadi terpana melihat bola mata yang sangat indah milik Liam.


Liam pun sama, laki-laki tersebut sangat terkesima dengan kepolosan wajah Amor. Tanpa sadar ia menelan ludahnya sehingga jakunnya bergerak.


Amor yang tepat berada di depan jakun Liam pun melihat itu langsung merasa panas. Apalagi pria itu berkeringat membuatnya terlihat sangat seksi.


Amor tanpa sadar mengangkat tangannya dan menyentuh jakun laki-laki tersebut. Liam pun merasa sangat tergoda dengan sentuhan lembut Amor.


Iya meraih tangan kecil Amor yang menyentuh jakunnya tersebut dan menggenggamnya. Dan pada saat itulah Amor langsung tersadar dengan perbuatannya sendiri. Wanita itu menarik tangannya dan membuang pandangannya.


"Ada apa dengan mu?" tanya Liam di telinganya dan hembusan napas pria itu terasa di kulitnya.


"Liam berhentilah."


"Kau tidak menginginkannya?"


Amor menatap ke arah pria tersebut yang memiliki perawakan yang sangat atletis. Kenapa harus seperti ini sih? Padahal niatnya ingin membuat laki-laki tersebut jatuh cinta kepadanya namun kali ini ialah yang lebih dulu jatuh cinta. Jika Sudja seperti ini mampukah dirinya menyakiti Liam tanpa harus ia juga merasa tersakiti karena kehilangan pria itu.


"Tidak! Kau adalah penjahat dan telah membunuh keluarga ku."


Wajah Liam yang semuanya sangat bersahabat dengan Amor pun langsung berubah menjadi muram seketika. Kenapa Amor harus mengungkitnya di saat waktu yang sangat tidak tepat.


"Apa maksudmu? Aku baru saja melupakannya dan kau malah mengatakannya."


"Ya aku akui kalau aku sempat terhasut oleh rasa tertarik kepadamu, tapi aku tidak akan pernah jatuh cinta kepadamu dan berusaha untuk melupakanmu karena kau adalah pembunuh keluargaku."


Seketika nafas Liam pun langsung berhembus sangat cepat. Dadanya kembang kempis dan ia lantas menarik tangan Amor dan membanting wanita tersebut ke atas kasur.

__ADS_1


"Liam! Apa yang kau lakukan! Ini akan membahayakan anak ku."


Liam pun memandang ke arah perut Amor. Benar secara tidak langsung ia telah membahayakan anak yang ada di dalam kandungan Amor. Laki-laki itu sangat merasa bersalah dengan anaknya dan kemudian mengusap perut Amor dengan sangat hati-hati.


"Walaupun aku seorang penjahat seperti apa yang dikatakan oleh ibumu, akan tetapi aku akan berusaha menjadi sosok Ayah yang akan melindungimu dan tidak akan pernah membuatmu kecewa," ucap laki-laki tersebut cukup menakjubkan di telinga Amor.


Akan tetapi Amor tahu jika semua itu hanyalah bullshit. Amar membuang wajahnya ke samping seraya meneteskan air mata. Walaupun ia menolak keras setiap apa yang dikatakan Liam kepada anaknya Tapi tetap saja ia merasa terharu dan tidak tega untuk menyakiti ayah dari bayinya.


Kenapa bayi itu harus ada di saat yang tidak tepat? Amal menjadi orang yang sangat tidak tega karena sejatinya seorang wanita adalah perasa. Ia pun mengepalkan tangannya dengan perasaan marah.


"TIDAK!! AKU BENCI DENGAN MU LIAM!?" teriak Amor yang sudah kehilangan kendali.


Liam yang sedang mengusap perut Amor itu langsung terkejut dan menata ke arah wajah Amor.


"Amor!"


Nafas Amor tersengal-sengal dan wanita itu menarik rambut Liam dengan sangat kencang sehingga membuat pria itu mendesah kesakitan.


Amor bangkit dan membuat posisinya menjadi duduk. Iya lantas menampari wajah Liam yang mengenakan topeng tersebut dengan sangat keras.


"Kenapa kau harus hidup? Kenapa kau menghancurkan hidup kami? Aku sangat membencimu Liam."


Amor lantas mendorong tubuh Liam. Liam sama sekali tidak bergerak dari posisinya. Merasa menjadi korban tamparan dari Amor terus-menerus membuatnya sedikit kesal sehingga ia menahan kedua tangan Amor.


"Amor hentikan!"


Amor pun menghela napas putus asa. Kemudian ia tertawa seperti orang gila.


"Apakah kau tidak melihat bahwa aku sangat sakit saat ini! Apakah kau tidak mengerti bagaimana perasaanku, kenapa! Kenapa harus kau! Bahkan aku dulu sangat mempercayai mu Liam, aku pikir kelakuanmu ketika aku kecil itu sangat tulus. Tapi tidak disangka-sangka semua itu hanya karena harta yang aku miliki. Kau mengambil semua harta kekayaanku, kau membohongiku ketika aku sudah sangat percaya dengan mu. Aku memang sangat menyayangimu karena kau lah yang selalu berada di sampingku selama pertumbuhanku. Kita tumbuh bersama-sama Liam, apakah kau tidak mengetahui perasaanmu sendiri? Bukankah kita dulu teman?"


Liam menundukkan kepalanya. Memang Ia memiliki rasa sayang yang sangat dalam kepada Amor, dan karena itu pulalah yang membuat dirinya ingin menikahi wanita itu dan tidak ingin dijauhi.


"Ya aku menyayangimu. Maka dari itu aku membiarkan kau ada di sini dan selalu mengekang mu, karena aku cemburu dan aku berpikir hanya aku yang boleh dekat dengan mu."


________


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.

__ADS_1


__ADS_2