Menikahi Bodyguard Buruk Rupa

Menikahi Bodyguard Buruk Rupa
Part 43


__ADS_3

Amor dan Liam tidak berbicara setelah sekian lama. Mungkin mereka memutuskan untuk saling tak menyapa agar tidak terjadi keributan yang lebih lama lagi. Apalagi Amor memiliki harapan bahwa Liam bisa melepaskan Oliver.


Tapi bagi Liam itu bukanlah perkara yang mudah, bagaimanapun juga Oliver adalah anak dari Alexander dan pria itu juga pernah menjadi musuhnya di masa lalu ketika mereka masih anak-anak. Liam mengetahui betul bahwa Oliver tidak menyukainya, makanya Ia memiliki dendam yang dalam pada Oliver.


Sedangkan Amor, wanita itu berharap bahwa Oliver juga tidak terlibat pada pembunuhan orang tuanya. Apalagi yang merasakan ketulusan yang sangat dalam dari Oliver, selama ini Oliver lah yang melindunginya dari rasa takut. Ia tidak akan pernah menyangka bahwa hal buruk itu akan terjadi kepadanya.


"Apakah kau masih marah denganku? Kau sama sekali tidak ingin berbicara? Baiklah jika seperti itu, aku juga tidak memaksamu." Liam menyantap rotinya kembali dan sembari melihat ke arah Amor yang tetap diam.


"Aku tidak marah kepadamu, aku juga bisa menoleransi apa yang kau lakukan tersebut. Tapi aku sama sekali tidak pernah menyangka bahwa dirimu akan sekejam ini, kau bahkan mengarahkan barang bukti orang yang telah membunuh keluarga Oliver adalah anaknya sendiri. Aku cukup ngeri saat membayangkannya. Tapi bagaimanapun juga orang sudah merasa sakit hati pasti akan melakukan hal yang buruk untuk memuaskan hatinya. Begitulah yang aku rasakan saat itu,"ucap Amor yang mulai menyadari bahwa dirinya dahulu telah melakukan hal yang salah. Tapi apa boleh buat hati begitu menggebu-gebu ingin membalaskan dendam yang terus bersarang di jantungnya.


Hidup tidak akan pernah tenang jika tidak membuat mereka merasakan hal yang sama. Begitulah yang Amor mengerti mengenai perasaan Liam.


Amar meletakkan sendoknya di atas piring dan menatap ke arah Liam dengan tatapan tajam. Liam menarik nafas panjang lalu membalas tatapan yang diberikan oleh wanita itu.


"Kita lihat dunia sekarang, tidak ada yang benar-benar tulus dengan kita. Seharusnya kau juga mengerti dengan perasaan tersebut. Biarkan Aku melakukan semuanya dan kau tidak terlibat dalam permainanku," ucap Liam yang berusaha menenangkan Amor.


Amor tersenyum tipis. Sekarang ia adalah calon ibu, pikirannya juga sudah berubah 180 derajat. Wanita itu berusaha untuk melakukan yang terbaik sekarang. Walaupun itu sama sekali tidak sesuai dengan harapannya.


"Liam, aku hanya berpikir bagaimana mengenai anak kita ketika mengetahui kondisi keluarganya. Ini benar-benar sangat menyebalkan bukan?" Liam menganggukkan kepalanya mengerti.


"Lalu apa yang ingin kita lakukan? Apakah membiarkan Oliver begitu saja?"


"Seharusnya Oliver sudah sangat menderita ketika kehilangan keluarganya juga dan ia bisa merasakan apa yang kau rasakan. Sekarang ia menjadi orang pelarian dan begitu pulalah Kau dahulu, mungkin itu sudah setimpal dengan dirinya. Kau sendiri tahu tidak bisa memenjarakan Oliver dengan alasan yang tidak pasti, makanya kau mengarahkan segala barang bukti kepada Oliver agar polisi memiliki alasan untuk menahannya. Tapi yang benar-benar aku tidak menyangka adalah kau memiliki banyak backingan sekali, bahkan itu dari pihak kepolisian sendiri. Ditambah lagi kau juga sama sekali tidak memiliki hati pada waktu itu dan menganggap aku adalah orang gila. Walaupun semuanya sudah berlalu aku tetap saja merasa sakit hati." Agar tertawa getir setelah menceritakannya dan menahan air matanya yang tiba-tiba mendobrak netra indahnya.


Liam tahu dengan kesalahannya kepada Amor. Mungkin karena ia terlalu kesal kepada wanita itu yang selalu saja mencoba untuk melakukan pembunuhan kepada dirinya. Makanya ia menuduh Amor adalah orang gila sehingga harus dirawat di rumah sakit jiwa.

__ADS_1


Laki-laki tersebut menghembuskan nafas gusar. Ia melirik ke arah Amor dengan tatapan yang sangat serius. Walaupun penyesalan itu sudah mulai terlihat pada diri Liam, tapi tetap saja tidak semudah itu untuk memaafkannya.


"Kau juga tahu itu bukanlah keinginanku dan aku berharap Oliver juga bisa berubah. Tapi bagaimanapun juga Oliver adalah orang yang memiliki dendam yang sangat kuat, apalagi pria itu berpotensi untuk membalas dendam kembali dan itu Mungkin ia akan membunuhku ataupun kamu. Apalagi ketika ia mengetahui bahwa kau sedang mengandung anakku maka ia bisa saja membunuh anak kita. Makanya aku memutuskan bagaimana caranya agar ia bisa dipenjara dan untuk sementara waktu kita bisa aman.


