Menikahi Bodyguard Buruk Rupa

Menikahi Bodyguard Buruk Rupa
Part 34


__ADS_3

Amor menatap ke belakang dan kemudian memberikan senyum miring sebelum akhirnya ia pun pergi dari tempat itu seraya menutup wajahnya. Amor terlihat jelas memiliki seribu dendam yang tak akan pernah selesai hanya dengan kata maaf dan jatuh cinta.


Ia tidak akan memikirkan perasaan dan dirinya lagi ketika dendam yang ada pada dirinya ini sudah mendarah daging. Ia tahu ini akan berdampak buruk bagi anaknya, akan tetapi Amor akan menitipkan anak ini kepada asuhan ketika ia lahir ke dunia nanti.


Karena Amor tidak ingin anaknya merasakan kehidupan yang sangat menderita yang disebabkan oleh keluarganya sendiri. Lebih baik anak itu berada di panti asuhan dan tidak mengenal siapa orang tua kandungnya. Mungkin ia akan selamat dari dendam-dendang yang diciptakan oleh musuh-musuh ayahnya dan juga dirinya sendiri.


Amor melangkah dengan sangat pasti dan kemudian Ia pun berlari untuk menghindari kejaran Liam yang mungkin sudah menyadari bahwa dirinya telah kabur. Wanita itu dengan cepat menghentikan salah satu taksi yang sedang berlalu lalang dengan mencegatnya.


Kemudi pun menahan taksi tersebut lalu memintanya untuk membawa dirinya dengan cara dipaksa. Sopir itu tentunya sangat ketakutan dan pada akhirnya ia pun memberikan tumpangan untuk Amor.


Amor tidak ingin menjadi seorang penjahat dan merugikan banyak orang lain, namun saat ini dirinya benar-benar membutuhkan ponsel.


"Bapak, apakah kau memiliki ponsel?" tanya Amor dengan perasaannya yang sangat cemas dan berharap bahwa supir taksi tersebut mau meminjamkan dirinya ponsel. Ia tahu apa yang telah ia lakukan tadi adalah perbuatan yang salah dan telah menakut-nakuti sang supir. Tapi mau bagaimana lagi karena ini adalah kondisi yang sangat mendesak.


"Nona."


"Jangan takut Pak, saya akan membayar semuanya. Kau tak perlu khawatir," ucap Amor seraya menarik napas panjang dan meyakinkan sang supir tersebut hingga akhirnya meminjamkan dirinya ponsel.


Amor sangat bahagia dengan hal tersebut. Ia pun tersenyum tipis dan meraih ponsel yang di sodorkan oleh sang supir tersebut.


"Ini Nona."


"Terima kasih Pak."


Untungnya Amor cukup pintar dan masih mengingat kontak Oliver walaupun ia yakin pria tersebut pasti tak akan menggunakan nomor itu karena Liam pasti bisa mendeteksinya.


Namun usahanya akan dimulai dari sini dan berharap bahwa nomor ini bisa dihubungi dan diangkat.


Nomor memejamkan matanya dan lalu kemudian memencet memanggil. Ia dengan sangat gugup untuk menunggunya hingga tiba-tiba nomor itu diangkat.


Amor dengan sangat senang kemudian mendekatkan ponsel itu ke telinganya.


"Halo, apakah itu kau Oliver?" tanya humor yang sudah sangat bersemangat.


Akan tetapi tidak ada suara di seberang sana dan sambungan telepon itu terputus tiba-tiba. Amora pun mengerutkan keningnya karena kebingungan dan menatap ke arah ponsel tersebut berniat ingin menghubunginya kembali.


"Ada apa ini? Oliver tidak seperti ini, tidak, biasanya tidak semudah ini aku untuk menghubungi Oliver ketika ia telah menjadi buronan Liam. Pasti ada yang salah, apa jangan-jangan...." Amor membulatkan matanya ke seketika ketika ia langsung menyadari keteledoran dirinya. Pasti yang mengangkat teleponnya itu adalah Liam, itu artinya Oliver kabur tidak membawa ponsel dan pulsanya ada pada laki-laki tersebut.


Bahaya jika seperti itu, apalagi pria tersebut bisa saja langsung melatih dirinya melalui GPS yang terpasang di ponsel milik sang supir. Apalagi dia memiliki kekuatan IT yang sangat tinggi dan mampu melacak seseorang berdasarkan nomor ponsel.


Amora menggelengkan kepalanya, ia tidak boleh tertangkap di sini. Wanita tersebut pun meminta agar sang supir menghentikannya di pinggir jalan.

__ADS_1


"Bapak, Anda bisa menghentikan ku disini. Ini uang dan buat segala kebaikan mu."


Alasan bergegas turun dari taksi tersebut dan menyerahkan ponsel milik sang supir.


"Nona, ada apa denganmu? Apakah kau sedang dikejar oleh seseorang? Jika kau dalam bahaya langsung saja pergi ke kantor polisi." Amor menganggukkan kepalanya mengerti.


"Tenang saja, aku pasti akan melakukannya. Oh iya Pak, jangan lupa kau matikan ponselmu. Ini sangat berbahaya dan percayalah kepadaku kali ini saja."


Kemudian Amor pun berlari dari tempat itu dan naik ke salah satu bus yang tidak jauh terminalnya dari tempatnya berada sekarang.


