
Wanita itu keluar dari ruangan papanya dirawat dengan perasaan gelisah. Diam yang hendak masuk ke dalam ruangan tersebut mengerutkan ke minyak melihat Amor yang seperti itu. Lantas laki-laki tersebut menghampiri Amor dan menyentuh tangannya yang bergetar hebat.
Liam tidak tahu apa yang terjadi di dalam sana. Ia melihat bahwa Amor sangat merasa gugup dan bahkan wanita itu langsung menangis seraya memeluk tubuhnya.
Amor benar-benar ketakutan dan Liam tidak tahu apa penyebab Amor sampai seperti itu. Apakah sudah terjadi sesuatu di dalam sana?
"Ada apa denganmu? Kau benar-benar tidak terlihat baik-baik saja. Apakah terjadi sesuatu yang buruk kepada papa?" Amar menggelengkan kepalanya pelan. Tidak terjadi sesuatu kepada ayahnya hanya saja Ia tidak mampu menjelaskan yang sebenarnya kepada sang ayah.
"Tidak, Papa di dalam sana baik-baik saja. Tapi Papa ingin bertanya apakah yang terjadi sebenarnya di malam itu ketika kau membantai habis keluarga Alexander. Tuan Alexander sempat menemui papa, dan papa mengatakan bahwa ia sempat ingin melakukan sesuatu yang buruk kepada papa. Iya juga mendengar bahwa kau ingin membunuh tuan muda Alexander, makanya dia bertanya kepadaku. Tapi aku tidak bisa menjelaskan yang sebenarnya," ucap Amor yang benar-benar menyesal dengan dirinya tersebut.
Liam jadi mengurungkan niatnya untuk pergi ke ruangan ayahnya. Jika ayahnya penasaran dengan malam itu maka ia tidak ingin menemui ayahnya karena tidak ingin membuat sang ayah drop kembali. Jika masalah dimarahi oleh sang ayah ia sudah sangat siap, namun melihat ayahnya dalam kondisi buruk membuatnya tidak sempat untuk berpikir jernih.
"Aku benar-benar ketakutan sekali, makanya tubuhku sampai bergetar dan ketakutan." Dia melakukan kepalanya mengerti dengan perasaan Amor tersebut.
Ia menghela nafas panjang dan membawa istrinya tersebut ke dalam kamar. Ia harus menenangkan Amor terlebih dahulu.
"Amor, berhentilah menangis. Aku akan membuatkan teh untuk mu, tinggal lah di sini dengan baik. Aku pasti akan kembali lagi." Liam menepuk kepala Amor dan wanita itu mengangguk dengan mata sembab.
"Cepatlah kembali, aku ingin memeluk tubuh mu."
Liam tersenyum meyakinkan wanita itu dan pada akhirnya Amor bisa sedikit lega melihat Liam yang pada akhirnya menunjukkan kasih sayangnya.
Amor memejamkan matanya dan menundukkan kepalanya. Wanita itu mencoba menenangkan pikirannya.
Ia sejenak menikmati udara segar seraya menunggu Liam kembali. Tak lama ia mendengar suara pintu yang berderit dan hal itu sungguh membuat dirinya sangat senang sekali. Wanita itu segera membuka matanya dan menyambut Amor dengan senyum hangat.
"Kau terlihat sangat bahagia sekali." Amar menganggukan kepalanya dan membenarkan kalimat tersebut. Memang ia melihat Liam tiba-tiba membuat hatinya sangat senang. Tidak tahu apakah ini adalah hormon dari kehamilannya.
Liam memberikan teh buatannya tersebut kepada Amor. Amor dengan senang meminumnya dan rasanya sangat pas dengan apa yang diharapkan oleh wanita itu. Ia memberikan senyuman senang dengan pemberian Liam tersebut.
"Terima kasih, ini sungguh sangat enak."
"Bagus jika kau menyukai teh tersebut. Jujur saja aku tidak terlalu hebat menyeduh teh, aku khawatir kau tidak menyukainya tadi.
Amar menggelengkan kepalanya karena sama sekali ia tidak berpikir seperti itu. Semua yang dilakukan oleh Liam membuatnya sangat bahagia.
Wanita itu meletakkan gelas teh tersebut ke nakas. Kemudian ia kembali memeluk Liam dengan sangat manja. Yang tidak terbiasa dengan Amor yang manjat seperti itu karena biasanya Amor akan memberikan tatapan yang berbeda kepada dirinya.
__ADS_1
Sungguh hal itu membuat Liam sedikit canggung ketika Amor bermanja-manja dengannya. Namun Ia tetap berusaha melayani wanita itu dengan baik.
"Bagaimana hari-harimu hari ini? Aku harap kau tidak tertekan lagi."
Amor menggelengkan kepalanya. Belakangan ini ia juga sangat baik, walaupun seringkali ia merasakan sakit pada perutnya.
Liam yang melihat reaksi yang ditunjukkan Amor, sedikit merasa lega. Ia pun mengusap perut wanita itu untuk menyapa sang bayi yang ada di dalam sana.
"Aku harap kau baik-baik saja di dalam situ sampai di mana saatnya kau akan keluar."
"Ketika dia keluar maka aku akan menjadi ibu dan kau akan menjadi seorang ayah."
Liam tidak pernah berpikir bahwa dirinya akan sampai ke titik ini. Laki-laki tersebut masih tidak menyangka bahwa ia akan memiliki seorang anak dari wanita yang sudah dijaganya sejak kecil.
