
Amor membuka matanya dan ia terkejut pada saat ini ia tengah berada di dalam ruangan yang serba putih. Apakah saat ini ia sudah tidak lagi berada di dunia dan ia telah mati? Amor terkesiap membayang hal tersebut. Jangan sampai ia mati tanpa bisa menegakkan keadilan dan membersihkan namanya yang sudah tercoreng.
Amor yang sedang sibuk dengan pikirannya itu tak menyadari bahwa seseorang telah masuk ke ruangannya dan menatap Amor dengan tatapan yang tajam dan tak bisa diartikan.
Amor menahan rasa sakit di punggungnya. Ia tadi merasa seperti ada peluru tajam yang menembak tubuhnya. Apakah saat ini ia sedang tertembak? Amor berharap bahwasanya ia masih hidup.
Amor menatap k sekitar dan bersyukur karena ruangan ini tampak seperti sebuah rumah sakit. Itu artinya ia masih memikat harapan yang sangat besar.
"Bagaimana? Apakah kau sama sekali tidak merasa kapok telah melawan ku?" Amor terkejut saat mendengar suara tersebut. Kenapa secara mengejutkan ada suara pria itu di sini. Ah dia lupa siapa Liam yang sebenernya. Mungkin saja orang yang menembaknya itu adalah Liam.
Amor menatap ke arah sumber suara dan kemudian mendecih kasar saat melihat Liam yang duduk di sofa tanpa ada rasa bersalah. Bisa-bisanya penjahat seperti dia bisa diselamatkan oleh takdir.
"Kenapa kau masih duduk di sana? Andai aku lebih cepat mungkin kau tidak akan bisa duduk dengan tenang di tempat mu itu."
Liam lantas menyeringai tajam. Pria itu seakan tengah menunjukkan sisi gelapnya.
"Amor! Apa yang kau inginkan? Semuanya telah berubah dan kau tidak bisa lagi melawan ku. Lihatlah kau bahkan sama sekali tidak bisa mengatakan siapa pelaku yang sebenarnya. Memangnya mereka akan percaya? Tapi bagus karena aku menembakmu jadi kau tidak diduga sebagai pelakunya lagi. Itung-itung aku telah membersihkan namamu, aku berharap bahwa kau mengerti dengan balas budi."
Amor memandang ke arah laki-laki tersebut dan kemudian menatapnya dengan sangat berani. Bisakah laki-laki itu berhenti berbicara dan seolah-olah tengah membelanya. Ia sama sekali tidak terbantu dengan cara pria itu. Ia hampir saja mati dibuat oleh laki-laki tersebut.
"Liam, apakah kau pikir dirimu sudah merasa menang? Aku sama sekali tidak akan membiarkan dendamku luntur begitu saja hanya karena masalah hari ini. Kau menembakku dari belakang tidak membuatku takut untuk melawan mu."
Liam pun sebenarnya sudah sangat geregetan kepada wanita ini. Anehnya ia tidak bisa berlaku lebih sadis lagi kepada Amor seperti korban yang lainnya.
Lia mendekati Amor dan kemudian duduk di samping ranjang wanita itu. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Amor. Lalu membersihkan sesuatu dengan suara yang serak.
"Kau hanyalah gadis berusia 17 tahun, pengalamanmu tidak banyak jadi kau berhenti untuk mencoba melawanku. Karena kau akan tahu sendiri apa yang akan terjadi. Aku tidak tega untuk menyakitimu terus-menerus."
Amor memutar bola matanya dengan sangat malas. Wanita itu seakan-akan terus menyindir diam dan tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh laki-laki tersebut.
"Liam, aku memang baru saja berusia 17 tahun. Aku menjadi cepat dewasa itu karena kau, keadaan dan dirimu lah yang terus membuatku berusaha untuk menjadi wanita dewasa. Padahal seharusnya di umurku seperti ini aku sedang menikmati masa-masa muda ku. Akan tetapi masa mudaku kuhabiskan dengan rasa dendam yang sangat dalam."
Lia menata kamar seolah-olah ia ingin beradu nasib dengan wanita itu.