Amor sangat berterima kasih karena Tuhan telah memberikan solusi yang lain untuk dirinya. Intinya saat ini ia telah berhasil selamat dan berharap tidak ada lagi gangguan yang akan membuat dirinya merasa kesusahan.


Amor naik ke tak dalam bus tersebut dan langsung mengambil tempat duduknya. Wanita itu tak peduli lagi ke mana posisi itu akan membawa dirinya, yang terpenting ya harus bisa selamat dari sini sebelum laki-laki tersebut menemukannya.


Amor menutupi seluruh wajahnya seolah-olah menjadi orang yang sangat tidak dikenali. Dia menunggu agar bus tersebut berangkat seraya memejamkan matanya. Wanita itu tidak menyadari ada seseorang yang duduk di sampingnya.


"Bagaimana hari-harimu saat ini? Apakah sangat melelahkan?"


Amor merasa kenal dengan suara tersebut dan langsung membuka matanya. Seperti dukanya dan pria itulah yang ada di sampingnya. Sudahlah Amor, kau tidak akan bisa lari dari pria tersebut.


Amar menghembuskan nafas kasar dan menutup seluruh wajahnya yang hendak menangis karena lagi-lagi rencananya gagal.


"Gampang saja untuk menemukan mu," ucapan Liam sambil menyombongkan dirinya. Amor menghela napas panjang dan kemudian hendak keluar dari dalam bus tersebut sebelum berangkat. Lagipula rencananya sudah gagal total. "kenapa? Apakah tiba-tiba berubah pikiran, sehingga kau tidak jadi ingin pergi dari kota ini."


"Terserahmu saja, Aku ingin pulang ke rumah dan beristirahat, karena tubuhku hari ini benar-benar terasa lemas sekali."


Liam pun berubah menjadi sangat panik ketika Amor mengatakannya. Bahkan pria itu pun tidak marah kepadanya dan itu sangatlah membingungkan Amor sendiri.


"Kenapa? Apakah tubuhmu terasa lemas sekali?" tanya Liam dan memeriksa keadaan Amor takut bahwa wanita itu mengalami hal yang buruk.


"Mungkin seperti itu, sudahlah aku ingin pulang dari tempat ini."


Liam yang melihat Amor sudah sangat putus asa tersebut tiba-tiba merasa sangat bersalah karena telah menghentikan wanita itu.


"Seharusnya aku membiarkan mu untuk kabur sebentar dan tak menemukan mu secepat ini."


Amor langsung memandang ke arah Liam dengan perasaan marah karena telah dihina secara tak langsung harga dirinya.


"Lebih baik kau temukan aku secepatnya dari pada lam kelamaan tapi memberikan harapan palsu untuk ku," ucap wanita itu kesal.


"Baiklah. Aku siap selalu disalahkan oleh mu."

__ADS_1


Amor memutar bola matanya dengan malas dan kemudian turun dari dalam bus itu sebelum diberangkatkan.


__________


Amor termenung di depan kaca. Sementara rambutnya tengah disisir oleh Mila. Ia sangat ketakutan sekali karena telah dimarahi oleh Liam tadi.


Ia tak ingin membuat tuan besarnya marah kembali karena dirinya. Ia pasti akan menjaga Nonanya dengan sangat baik.


"Nona, kau tidak perlu merasa tertekan. Kau masih bisa memulai hubungan mu dari awal dengan Tuan besar."


Amor menghembuskan napas kasar dan membuang wajahnya ke samping. Air matanya kembali terjatuh.


"Aku sangat menyedihkan sekali. Aku hanyalah anak yang baru saja beranjak dewasa, tapi kenapa harus memiliki nasib yang sangat buruk seperti ini. Aku tidak sanggup, aku sungguh tidak tahan dan ingin mengakhirinya. Tapi, aku juga ingin membalas dendam. Kenapa selalu aku yang saja tidak berhasil? Aku sangat diremehkan oleh kalian, benar-benar membuatku sangat muak," ucap Amor dan kemudian memandang wajahnya ke kaca rias.


Ia ingin melihat wajah yang dulu terlihat sangat imut kini selalu terlihat suram dan tidak bersemangat.


"Aku lelah, aku ingin tahu bagaimana orang-orang mempedulikan ku."


"Nona, ada saya yang selalu akan ada di samping Anda."


Amor menganggukan kepalanya. Ia tahu akan hal itu, namun entah kenapa perasaannya tetap saja tidak tenang.


"Ini tidak sesederhana itu, kau adalah pelayan miliknya dan kau akan tunduk hanya dengan perintahnya. Apakah aku merasa kau menjadi bagian orang yang aku percayai? Sama sekali tidak seperti itu dan semuanya tidak sesederhana itu."


Amor meraih sisir yang ada di tangan Mila dan kemudian menyisir rambutnya sendiri. Ia ingin melihat dirinya yang lemah ini mencoba untuk bangkit. Apakah bisa?


Amor menyanggul rambutnya dan kemudian merias wajahnya. Ia seperti seorang ****** sekarang karena riasannya yang terlalu tebal terlihat sedang ingin menggoda Liam.


"Liam, apakah kali ini kau lagi pemenangnya? Benarkah seperti itu?" tanya Amor dan kemudian tertawa hambar.


"Nona apa yang ingin kau lakukan?"


Amor melirik ke arah Mila dan menggelengkan kepala.


"Bukan apa-apa dan kau tak perlu khawatir."


__________


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.

__ADS_1


__ADS_2