
Mereka pun saling melepas rindu. Dari tadi saling bercengkrama sebenarnya teman-teman Amor sangat penasaran kenapa tiba-tiba Amor tengah mengandung. Mereka benar-benar terputus dengan Amor dan tidak bisa mendapatkan informasi Amor secuil pun.
Ini pun mereka berusaha sebisa mungkin untuk menemui Amor dan meminta izin kepada Liam. Mereka tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya namun beberapa dari teman-temannya tersebut memang beranggapan bahwa Liam adalah sosok yang jahat.
Mereka benar-benar membenci Liam yang tidak bisa membuat mereka bertemu dengan Amor. Namun hari ini mereka sedikit berbangga hati karena melihat Amor di depannya.
"Kenapa Liam bisa melarangmu untuk bertemu kami?" tanya anak yang tiba-tiba membuat Amor sedikit terkejut. Ia pun menunjukkan kepalanya dan menggelengkannya. Bagaimanapun juga memang bukan karena dirinya tapi karena pria itu sendiri.
"Aku sama sekali tidak pernah melarang kalian untuk datang ke sini. Hanya saja pria itu memang sedikit temperamental dan dia paling berkuasa di rumah ini setelah kepergian keluargaku."
Teman-temannya tersebut ingin dengar cerita dari Amor langsung terkejut dan menatap satu sama lain. Sebenarnya mereka ingin bertanya lebih dalam lagi namun terlihat dari wajah mereka tampaknya mereka dengan menahan ketakutan yang sangat dalam.
"Amor, apakah kami boleh bertanya lebih lama lagi. Apa yang sebenarnya terjadi kepadamu? Benarkah seperti yang kau katakan dulu bahwa orang yang menghabisi keluargamu adalah Liam? Aku sangat yakin bahwa yang kau ucapkan benar karena tidak mungkin tiba-tiba kau tertembak. Selain itu kenapa kau bisa hamil sekarang? Apakah pria itu memperkosa mu?"
Amora tidak ingin menceritakan lebih dalam lagi takut mereka terancam. Tapi semua yang dikatakan oleh temannya itu adalah kenyataan. Amor hanya mengangguk pelan sebagai balasan. Mereka semua terdiam kaku tidak menyangka ada orang sejahat Liam.
"Kenapa kau tidak melarikan diri?" sahut temannya yang lain karena merasa gemes dengan Amor karena terlalu lambat. Amor menggelengkan kepalanya dan wanita itu memiliki tatapan yang penuh dengan rasa putus asa. Teman-temannya banyak yang tidak menyangka bahwa itu adalah Amor yang mereka kenal sebelumnya. Mereka pun menatap ke arah temannya yang memberikan pertanyaan yang seperti itu, apakah dia benar-benar tidak takut sehingga memiliki nyali yang sebesar itu.
"Tidak usah dipikirkan. Kalian tahu jika aku memiliki kalian dan aku Sudja sangat bahagia. Kalian tidak boleh terlibat dalam masalah ini."
Temannya belum cukup umur mereka hanyalah seorang remaja yang tidak mengetahui apapun jadi Amor tidak ingin menyeret teman-temannya dan merasakan hal yang sama dengannya.
"Amor, kenapa kau seperti ini? Apakah kau ingin disakiti olehnya lebih lama lagi. Kau bisa melaporkannya ke polisi," ucap mereka memberikan pencerahan untuk Amor.
Polisi? Benarkah ia bisa melapor ke polisi. Amor menjadi lemah dan menundukkan kepalanya kareja keadilan tak pernah memihaknya.
"Benarkah? Apakah seperti itu aku bisa melaporkannya ke polisi. Jika bisa sudah dari dulu orang itu ditangkap dan tidak berada di rumah ini lagi. Tapi apakah kalian tahu aku seringkali melapor ke polisi namun akulah yang tertangkap."
Mereka semua pun prihatin kepada kehidupan Amor yang sangat berat.
"Amor, kau bilang pelakunya adalah Liam, apakah kau sudah tahu berita di luar sana? Saat ini polisi tengah menyelidiki kasus tersebut dan mengatakan bahwa terduga pelaku adalah Oliver, seingatku kembali adalah sepupu mu." Jujur Amor tidak tahu apapun tentang dunia luar karena handphonenya tidak ada sertai tak boleh menonton televisi. Hal itulah yang membuat dirinya tidak mengetahui berita tersebut.
Amor pun seolah menjadi seorang patung ketika mendengar bahwa Oliver dijadikan terduga tersangka.
__ADS_1
"Apa yang baru saja kalian katakan itu adalah berita yang sangat valid."
"Iya Amor berita itu heboh di mana-mana karena Oliver lah yang melarikan diri dan beberapa barang bukti diarahkan kepada Oliver. Kau bisa melihatnya sendiri." Amar berlangsung mengambil handphone temannya dan mencari beritanya.
Memang benar apa yang dikatakan oleh teman-temannya tersebut berita bahwa Oliver lah yang terduga pelaku tersebar di mana-mana. Amor tidak bisa berbuat banyak saat melihat berita itu. Hatinya sudah lemah dan pandangannya pun berkunang-kunang.
