Menikahi Bodyguard Buruk Rupa

Menikahi Bodyguard Buruk Rupa
Part 29


__ADS_3

Sang pelayan merasa sangat khawatir dengan Amor. Sebab ia melihat perbedaan yang sangat jelas dari Nonanya. Kemarin sang Nona terlihat sangat murung dan hanya memasang wajah cemberut akan tetapi sekarang ia terus melamun tanpa menunjukkan ekspresi apapun.


Ia penasaran dengan Nonanya takut terjadi sesuatu kepada sang nona. Tapi ketika ia ingin bertanya tapi rasanya sangat tidak enak. Akhirnya sang pelayan menyimpan rasa penasarannya tersebut.


"Mila, apakah kau tahu ada sesuatu yang disembunyikan oleh Tuan?"


Sang pelayan yang sedang menyisirkan rambut sang nona pun menggelengkan kepalanya dengan lemah. Amor yang melihat hal tersebut menarik napas panjang dan wajahnya terlihat cemberut.


"Nona apakah kau marah dengan ku? Maafkan saya Nona," ucap Mila yang sangat merasa bersalah kepada Amor. Ia tak sanggup mendengar bagaimana nantinya sang tuan akan memarahinya karena lalai dalam mengemban tugasnya.


"Karena kau tidak tahu makanya aku kecewa dengan mu. Hanya itu dan tidak lebih," ucap Amor dengan sangat jujur.


Mila yang melihat kesedihan yang mendalam dari Nonanya merasa menjadi sangat tidak tega. Tapi mau bagaimana lagi dia memang tidak mengetahui apapun tenang tuannya karena semua orang juga tahu bahwa Liam sangatlah misterius.


"Aku seperti tawanan perang, bukan Mila? Aku adalah satu-satunya dari keluarga ku yang tersisa dan sekarang Liam sengaja meninggalkan ku untuk memperalat ku dan mengambil semua harta ku, jadi apakah aku salah ingin mengambil semua yang dia miliki sekarang? Karena semua harta yang saat ini ia dapatkan adalah harta haram yang tidak pantas untuk dia nikmati." Liam sangat tahu jelas bagaimana perasaan Amor. Ia pun juga tidak bisa berbuat apapun. Ini adalah permasalahan mengenai bosnya. Namun meski begitu tetap akan berdampak kepada pekerjaannya.


"Nona, saya tidak bisa memberi pendapat apapun tentang ini." Amor tersenyum getir. Sudah ia duga bahwa Mila tidak akan pernah berpihak kepadanya karena wanita itu terlalu setia dengan Liam.


"Sudahlah, aku juga tidak memaksanya.


Berbicara tentang Liam, ia sendiri tidak menyangka bahwa persepsinya selama ini salah. Liam tidaklah buruk rupa akan tetap ia sangat sempurna bahkan mampu memikat dirinya yang tak pernah jatuh cinta.


Yang paling membuat Amor membenci dirinya sendiri adalah ia yang jatuh cinta kepada Liam dan itu cinta pertamanya. Amor membenci dirinya yang hanya bisa terpikat kepada tampang seseorang. Tapi ia juga tidak bisa mengelak nya.


"Amor!" Amor menolehkan kepalanya dan menatap ke arah Liam yang tengah membawakan beberapa pesanan yang sempat ia titipkan pada pria itu. Ia tak menyangka jika keinginannya tersebut dipenuhi.


"Kau benar-benar membelikannya untuk ku?"


"Tidak. Ini untuk anak ku," ucap Liam yang kali ini lebih cuek.


Mungkin karena pertengkaran tadi malam hingga membuat Liam sampai sekarang marah kepadanya. Pria tersebut juga tampaknya memang hanya sangat peduli kepadanya.


"Ada apa? Kenapa kau terlihat sangat tidak senang ketika membawakannya untuk ku. Apakah sekarang kau menyesal?" tanya Amor yang sengaja menyindir pria itu.


"Tidak juga. Memang dari awal kita tidak berbaikan jadi untuk apa kita terlihat dekat?" tanya Liam yang kali ini sukses membuat Amor diskak mat.


Amor pun menarik napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Jujur saja saat ini ia sangat merasa lelah dan tidak ingin berdebat lagi. Sikap Liam sangat menyebalkan.


Wanita itu pun pergi begitu saja dan Liam yang melihat kelakuan Amor itu hanya bisa mengusap wajahnya dengan sangat frustasi.


Mila yang menjadi saksi dari semua itu hanya bisa terdiam dan tak berani berbicara apapun takut dimarahi oleh Liam.

__ADS_1


"Maafkan saya Tuan, saya akan segera pergi membujuk Nona."


"Tidak usah. Dia memang begitu. Kau hanya membuang waktu membujuknya."


Liam pun pergi untuk membujuk Amor. Hidup bertahun-tahun bersama wanita itu dan membesarkannya membuatnya sedikit mengerti dengan sikap Amor yang seperti ini.


____________


Liam membuka topengnya tanpa segan di depan Amor. Amor tercekat, melihat Liam yang membuka topeng seperti ia melihat Liam bertelanjang. Mungkin karena ia tidak terbiasa dengan pria itu.


"Ada apa? Kenapa kau terlihat sangat gugup sekali?" tanya Liam yang mendekati Amor.


Melihat seringaian yang sangat jelas dari pria itu membuat bulu kuduk Amor berdiri. Kenapa ia menjadi orang yang lemah seperti ini.


