Menikahi Bodyguard Buruk Rupa

Menikahi Bodyguard Buruk Rupa
Part 14


__ADS_3

Liam menatap ke arah foto yang terpajang di dalam kamarnya. Secara perlahan ia sudah mulai berhasil untuk mem-pulihkan semua aset dan harta milik tuan muda Karel atas nama dirinya. Melihat foto keluarga tersebut membuatnya merasa damai dan semangatnya yang sempat runtuh kembali menggebu-gebu. Ia akan mencarikan keadilan untuk keluarganya.


Secara perlahan pria itu telah berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan. Namun menikahi Amor yang notabennya adalah majikannya dahulu di luar pikirannya. Entah kenapa tiba-tiba ia ingin menikahi wanita itu tanpa alasan. Memang bisa saja Ia mendapatkan semua harta warisan milik Amor itu atas nama dirinya tanpa repot-repot harus menikahi wanita itu.


Akan tetapi ketika Amor jauh darinya membayangkan wanita itu pergi membuatnya sangat panas. Apakah mungkin karena sudah bertahun-tahun ia hidup bersama dengan Amor dan mengurus wanita itu dari sejak kecil hingga besar sampai sekarang. Seolah-olah menjadi sangat tidak rela jika wanita itu pergi. Mungkin dengan menikahi Amor adalah jalan satu-satunya untuk menahan wanita tersebut.


Liam pun meletakkan foto keluarga itu. Kemudian pria itu berjalan ke arah meja kerjanya dan menatap segala dokumen yang dikirimkan oleh anak buahnya. Di luar sana sangat heboh dengan tragedi satu keluarga orang terkaya di negaranya telah meninggal dan dibunuh dengan sangat sadis. Hal tersebut tentunya menjadi sangat membuat dunia menjadi heboh.


Segala tuduhan tuduhan pun terarah dan kepada orang-orang yang seharusnya tidak terlibat pada kasus ini. Memang ia yang telah membunuhnya dan dia juga yang telah menghilangkan segala bukti-bukti tersebut. Akan tetapi semua orang tidak akan pernah menyangka bahwa dialah yang telah membunuhnya. Mungkin cara yang dilakukan oleh Liam ini cukup cerdik.


"Liam, apakah kau tak pernah merasa bahwa dunia ini sangat gelap dan tak seharusnya kita berada di lingkaran ini," ucap pria tersebut seraya menatap kepada dirinya sendiri melalui cermin yang ada di dalam kamar itu. Entahlah dirinya saat ini benar-benar merasa sangat frustasi dan tidak tahu apakah jalan yang ia ambil ini salah. Semua orang tidak mengetahui bagaimana perasaan dendam ini yang benar-benar sangat dalam pada dirinya.


Liam dan masa lalunya adalah hal yang tidak ingin ia ingat kembali tapi terus terbawa ke dalam mimpinya. Ini cukup menyakitkan untuknya karena tidak bisa melupakan kejadian tersebut dan mengikhlaskan hatinya. Andaikan mimpi itu tidak akan pernah terjadi Mungkin dendam ini tak akan pernah ada di hatinya dan keluarga Oliver masih tetap hidup sampai sekarang.


Akan tetapi sangat sayang sekali bahwa semuanya telah terlambat. Dendam itu juga semakin menghitam dan tak bisa dihentikan di tengah jalan.


Liam sendiri sudah berada di jalan yang sangat jauh. Kemudian pria itu juga sempat menyesali perbuatannya namun hanya sesaat.


Laki-laki itu meninggalkan ruangannya. Ia berencana ingin menemui Amor. Ia harus memastikan bahwa wanita itu tidak menjadi bumerang untuknya di masa depan. Amor terlalu naif dan dia tidak mengetahui apapun. Seharusnya wanita tersebut menyadari apa yang telah ia lakukan. Akan tetapi wanita itu terus menjadi bahan untuk dimanfaatkan. Mungkin salah satu orang tersebut adalah dirinya sendiri.


Liam sangat mengakui hal tersebut, namun untuk penyesalan tidak ada sama sekali terselip di dadanya. Apalagi setelah melakukan hal tersebut ia benar-benar merasa sangat puas dan ingin mengulanginya sekali lagi. Karena melihat mereka mati di tangannya adalah sebuah kesenangan untuknya.


Pada saat hendak menuju ke kamar mereka Liam melihat Amor yang seolah-olah membereskan barang-barangnya yang ada di dalam kamar itu pindah ke kamarnya yang dulu. Liam yang melihat hal tersebut tentu saja tidak setuju dan tak sependapat dengan wanita itu.


Ia lantas menghampiri Amor dan kemudian menarik koper wanita tersebut. Terlihat jelas bahwa amal sangat terkejut dengan perlakuan kasar Liam yang tiba-tiba.


"Liam," ucapnya dengan sangat gugup.


Liam pun mengepalkan tangannya dan tak menyangka bahwa Amor benar-benar akan melawannya sejauh ini. Apakah kali ini ia tidak bisa berbaik hati lagi kepada wanita itu.


"Kenapa kau melakukan itu? Aku tidak mengizinkanmu untuk pindah kamar. Segera pindahkan barang-barang ini ke tempat awal."