"Sekarang kau sudah merasakan apa yang aku rasakan selama ini. Inilah yang aku rasakan hidup dalam kebencian."
"Bukan baru sekarang aku merasakannya Liam, aku merasakannya sudah sangat lama. Di saat aku baru saja berumur 5 tahun. Dan selama itu pulalah aku menyimpan dendam yang sangat dalam. Kau bukan apa-apa," ucap Amor.
Liam menarik nafas panjang. Pria itu terdiam karena memikirkan beberapa hal yang seharusnya tidak diketahui oleh Amor. Ia tahu apa yang dirinya telah lakukan membuat orang lain turut merasakan kekejaman dunia yang pernah dirasakan dirinya.
__ADS_1
"Terserah kau mau percaya atau tidak Tapi aku tidak pernah mengharapkan hal ini terjadi."
"Mulutmu tidak akan pernah aku dengarkan. Dari dulu kau tidak pernah berpihak kepadaku. Kau terus mengaku dan tidak memberikan aku kebebasan walaupun aku sangat berterima kasih sekali kamu telah membesarkanku. Akan tetapi aku tidak pernah berharap dibesarkan olehmu aku hanya ingin dibesarkan oleh tuhanmu muda Karel,"ujar wanita itu seraya mengingat tuan muda Karel yang masih terbaring lemah di rumah sakit. Apakah Liam akan membunuh tuan muda Karel juga?
"Saat ini ayahku tengah terbaring lemah di rumah sakit. Apakah kau mau memaafkan ayahku? Walaupun aku sangat tidak yakin akan hal itu tapi aku sangat berharap kau bisa memaafkannya dan tidak membunuhnya."
Liam menarik nafas panjang dan kemudian membuang pandangannya. Walaupun seperti itu ia tidak akan pernah membunuh tuan muda Karel.
"Bagaimanapun juga dia adalah penyelamatku, jadi aku tidak akan membunuhnya."
"Tapi kau melukainya dan membuatnya lumpuh sehingga harus terbaring di rumah sakit bertahun-tahun."
Liam menatap ke arah Amor dengan tatapan sedih. Nomor sendiri terkejut dengan tatapan itu dan kemudian ia melihat Liam yang pergi begitu saja. Ada apakah dengan Liam? Kenapa ia merasa sangat aneh?
"Apakah ada yang tengah dirahasiakan oleh Liam?"
Sementara itu Liam pun keluar dari dalam ruangan Amor dan kemudian menyandarkan tubuhnya ke tembok. Tidak ada yang pernah tahu bagaimana perasaannya yang benar-benar bercampur aduk dan hanya dipenuhi dengan kegelapan.
Liam pun menuju ke toilet dan kemudian ia membasuh wajahnya dengan kasar. Selama ini ia merasa bersalah dengan segala kejahatan yang telah Ia perbuat, tapi ia melakukannya karena ingin membalas dendam. Pun begitu pula dengan ia membunuh keluarga Oliver. Dendamnya sebenarnya belum tuntas karena Liam kehilangan Oliver.
Oliver berhasil kabur dan ia yakin pria itu pasti akan sewaktu-waktu kembali lagi dan membalaskan dendam. Dendam yang tersimpan akan menghasilkan dendam baru.
Itulah yang tengah dihadapi oleh Liam. Pria itu tersengal-sengal dan menarik nafas kasar. Tangannya terkepal dengan sangat erat di bawah sana lalu kemudian meninju kaca yang ada di depannya hingga tangannya pun terluka.
Ia mengidap trauma yang sangat berat. Tidak ada yang tahu mengenai masalahnya selain dirinya sendiri. Kemudian pria itu pun bersandar pada tembok yang ada di dalam toilet tersebut.
Iya berusaha menahan rasa sakitnya sangat luar biasa di jemari tangannya yang terluka. Tapi lama-kelamaan rasa sakit itu tidak berarti lagi bagi dirinya.
Sementara itu Amor sedang termenung di atas ranjang rumah sakit sehingga tiba-tiba polisi pun datang dan ingin mengintrogasi dirinya.
