Menikahi Bodyguard Buruk Rupa

Menikahi Bodyguard Buruk Rupa
Part 19


__ADS_3

Amor meneteskan air matanya di dalam kamar mandi. Hanya suara Isak tangisnya yang terdengar memenuhi ruangan tersebut. Tidak ada pilihan lain untuk bertahan hidup. Mundur perlahan-lahan untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Pengorbanan yang sangat menyakitkan.


Amor menatap ke arah dirinya yang ada di dalam kaca kamar mandi itu. Ia tampak termenung melihat nasibnya yang sangat berantakan tersebut. Wanita itu terkekeh seolah-olah tengah menertawakan dirinya yang saja menyedihkan di dalam kaca tersebut.


"Kau memang cukup menyedihkan. Kapan semua ini akan berakhir? Kapan aku bisa bersekolah kembali? Apakah hanya karena ini sekolah ku menjadi terlantar? Liam, kau memang jahat. Apakah kau sama sekali tak memiliki hati?"


Amor menghapus air matanya dengan sangat kasar menggunakan pergelangan tangannya. Wanita itu seolah tengah meminta keadilan kepada dirinya tersebut. Tidak ada yang akan peduli dengannya selain dirinya sendiri.


"Apakah semua orang hanya bisa memandangku dengan sebelah mata? Tidak adakah yang sadar bahwa aku telah menyatakan yang sebenarnya." Amor teringat bahwa dirinya tidak memiliki kekuasaan lebih. Ini akibat dirinya yang tidak bisa belajar untuk mengurus asetnya sendiri. Bahkan ia telah untuk menjaga harta tuan muda karel yang diamanatkan kepadanya. Amor sendiri sudah mengetahui bahwa semua harta itu telah di atas namakan nama Liam.


"Bukannya b******* itu harus mati? Dia harus merasakan apa yang aku rasakan terlebih dahulu."


Amor menarik nafas panjang dan kemudian membasuh wajahnya dengan sangat kasar. Setiap mengingat kejadian malam tadi membuat dirinya trauma dan ingin berteriak sekencang-kencangnya. Akan tetapi ia tak bisa melakukan itu karena semakin dianggap gila. Padahal niat utamanya adalah keluar dari ruangan ini dan lalu membalaskan semua dendamnya kepada orang-orang yang telah menghalanginya.


"Lihat saja, orang yang bekerja sama denganmu mereka akan mati."


Amur tidak main-main dengan ucapannya. Wanita itu menahan nafasnya saat mendengar suara gedoran dari luar. Amar berjalan perlahan dan membuka pintu kamar mandinya dan melihat bahwa itu adalah suster di rumah sakit jiwa.


Suster itu terus memperlakukannya dengan buruk. Ia tidak tahu apakah itu bagian dari suruhan Liam atau tidak. Tanpa sadar Amor pun menarik satu ujung bibirnya seolah-olah tengah menyeringai ke arah wanita tersebut.


Karena semua orang telah menganggap dirinya gila maka ia harus memanfaatkan kesempatan ini. Amor pun dengan cara cukup pasar menarik suster tersebut dan kemudian membawanya masuk ke dalam kamar mandi.


Suster itu terbentuk atas perbuatan Amor yang di luar dugaan. Ia pun berteriak memohon ampun terhadap Amor.


"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku, kau tidak bisa melakukan ini kepadaku. Hai orang gila lepaskan aku."


Amor sama sekali tidak peduli dan kemudian dengan kekuatan penuh ia mencekik leher suster tersebut dan lalu kemudian menenggelamkan kepalanya di bak mandi.

__ADS_1


"Kau selalu menganggapku gila bukan selama ini? Jadi inilah yang dilakukan oleh orang gila sepertiku. Aku tidak akan menjadi tersangka karena aku orang gila," ucap Amor dengan perasaan senang dan lalu kemudian tertawa terbahak-bahak. Mungkin memang ia sudah gila, akan tetapi Amor sama sekali tidak peduli karena pandangan orang lain sudah tercoreng terhadapnya.


Suster tersebut pun sudah tidak sanggup lagi dan lemas. Kemudian Ia pun jatuh pingsan dan Amor yang melihatnya tersebut menyunggingkan senyuman bahagia.