Amor menahan nafasnya ketika mendengar pernyataan laki-laki tersebut. Ia sendiri tidak tahu harus memilih jalan yang mana karena kedua-duanya sangat berat untuknya. Tapi memenjarakan Oliver dan memfitnah laki-laki tersebut agar bisa dipenjara bukanlah sesuatu hal yang buruk karena ia masih bisa melanjutkan hidupnya. Akan tetapi menjadi Oliver juga sangat tidak mengenakan karena pasti Oliver akan merasa sangat marah kepada dirinya dan berusaha untuk melakukan hal yang lebih buruk lagi.


"Aku mengerti dengan rencanamu tersebut, tapi entah kenapa perasaanku menjadi sangat tidak enak. Aku tidak tahu harus melakukan apa, intinya saat ini aku benar-benar bingung Liam. Aku harap kau juga mengerti bagaimana perasaanku saat ini."


Liam menganggukkan kepalanya karena memang dia sangat mengerti dengan perasaan Amor. Laki-laki itu juga melakukannya karena tidak ada pilihan lain.


"Sekarang kau sudah tahu alasanku yang sebenarnya. Aku harap tidak ada kesalahpahaman lagi diantara kita, kita harus lebih berfokus kepada kehamilanmu dan juga kesehatan Papa."


Amor menganggukkan kepalanya setuju dengan Liam. Mungkin melupakan masalah itu sementara waktu bisa membuat tingkat stress nya berkurang.


__________


Papanya juga semakin hari semakin membaik. Perlahan-lahan ia sudah mulai bisa berbicara kembali walaupun belum bisa untuk bangkit dari tempat tidurnya.


Setidaknya kemajuan tersebut membuat Amor dan Liam merasa senang. Mereka masih memiliki harapan agar ayahnya kembali seperti dulu lagi.


"Papa lihatlah, cucumu di dalam sini sangat sehat sekali. Aku benar-benar mencintainya. Papa, aku berharap jika kau akan segera sehat dan bisa melihatnya secara langsung. Pasti kau akan senang sekali," ucap Amor yang tak bisa membayangkan wajah senang ayahnya. Ia benar-benar berharap bahwa sang ayah kembali normal.


"Amor, aku melihat mu seperti ini sangat bahagia. Tapi aku juga merasa sedih di waktu yang bersamaan karena melihatmu yang masih kecil harus memiliki anak. Yonatan benar-benar keterlaluan, pasti dia melakukan hal yang buruk kepadamu. Maafkan aku karena tidak bisa menjagamu dan padahal aku sangat berharap bahwa Liam atau Jonathan bisa menjagamu. Tapi dia lah yang membuat mu seperti ini, jantung ku sangat sakit sekali," ucapnya dengan suara yang terbata-bata.


Amor yang mendengar ayahnya berusaha untuk berbicara untuk menanggapi ucapannya merasa sangat terharu. Wanita itu pun memejamkan matanya menahan air matanya yang tidak sabar ingin keluar.

__ADS_1


Wanita itu sudah lama menahan air matanya di depan sang ayah. Pada hari ini ia benar-benar sangat terharu dengan ayahnya.


"Terima kasih Papa, kau sudah mau merawatku dan menyelamatkanku di jalanan."


Tuan muda Karel tampak sangat bersalah kepada Amor. Masih banyak ia menyimpan penyesalan yang begitu mendalam. Tapi ia sendiri tidak berani mengatakannya kepada Amor takut akan menyinggung perasaan Amor.


Amar mengerutkan keningnya karena melihat jika sang ayah seperti ingin berbicara kepadanya. Wanita itu sendiri kebingungan dengan hal tersebut, dan berusaha untuk mengajak ayahnya berinteraksi kembali.


Namun ia melihat tuan muda Karel berusaha untuk menghindarinya. Amar juga tidak sengaja melihat tuan muda Karel meneteskan air mata. Ketika melihat hal tersebut laki-laki Amar merasa pertahanannya sangat lemah.


"Papa, untuk apa kau bersedih untuk ku? Kau juga tahu sendiri bahwa aku tidak perlu mendapatkan kasihanmu karena semua ini sudah cukup," tutur Amor yang kadang merasa sangat bersalah kepada ayahnya karena tidak bisa menjaga sang ayah dengan baik.


"Bukan seperti itu maksudku, terkadang aku juga menyesal membawamu dari jalanan dan tidak menitipkannya saja di panti asuhan. Padahal aku tahu betul bahwa saat itu aku masih memiliki banyak musuh dan kau berada dalam lingkaranku. Secara tidak langsung aku membawamu ke dalam sebuah bahaya."


Amor menganggukkan kepalanya. Wanita itu mengerti dengan keresahan sang ayah. Tapi sama sekali ia tidak berpikir seperti itu karena jika tidak diselamatkan mungkin ia akan mati lebih dulu atau ini sudah menjadi takdir dirinya. Makanya ia harus menerima penderitaan ini.


"Terkadang apa yang terjadi pada hari ini, adalah sebuah takdir yang memang tidak bisa aku elak. Tapi tenanglah, Liam perlahan ingin membalikkan keluarga kita yang harmonis." Tuan muda Karel menghilang nafas panjang. Amoorea melihat hal tersebut mengerutkan keningnya, apakah Tuan Muda Karel tidak setuju dengan ucapannya. "Ada apa? Apakah papa marah kepadaku?"


"Tidak, bagaimana dengan Liam, apakah kau bisa menceritakannya? Dia tidak melakukan hal yang buruk, bukan? Aku mendengar pada malam itu di rumah ini sangat heboh dan Alexander ingin menemui ku dan mengatakan jika Liam akan membunuhnya."


Deg


Tidak, ia tidak ingin ayahnya tahu di waktu yang tidak tepat sehingga membuat kesehatan ayahnya semakin memburuk.


__________

__ADS_1


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.


__ADS_2