Merasa sedikit lega ketika jodohnya bukanlah orang lain dan ia sudah mengetahui sifat Amor yang sebenarnya. Meskipun Amor tetap saja susah ditebak karena ia memiliki segala rencana.
Tapi kali ini Liam sangat yakin bahwa Amor sudah berubah kepadanya dan mulai bisa menerima dirinya.
"Apakah kau sama sekali tidak berniat ingin melakukan cek kelamin anak kita? Aku pikir kau akan membutuhkannya."
Amor tidak ada berniat ingin meng USG anaknya karena ia ingin mengetahui apa jenis kelamin anaknya ketika bayi itu sudah lahir saja agar bisa memberikan sebuah kejutan.
"Baiklah jika kau ingin seperti itu, maka aku juga tidak akan bisa membantahmu."
Amor merasa lebih baik setelah mendengarnya. Akhirnya Liam sepakat dengannya.
"Terima kasih kau sudah mengerti diriku. Aku tidak menyangka bahwa orang menyebalkan ini akan menjadi ayah dari anakku."
"Aku juga tidak menyangka."
___________
Suasana yang sangat dingin membuat seseorang memeluk tubuhnya dengan cukup erat. Berbulan-bulan ia berjuang antara mati dan hidup dan menghindari kejaran orang-orang yang ingin membunuhnya.
Sudah lama ia menyamar menjadi orang lain, dan dirinya hanya bisa mengurung di tempat yang sangat gelap dan tidak terjangkau oleh orang lain untuk menghindari kematiannya.
Pelan-pelan ia merawat tubuhnya yang terluka parah dengan alat seadanya. Walaupun kondisi fisiknya tidak bisa sempurna seperti dulu akan tetapi semakin hari dirinya sudah semakin membaik.
__ADS_1
Ia memakai syal dan seperti seorang gelandangan. Lalu kemudian ia keluar dari gudang gelap tersebut untuk mencari makan. Segala daya upaya ia lakukan untuk bertahan hidup walaupun harus memakan makanan dari tong sampah. Ini adalah titik terendahnya dalam hidupnya.
Ia pasti akan membalaskan ketidakadilan yang dirasakan olehnya.
Laki-laki tersebut melihat orang-orang yang menatap sinis ke arahnya. Selain itu tubuhnya juga didorong-dorong dan seolah-olah kehadirannya tidak dihargai oleh mereka.
Tatapan jijik dari mereka kepada dirinya membuatnya sangat marah kepada dirinya sendiri.
"Aku tidak pernah berpikir bahwa hidupku akan menemui takdir yang seperti ini, kenapa takdir sangat kejam kepadaku? Yonatan, kau rupanya masih hidup dan aku pasti akan membunuhmu. Kau yang sudah membuat diriku menderita seperti ini."
Oliver menghilang nafas panjang dan kemudian mencoba untuk melawan tatapan orang-orang yang berbeda kepada dirinya ketika ia masih berada di puncak kejayaannya.
Biasanya ia ditatap dengan penuh pujian, sekarang tidak ada pujian itu melainkan penghinaan. Ia berusaha untuk mendapatkan uang sepeser pun untuk bertahan hidup.
Pria itu tiba-tiba dihampiri oleh seorang wanita. Ia tidak mengenal wanita itu, tapi ia menyerahkan kartu namanya dan juga sebungkus nasi.
"Jika kau membutuhkan sesuatu kau bisa mencariku," ucap seorang wanita yang sangat misterius.
Oliver pun mengerjapkan matanya beberapa kali. Pria itu tidak menyangka bahwa seseorang akan datang kepada dirinya.
Ia pun menjadi waspada dan takut itu hanyalah sebuah jebakan. Oliver menarik tangan wanita itu dan membawanya ke tempat sepi. Lalu ia menyudutkan wanita tersebut.
"Siapa kau sebenarnya? Kenapa kamu lakukan semua ini? Apakah kau ingin mencoba ingin menjebak ku?" Wanita itu tersenyum miring dan menjauhkan tangan khalifah yang ada di lehernya.
"Aku tidak bisa berbicara banyak denganmu, tapi jika kau membutuhkan sesuatu kau bisa menemuiku. Pikirkan dengan baik, aku tahu kau ingin balas dendam dengan Liam." Wanita itu menepuk pundaknya beberapa kali dan kemudian pergi begitu saja.
Oliver menatap ke arah kartu nama itu. Kemudian ia kembali menatap punggung wanita tersebut yang perlahan menghilang. Ia harus memikirkannya dan tidak boleh terlalu gegabah.
Laki-laki tersebut menatap ke arah nasi bungkus yang diberikan oleh wanita tadi. Ia khawatir jika ada obat bius di sana, tapi perutnya sudah sangat lapar sekali sehingga ia tidak memiliki pilihan lain yang terpaksa memakan nasi bungkus tersebut.
Tidak peduli ia akan mati atau tidak, yang penting ia bisa menghormati rasa sakit di perutnya.
"Yonatan, tidak seperti ini caranya kau balas dendam. Karena aku pasti akan membalas dendam kembali."
Itulah kemarahan yang ada di dalam hati Jika lama-lama disimpan dan menjadikannya sebuah dendam maka akan menimbulkan dendam baru dan masalah baru.
__________
__ADS_1
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.