Namun sedetik itu wajahnya langsung muram. Ia memandang ke arah cermin yang memantulkan dirinya. Wanita itu tidak menyangka bahwa ia akan menjadi seorang pembunuh. Ini benar-benar gila dan Amor sendiri tidak menyangka dengannya.


"Apa yang sudah aku lakukan? Kenapa aku melakukan semua ini?" Amor menyentuh kepalanya karena tidak menyangka bahwa dirinya akan menjadi orang jahat. Tapi ketika ia kembali teringat setiap langkah wanita itu yang selalu menakut-nakutinya membuatnya tersadar bahwa ia memang harus melakukan hal tersebut agar orang-orang tidak meremehkannya dan bertindak semena-mena.


Amor memegang kepalanya dengan prestasi lalu keluar dari dalam kamar mandi itu. Ia harus sedikit lebih tenang agar tidak membuat batinnya terguncang.


__________


Perlahan ia pun melihat dunia, Amor mengerjapkan matanya dan yang pertama kali ditangkapnya dalam indra penghilahatannya adalah sosok Liam.


Amor yang trauma dengan pria tersebut atas kejadian tadi malam lantas langsung terbangun dan duduk lalu mundur dengan perasaannya yang sangat panik. Ia benar-benar ketakutan saat ini juga. Akan tetapi maukah pria itu menyelamatkan dirinya.


"Apa yang sudah membuatmu sampai ketakutan seperti ini? Bolehkah aku bertanya dan menenangkanmu?" ucap Liam dan kemudian mengurus pipi Amor dengan sangat lembut.


"Pergi pergi sialan, aku tidak sudi disentuh olehmu."


"Lantas kenapa tadi malam kau seolah-olah sangat menikmatinya? Aku tidak berani berbicara banyak akan tetapi itulah kekuatannya."


Amor menarik nafas panjang dan lalu kemudian menatap ke arah Liam sedikit lebih berani.


"Apakah kau sama sekali tidak mengerti dengan psikologis seseorang? Liam, aku pikir kau lebih mengerti dari diri ku. Kau pasti pernah merasa alami rasa trauma sama denganku kan?"


Liam pun tak percaya dengan Amor yang mengatakannya. Berani sekali wanita itu mengusik tentang kehidupannya.

__ADS_1


"Memangnya tahu apa kamu? Kau Jangan bertindak seolah-olah kau paling tahu di sini, ingat kau harus tahu batasan mu."


Amor lantas tersenyum gusar. "Liam, apakah aku sama sekali tidak bersekolah? Aku juga ingin berpendidikan."


"Ya kau akan sekolah, aka tetapi kau home schooling."


Amor terkejut mendengar kabar itu. Ia memandang ke arah Liam dengan tidak setuju. Liam tidak bisa memutuskannya sendiri dan harus meminta pendapatnya dahulu.


"Apa yang kau lakukan? Aku sama sekali tidak setuju dengan itu. Aku ingin sekolah di sekolahku."


"Kau tidak akan bisa bersekolah di situ lagi karena tidak ada lagi yang peduli dengan mu. Apalagi setelah kau menuduh orang yang tidak tidak. Dengar reputasimu yang pernah masuk rumah sakit jiwa apakah kau tidak takut dibully?"


Amor lantas diam dan ia mengaku kalah. "Ini untuk kesekian kalinya kalah darimu."


"Mungkin akan ada lagi. Kau jangan menjadi ancaman untukku. Aku tahu apa yang kau lakukan kepada suster itu."


Amor memandang ke arah Liam. Rupanya ia sudah ketahuan.


"Memang orang menganggap jika kau adalah orang gila. Tapi banyak di sini yang tahu kau tidak gila."


"Sudah aku duka bahwa mereka telah bersekongkol denganmu. Lagi pula aku tidak peduli karena aku tahu mereka juga tidak bisa melaporkan ini ke polisi. Jika kau berani melaporkannya mata sama saja dengan kau mengungkapkan kejahatan yang kalian perbuat."


Kamu saat ini merasa di atas angin dan menang dari Liam.


"Aku akan membawamu pulang dan mengurungmu. Kau memang sangat membahayakan dari dulu tapi aku masih membiarkan mu, karena kau menarik maka dari itu aku ingin melihat tindakan apa lagi yang aka kau mainkan."


________

__ADS_1


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.


__ADS_2