
Amor tercengang mendengar pengakuan pria itu. Ia seakan tidak percaya setelah mendengarnya secara langsung. Benarkah Liam menganggap dirinya seperti itu? Betapa mengerikannya selama ini ia hidup di lingkungan obsesi seseorang.
Amor ma menggelengkan kepalanya seakan tidak percaya. Wanita itu terkekeh seolah-olah tengah menertawakan diri sendiri yang sangat konyol.
"Jadi pandanganmu seperti itu kepadaku? Kau memang benar-benar sangat mengerikan Liam, tidakkah kau tahu bahwa itu adalah perbuatan pedofil? Aku benar kan, kau tahu bukan? Apakah karena ini pula kau ingin menikahiku."
Liam sendiri tidak tahu alasan jelas ia menikahi Amor, laki-laki tersebut juga masih bertanya-tanya alasannya karena ketika ia menikahi Amor itu sesuai dengan keinginan hatinya yang sangat tidak jelas.
"Aku tahu, akan tetapi aku sangat tidak percaya dengan mu. Seakan apa yang barusan aku dengarkan itu hanyalah sebuah mimpi. Aku tidak menyangka bahwa itulah yang kau rasakan. Bukankah itu merupakan sebuah obsesi."
Liam menganggukkan kepalanya karena memang sepertinya ia pun sangat terobsesi dengan Amora. Ia sendiri tidak bisa menampiknya.
"Aku tahu, tapi salahkah aku?"
Amor menatap ke arah Liam dengan sangat tidak percaya. Apakah pria itu masih memiliki hati? Ia menggelengkan kepalanya seraya menertawakan pria itu.
"Kau benar-benar gila? Itu salah! Apalagi kau membunuh keluargaku! Siapa yang mau hidup dengan orang yang sudah menghancurkan keluarga dan menguras harta ku?"
"Hiduplah dengan damai dengan maka kau akan mendapatkan semua harta itu kembali."
Amor pun menganggukkan kepalanya seraya menatap serius ke arah laki-laki tersebut.
"Baiklah jika seperti itu, apakah kau bisa mengembalikan semua keluargaku yang sudah mati di tanganmu? Jika kau bisa maka aku akan bersamamu."
Liam pun menghindar dari Amor dan kemudian pergi dari kamar mereka. Amor meneteskan air matanya dan kemudian tertawa getir. Sejujurnya ia sangat senang bahwa Liam sedikit memiliki rasa sayang kepadanya. Tapi ketika ia tahu bahwa rasa sayang itu hanyalah berupa obsesi maka harapannya musnah begitu saja.
Amor pun memukul kasur dengan sangat kencang seolah-olah ingin mengungkapkan hatinya yang sangat sakit.
"KENAPA HARUS AKU? KENAPA AKU YANG LEBIH DULU JATUH CINTA KEPADANYA? KENAPA AKU TIDAK PERNAH BISA MEMBALASKAN DENDAM YANG SANGAT MEMBARA DI HATIKU INI? SELALU SAJA ADA HALANGANNYA! AKU MEMBENCI ITU! SANGAT MEMBENCINYA!!" Amor menahan napasnya dan menghapus air matanya dengan kasar.
Ia sudah sangat lelah dengan semua ini. Amor nanti saja ingin menyerah dengan hidupnya sendiri namun ia mengingat misinya selama ini belum tercapai.
Wanita itu menyentuh perutnya sejenak untuk menenangkan perasaannya yang tidak terkontrol. Merasakan bulatan perutnya yang semakin membesar membuatnya sedikit terharu karena tidak menyangka di usianya yang masih sangat muda telah memiliki seorang anak.
Walaupun ia membenci ayahnya namun ia akan tetap menyayangi anak ini seperti tidak pernah terjadi apapun dalam keluarganya karena anak ini hadir tanpa keinginannya sendiri.
"Mungkin setelah kehadiranmu kau dapat membantuku. Bisa saja setelah ini kau akan membenciku jika kau tahu bahwa akulah yang akan merusak kehidupan ayahmu nanti." Amor sendiri sangat ragu dengan ucapannya. Bisakah ia menghancurkan kehidupan Liam yang seperti ia katakan? Entah kenapa Amor merasa bahwa ia takkan pernah bisa karena Liam selalu mendominasi dari dirinya.
__ADS_1
___________
Liam berdiri di depan Amor yang sedang mengerjakan soal Fisika. Wanita itu mengerutkan keningnya heran.
"Ada apa?"
"Sepertinya kau sangat lelah sekali, aku tahu bahwa kau pasti membutuhkan jalan-jalan. Maka aku akan membawa mu ke tempat yang paling ingin kau kunjungi."
Amor tak percaya dengan tawaran pria itu sebab selama ini ia tak boleh keluar dari rumah walaupun hanya beberapa langkah dari pagar rumah mereka. Liam benar-benar keterlaluan dan pria itu memegang teguh ucapannya untuk memenjarakan Amor di dalam istana megah ini.