__ADS_1


Amor pun menarik nafas panjang dan kemudian menatap Liam dengan sangat berani. Tampaknya wanita itu benar-benar menganggap ancaman Liam di rumah sakit itu nyata sehingga membuat dirinya merasa gugup dan terancam sehingga memutuskan untuk pindah kamar.


"Apa yang kau lakukan? Aku ingin pindah kamar dan aku tidak ingin tidur denganmu. Mungkin Jika aku masih berada di kamar itu mungkin aku tidak akan pernah tertidur."


"Pedulikah diriku? Yang aku inginkan kau tetap berada di dalam kamar itu dan tidak membangkangku."


"Aku tidak mau."


Liam pun menatap ke arah Amor seolah-olah memperingati wanita tersebut.


"AMOR! KEMBALIKAN BARANG ITU KE TEMPAT AWALNYA."


Amor yang mendengar hal tersebut pun cukup terkejut. Liam membentak dirinya dan itu benar-benar terasa sampai ke jantungnya. Wanita itu menarik nafas panjang dan kemudian mengusap dadanya.


"Apa yang kau lakukan, hah? Kau hanya bisa mengancam diriku tanpa memikirkan bagaimana perasaanku," ucap Amor dengan sangat menggebu-gebu. "Aku tersiksa Liam, kau memerintah aku dengan seenaknya saja dan menyuruhku untuk tidur bersamamu. Kau tahu bagaimana rasanya saat tidur dengan orang yang telah membunuh satu keluargamu. Mungkin selanjutnya akulah yang akan dibunuh olehmu," ucap wanita itu seraya meneteskan air matanya. Amor menangis dan berusaha untuk menahan segala unek-uneknya karena ini semua juga demi kebaikannya.


Mendengar perlawanan Amor yang sangat nyata, Liam pun tidak bisa berpikir jernih lagi dan lalu kemudian menarik tangan Amor dengan sangat kencang.


Napas as Amor pun tersengal-sengal dan berusaha untuk melepaskan diri.


"Aku sudah memberikanmu keringanan dan seringkali memberimu peringatan. Tapi tampaknya kau selalu melawan apa yang aku katakan, memang seharusnya kau diberikan hukuman yang setimpal dengan perlawananmu ini."


Kemudian tanpa basa-basi lagi dengan buasnya Liam pun mendekatkan wajahnya kepada anak yang baru saja memasuki umur 17 tahun tersebut. Kemudian ia mencium bibir Amor dengan sangat kasar dan hal itu membuat Amor terkejut.


Nomor tak bisa bernapas sama sekali dan ia menggigit bibir Liam akan tetapi menurut pria itu hal tersebut sebuah persetujuan dan ia semakin terangsang. Tentu saja hal tersebut menjadi tanda bahaya untuknya.


Liam semakin memperdalam ciuman itu dan tak memikirkan perasaan Amor lagi. Kebaikannya selama ini untuk menahan hasratnya karena ia berpikir bahwa Amor masih kecil.


Tapi, melihat Amor yang hendak beranjak dewasa dan bibirnya semakin pedas membuatnya sangat marah dan ingin melakukan apa saja kepada wanita itu.


Sementara Amor yang benar-benar semakin membenci Liam terpikirkan untuk menarik topeng laki-laki tersebut dan ingin melihat wajah seperti apakah yang telah disembunyikan oleh laki-laki itu.

__ADS_1


Amor pun mencoba untuk menarik toping tersebut namun tiba-tiba Liam menyadarinya dan menahan tangan Amor. Liam menatap tajam kepada Amor.


"Apakah kau sedang berusaha untuk mencari masalah denganku?" tanya pria itu yang tidak senang. Ia pun bangkit dari tubuh Amor dan kemudian wanita itu bisa bernapas lega saat tubuh kekar tersebut menjauh dari dirinya. Ini yang ia inginkan dan ia berharap bahwa pria itu bisa menjauh dari dirinya.


Lantas Amor pun bangkit dan berusaha untuk menahan degupan jantungnya.


"Tapi sayangnya aku tidak akan mengizinkanmu untuk bangkit dengan mudahnya. Aku tahu itu semua sangat berharga untuk mu, tapi sekarang aku adalah suamimu. Aku berhak mendapatkannya."


"Tapi kau tak pernah ku anggap suamiku dan aku juga tidak sudi memiliki suami sepertimu. Buruk rupa," sindir Amor dengan tajamnya dan hal tersebut memancing amarah Liam.


"Semakin dibiarkan rupanya kau semakin berani untuk melawan, baiklah kapan-kapan aku akan meneladani perlawanan mu itu tapi tidak dengan sekarang, karena aku ingin mendapatkan harta yang paling berharga dari mu."


Amor sudah kehabisan cara memikirkan bagaimana untuk menghindar dari pria itu. Terlihat jelas ia memiliki wewenang yang sangat besar untuk mengalahkan dirinya.


"Sudahlah. Aku sangat lelah sekali," ucap Amor, "aku juga belum siap untuk melakukan itu. Tubuhku terasa sakit semua dan seharusnya kau mengerti bagaimana keadaanku sekarang."


"Tidak ada penjahat yang memikirkan bagaimana perasaan korbannya."


Amor pun terkejut dan menatap ke arah Liam.


"Lantas menurut mu kau adalah penjahat?"


"Karena kau menganggapnya seperti itu maka aku katakan ya."


______


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.


.

__ADS_1


__ADS_2