"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin tidur, jangan diganggu aku," ucap Amor dan langsung membalut tubuhnya dengan selimut. Ia berusaha menyimpan wajahnya yang terpergok tengah merona.


"Aku tahu apa yang saat ini kau rasakan. Jangan mau menipu ku. Baiklah, aku anggap ini wajar karena kau baru pertama kali melihat wajah ku."


Refleks Amor langsung menyibak selimut dari tubuhnya. Ia pun membuat posisinya yang semula berbaring menjadi duduk.


"Enak saja. Aku sama sekali tidak malu karena melihat wajah mu!" bohong Amor yang sembari menahan rasa malunya.


Amor menahan napasnya saat Liam makin mendekatkan wajahnya dan saat ini mereka hanya berjarak beberapa centi saja.


Situasi saat ini sangat mendebarkan. Amor tak henti-hentinya menarik napas hingga membuat Liam yang berada di depannya pun menjadi terkekeh. Padahal niatnya hanya untuk mengerjai pria itu.


"Kenapa wajah mu memerah?" Amor pun langsung merasa emosi dengan Liam. Tanpa babibu lagi wanita tersebut mendorong tubuh Liam sekencang-kencangnya hingga membuat Liam ingin terjungkal ke belakang.


"Kau jangan mencari masalah denganku, saat ini aku tidak ingin berdebat."


Memang perasaan wanita sukar untuk ditebak. Liam sendiri mengakuinya, akan tetapi akan berusaha semaksimal mungkin untuk membujuk Amora.


"Amora, kau belum bertemu dengan papa mu bukan hari ini?" Amora menganggukkan kepalanya. Memang ia beberapa hari ini belum sempat untuk menjenguk ayahnya karena ia sendiri harus beradaptasi dengan mentalnya.


"Ya aku belum bertemu dengannya. Aku harap kau tak melakukan apapun kepada Papa ku. Karena kau adalah seorang b*******."


Liam ampun memutarkan bola matanya dengan malas. Lagi-lagi Amora menganggapnya seperti itu. Tapi ia tidak ingin membuat wanita itu lebih marah kepada dirinya.


"Baiklah, aku akan membawamu ke tempat Papa mu."


Memang sangat aneh ketika Liam yang sangat tiba-tiba berubah menjadi orang baik dalam sekejap. Namun Amor tidak peduli yang penting ia harus bertemu dengan ayahnya hari ini.

__ADS_1


"Papa, aku merindukannya. Sebentar lagi ia akan memiliki seorang cucu. Apakah dia akan bahagia?" tanya Amor kepada dirinya sendiri. Liam yang tak sengaja mendengar ucapan Amor tersebut merasa terharu.


"Aku yakin Papa mu pasti sangat bahagia. Aku akan berbicara dengannya."


Amor kontan menahan tangan Liam. Ia menggelengkan kepalanya tidak setuju dengan hal itu.


"Apa yang ingin kau lakukan? Aku tidak akan setuju, kau jangan bertindak semau mu saja."


"Maksud mu? Tenang saja aku tidak akan membuat ayah mu drop." Liam memang sangat menyebalkan karena pria itu tidak pernah sependapat dengannya.


"Apa maksud mu? Tidak, tetap saja aku tidak mau," mohon Amor kepada pria itu. "Itu hanya dugaan mu, bagaimana dengan kenyataannya jika papa akan terkejut dan membuat kesehatannya sangat buruk. Apakah kau ingin bertanggungjawab dengan hal itu?" tanya Amor kepada pria tersebut. Amor pun menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.


Liam tidak akan pernah mengerti dengan perasaannya, jadi percuma saja tadi ia menjelaskan kepada pria itu.


"Jika aku katakan baik-baik saja kau jangan khawatir."


"Aku tidak jadi menjenguk ayah ku."


"Aku bisa mengatakannya sendiri."


Amor langsung menatap nyalang ke arah Liam. Ia ingin memperingati pria itu agar tidak berlaku semena-mena.


"Baiklah aku akan ikut." Pada akhirnya Amor pun menyerah dari pria itu dan membiarkan Liam mengatakan yang sebenernya nanti meskipun hatinya tidak tegang.


Amor dituntun Liam untuk ke ruangan sang ayah yang berada di atas. Ia pun memasuki lift dan tak lama sudah sampai di depan ruangan ayahnya dirawat. Amor sangat gugup dan tangannya sampai dingin.


Liam pun menggenggamnya karena ingin memberikan ketenangan bagi Amor. Walaupun hal kecil itu dilakukan oleh laki-laki itu akan tetapi cukup mendebarkan untuknya dan sedikit membuatnya mengalihkan perasaan tak tenang yang tengah dirasakan oleh wanita itu.


Ayahnya yang sedang dirawat oleh beberapa suster tersebut menolehkan kepalanya. Ia berusaha memberikan senyum tipis untuk menyambut kedatangan anaknya.


"Papa, apakah kau baik-baik saja?" Sang ayah menganggukkan kepala dan membuat Amora sangat merasa terharu dengan sang ayah.


"Aku harap papa akan baik-baik saja, aku datang bersama Liam."


Karel memandang Liam lebih baik dari yang dulu. Ia pun ingin berbaring menyentuh tangan Liam. Akan tetapi Liam menjauhkan tangannya membuat Karel sedikit merasa bersalah. Mungkin ia mengingat kesalahannya di masa lalu terhadap Liam.


_________


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.

__ADS_1


__ADS_2