Amor terkejut melihat banyaknya polisi dan juga dokter yang masuk ke dalam kamarnya. Memang ia ingin melaporkan kejadian yang sebenarnya, tapi entah kenapa tiba-tiba ia berubah pikiran karena melihat tatapan Liam yang tidak seperti biasanya.
Tidak, Amor tidak akan bisa luluh begitu mudahnya dengan pria itu. Pasti Liam sedang bermain trik. Ia tidak boleh jatuh ke dalam perangkat milik pria itu.
"Nona Amor, apakah anda bisa dimintai keterangan."
"Tentu saja," ucapnya dengan ragu.
"Pada saat terjadi penembakan Anda ingin mengatakan yang sebenarnya kepada para wartawan, Anda saat ini bisa mengatakannya dengan aman. Saya harap anda dapat bekerjasama dengan polisi."
__ADS_1
Amor menganggukkan kepalanya karena ia akan bekerja sama dengan polisi kali ini dan tidak akan mengecewakan keluarganya yang sudah meninggalkannya.
"Baiklah," jawab Amor seraya menarik nafas panjang.
"Bisakah Anda mengatakan yang sebenarnya terjadi di malam itu."
"Seperti yang aku katakan kepada wartawan bahwa aku berada di rumah sakit pada saat pembantaian, lalu aku pulang ke rumah karena ingin mengambil tugas sekolahku dan pada saat sampai di rumah pembantaian itu telah terjadi. Semua keluargaku sudah dibantai habis. Tidak tahu bagaimana peristiwa itu terjadi tapi aku melihat orang itu ada di depan ku?"
"Siapakah orang itu?" tanya polisi dengan lebih intim.
Amor menata ke arah para polisi dan juga dokter itu secara bergantian. Ini akan menjadi hal yang sangat menegangkan karena ia akan mengungkapkan kejadian yang sebenarnya.
"Orang itu adalah Bodyguard ku, Liam."
___________
Usai pengakuan yang diberikan oleh Amor Liam pun langsung dibawa ke kantor polisi untuk melakukan serangkaian pemeriksaan. Pria itu hanya bisa pasrah menghadapi segala pertanyaan yang dilayangkan kepadanya.
Tapi ia sama sekali tidak merasa gugup dan menjawab pertanyaan yang dilayangkan kepadanya dengan santai sehingga tidak ada orang yang merasa curiga dengannya. Lagipula ucapan Liam sangat masuk akal.
Pria itu sudah merancangnya dengan sangat matang apabila ia mendapatkan masalah seperti ini dan benar saja ia pun berhasil merancang cerita ini dan membuat mereka semua percaya dengannya.
Akan tetapi Liam tetap saja tidak bisa lepas begitu saja dan harus ditahan karena harus dicari beberapa bukti yang benar-benar membuktikan bahwa pria itu bersalah atau tidak.
Kebetulan Liam sudah menyiapkan beberapa bukti dan menyingkirkan bukti yang bisa membuat dirinya dipenjara.
Dalam hati ia pasti akan memberikan pelajaran kepada Amor yang sama sekali tidak bisa duduk diam. Wanita itu malah mengatakan yang sebenernya dan itu artinya ia sudah melawan Liam. Liam kali ini akan memberikan pelajaran yang setimpal agar wanita itu tersadar dengan apa yang ia perbuat.
Tapi tampaknya Amor seolah tidak ingin peduli dan menganggap bahwa selama ini ancamannya adalah bualan. Lihat saja setelah keluar dari sini ia pasti akan menghukum wanita itu.
"Saudara Liam, Anda harus kami tahan beberapa hari di sini untuk melakukan penyelidikan."
"Baiklah, aku mengatakan yang sebenernya jadi kau tak perlu khawatir dengan itu."
Polisi wanita itu menganggukkan kepalanya. Kemudian Liam menyeringai seraya memandang lurus ke arah polisi wanita itu. Polisi wanita itu langsung mengerti dengan isyarat yang diberikan oleh Liam.
Siapa yang tahu bahwa Liam memiliki banyak bakingan di kantor polisi ini.
_________
__ADS_1
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.