"Amor, ada apa denganmu? Apakah kau sakit,"panik teman-temannya melihat nomor yang menahan rasa sakit di kepalanya. Ia pun berusaha mengerjakan matanya dan menyadarkan dirinya
"Apa yang sebenarnya terjadi, apakah kau pernah sakit dan sama sekali tidak diobati?" Amor menggelengkan kepalanya bawa hal itu tidak benar.
"Bukan seperti itu maksudku, tapi kalian tahu sendiri lah bagaimana orang-orang di sini yang sangat kejam dan hampir membuat ku sangat tidak percaya dengan takdirku saat ini."Amora salah tengah menceritakan kesedihannya sembari menahan rasa sakit pada dirinya.
Kalian yang baru masuk dalam rumah yang terkejut melihat Amor tengah menahan pusing.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Amor sampai seperti ini? Sama sekali tidak ada yang berani menjawab pertanyaan Liam. Mereka pun menundukkan kepalanya dan Liam merasa muak dengan mereka yang lambat menjawab.
Amora melihat hal tersebut pun merasa muak dengan Liam. Pria itu telah menakuti temannya sehingga membuat mereka tidak berani bertatapan.
"Liam, apa yang baru saja kau lakukan? Kau telah membuat mereka sangat ketakutan. Berhentilah bersikap menakut-nakuti. Aku seperti ini bukan karena mereka."
Amor menahan napasnya melihat teman-temannya satu persatu meninggalkan dirinya. Tidak ada lagi orang yang bisa menolongnya, semuanya pergi dan tidak berani dengan Liam.
___________
"Apa yang sudah mereka katakan? Aku benar-benar menyesal karena telah mengizinkan mereka datang untuk menjengukmu. Pasti mereka tidak bisa menutup mulut dan mengatakan apa yang mereka lihat."
Nomor yang tengah mengoleskan bedak ke pipinya pun langsung menata ke arah pria itu. Ia pun tidak setuju dengan pendapat Liam.
"Berhentilah berpikir yang tidak-tidak dan membuat mereka ketakutan. Kau sangat bajingan apakah kau tahu itu? Aku berharap jika kau akan mengerti. Mereka jelas terkejut melihat aku yang tiba-tiba hamil, tapi jika kau ingin melakukan sesuatu yang buruk kepada mereka maka itu bukanlah pilihan yang bagus karena aku benar-benar membunuh mu dan jika tidak berhasil maka aku akan membunuh diri ku sendiri." Amor tahu jika Liam menyayangi tubuhnya sehingga pria itu tidak akan berani melakukan hal tersebut.
"Baiklah aku tidak akan melakukan apapun kepada mereka."
Amor sedikit bisa lega ketika Liam mengatakannya walaupun ia benar-benar belum yakin bahwa Liam akan mengikutinya.
__ADS_1
"Aku sangat berharap bahwa kau benar-benar memegang ucapanmu itu."
Liam ampun pergi begitu saja dari kamarnya. Pasti setelah ini ia merasa sangat sakit hati dengan apa yang ia lakukan tersebut.
"Semoga dia bisa tersadar dengan perbuatannya," ucapnya dalam hati seraya meneteskan air mata karena merasa benar-benar sangat sakit hati dengan kenyataan yang saat ini ia harus terima.
"Tidak mungkin hidup ku akan seperti ini jika aku tidak mengenalnya. Papa yang terlalu baik membawa pria itu ke dalam kehidupan kami, andai saja Papa tahu yang sebenernya mungkin mereka tidak akan seperti ini dan mengalami penderitaan yang sangat panjang."
Amor menarik napas dan kemudian menghembuskannya perlahan. Ia harus bisa bertahan di tengah kekacauan yang dibuat oleh keluarganya sendiri. Ia tak mengerti kenapa mereka bisa seteledor ini.
"Andai aku ingin mengetahui semuanya dari awal, mungkin om dan Tante ku tidak akan seperti ini." Penyesalan tetaplah di belakang.
Berbicara tentang penyesalan, apakah pria itu masih memiliki perasaan semacam itu? Apakah dia masih merasakan penyesalan?
Amor melangkah keluar dari dalam kamar dan menatap ke arah luasnya ruangan yang ada di depan. Rumah ini tak lagi menjadi miliknya dan Amor tahu bahwa semua ini tak berguna lagi.
Wanita itu memutuskan untuk menjenguk Ayahnya saja dan menceritakan segalanya kepada ayahnya agar perasaannya tidak terlalu terbebani ketika sudah menceritakan hal tersebut.
Amor membuka perlahan pintu kamar ayahnya dan melirik ke dalam dengan perasaan sedih.
"Papa, apakah kau baik-baik saja hari ini?" Amor menatap ke arah suster dan memberikan senyum lebar.
Suster itu langsung mengerti dan keluar dari kamar Amor
Setelah itu Amor menarik napas panjang dan duduk di samping ayahnya. Ia meraih tangan sang ayah dan kemudian menangis.
Karel yang melihat hal itu merasa sangat bersalah dengan Amor.
"Maafkan aku," ucap Karel dalam hati.
__________
TBC
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.