Mendapatkan tawaran seperti itu Amor pun menganggukkan kepalanya. Meskipun ini adalah trik pria itu akan tetapi ia tak peduli yang penting ia bisa memanfaatkannya.
Amor bergegas ingin ke kamarnya dengan berlari, akan tetapi Liam dengan sigap memperingati wanita itu.
"Berhati-hatilah, Aku tidak ingin terjadi sesuatu kepada anakku." Amar menarik nafas panjang dan kemudian menganggukan kepalanya. Setelah itu perempuan tersebut pun melangkah dengan pelan dan hati-hati.
Liam yang melihatnya sedikit tersenyum. Ia sangat menyukai Amora yang penurut, namun sayangnya wanita itu terus membantah ucapannya sehingga mereka seringkali terlibat dalam pertengkaran.
"Andai saja kau terus seperti ini, mungkin aku sangat bahagia."
Dia pun mulailah nafas panjang dan kemudian meninggalkan ruangan itu. Iya duduk di sofa di depan pintu utama untuk menunggu Amor yang siap-siap.
"Ini adalah kesempatan yang bagus untuk mencari Oliver. Aku tidak membiarkan Oliver jatuh ke tangan mereka."
Amor mengangguk mantap dan ia juga telah menyiapkan mentalnya. Ia tahu apa yang dilakukannya sangat berisiko.
Setelah rapi dengan pakaiannya, Amor langsung membungkus pakaian yang lain agar ia bisa gunakan untuk kabur dari pria itu, persetan tertangkap lagi yang penting ia bisa menyelamatkan Oliver.
Amora keluar dan menemui Liam yang sudah menunggunya. Ia melihat pria itu yang memainkan ponsel, hal itu membuatnya sedih karena sudah lama tak menyentuh benda itu. Rasanya sangat rindu sekali.
"Amor!"
"Hm, mari kita pergi." Amor pun berjalan lebih dulu.
Rupanya Liam tidak senang diabaikan oleh Amora. Ia meraih tangan Amor dan menggenggamnya. Amor mengerutkan keningnya dan melirik ke ara tangannya yang saling bertautan dengan Liam.
"Ada apa denganmu?"
__ADS_1
"Kau sudah mengetahuinya bahwa aku terobsesi dengan mu, seharusnya kau tidak bertanya lagi kenapa aku menggenggam tangan ini."
Amor memutar bola matanya. Menjadi obsesi seseorang bukanlah hal yang menyenangkan akan tetapi penuh dengan kesengsaraan. Perasaannya menjadi sangat tidak tenang dan hidupnya hanya dipenuhi dengan bumbu-bumbu mengerikan.
Liam membukakan pintu mobil untuk Amor, wanita itu terpaksa duduk di samping Liam karena ia sendiri tak memiliki pilihan.
___________
Walaupun ia berencana ingin melarikan diri akan tetapi Amor sengaja mengajak Liam lebih dulu ke ruma terakhir Tante dan om yang merawatnya.
Dari jauh saat ia melihat kuburan tante dan omnya membuat hati Amor sangat sakit. Mereka dikuburkan di samping ibunya. Melihat tiga kuburan itu sontak membuat air matanya jatuh.
Amor melangkah ke arah kuburan tersebut dengan perasaan lemas. Selamat dari pembantaian yang sangat sadis tersebut merupakan hal yang paling membuatnya trauma, karena itulah kenapa ia sempat divonis gangguan psikologis.
"Mereka semua mati di tanganmu."
Liam tidak bersuara sama sekali, Amor melirik ke arah pria itu dan rupanya pria tersebut tengah terfokus dengan kuburan ibunya. Seperti ada tatapan yang sangat misterius dari netra indah milik Liam. Ia sendiri tidak mengerti dengan tatapan pria tersebut yang terlihat lemah dan tidak seberani biasanya.
"Kenapa kau menatap kuburan ibuku seperti itu? Apakah ada sesuatu?" tanya Amor seraya memandang ke arah Liam dengan menyelidiki.
Kemudian ia mendengar helaan napas kasar dari pria tersebut. Ia memandang Amor berbeda dan ada emosi yang sangat dalam.
"Lakukan apa yang ingin kau lakukan, aku tidak nyaman di sini."
"Apakah kau sedang menyesal karena membunuh mereka?" tanya Amor seraya memandang sedih ke tiga kuburan itu.
"Berhentilah mengatakan itu, aku tidak senang mendengarnya. Cepatlah kau berdoa untuk mereka."
Amor menganggukkan kepalanya. Mula-mula ia membersihkan kuburan tersebut dan menaburkan kembang di atas kuburan mereka. Setelah itu barulah ia mendoakan mereka aar tenang di sana dan menunggunya setelah menyelesaikan tugas.
"Liam, saat aku melihat kuburan mereka rasanya aku ingin membunuh mu di hadapan mereka."
"Jangan mengatakan itu karena aku tidak akan mati di tanganmu," sindir Liam untuk Amor yang jelas-jelas tak akan bisa membunuhnya seperti yang diharapkan wanita tersebut.
_________
TBC
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.