Menikahi Bodyguard Buruk Rupa

Menikahi Bodyguard Buruk Rupa
Part 18


__ADS_3

Amor memeluk kakinya dengan perasaan tidak tenang. Sudah satu Minggu lamanya dan ia tau mendapatkan kabar dari polisi setelah ia mengatakan yang sebenernya kepada polisi itu siapa pelakunya. Apakah saat ini Liam sudah ditangkap? Ia sangat berharap bahwa pria itu diadili dan hidupnya mendapatkan jaminan keselamatan karena bagaimanapun ia adalah seorang korban di sini akan tetapi tidak ada orang yang mengerti dengan perasaannya saat ini.


Amor menangis karena ia hanyalah seorang gadis muda tapi sudah menghadapi kehidupan yang sangat berat. Jika rencananya kali ini tidak akan berhasil maka habislah ia sekarang.


Apalagi Amor dalam keadaan lemah dan ia masih terbaring di rumah sakit karena luka tembak di punggungnya belum benar-benar pulih.


Amor menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia menatap ke arah pintu yang berderit.


Ia berharap bahwa orang yang masuk ke dalam kamarnya itu akan memberikan kabar baik untuknya. Semoga saja.


Amor yang tadi ketakutan itu pun perlahan mulai tenang saat melihat dokter yang mendekati dirinya.


"Dokter, apakah aku baik-baik saja? Apakah aku sudah boleh pulang."


Dokter itu hanya melemparkan senyum manis kepada Amor tanpa berbicara banyak. Amor pikir itu adalah pertanda baik.


Ia pun sudah mulai sangat senang mengetahui bahwa ia akan segera pulang. Senyum Amor sama sekali tak pernah terhenti.


"Dokter, kapan aku akan pulang?" Baru saja Amor menyelesaikan ucapannya ia terkejut pada saat melihat polisi dan beberapa dokter lainnya yang masuk ke dalam kamarnya. Selain itu ia juga melihat ada Liam di sana.


Amor yang menyadari hal itu langsung ketakutan. Apa yang ingin dilakukan oleh Liam sebenarnya? Kenapa pria itu tidak ditahan? Seharusnya ia sudah ditetapkan sebagai tersangka karena jelas-jelas dia lah yang sudah membunuh keluarganya. Rasanya ini sangat tidak adil bagi wanita itu.


"Apa-apaan maksud dari semua ini?" tanya Amor seraya menatap tajam ke arah para polisi tersebut untuk menuntut jawaban.


Akan tetapi para polisi itu seolah-olah menganggap dirinya tidak ada di tempat itu. Tentu saja Amor merasa tersinggung dengan apa yang mereka lakukan.


"Apakah kalian tidak mendengar ku? Kenapa kau juga masih membawanya kemari? Bukannya seharusnya ia dipenjara."


"Dia benar-benar sudah terganggu psikologis dan harus dirawat di rumah sakit jiwa," ucap dokter yang merupakan psikolog.

__ADS_1


Amor yang mendengar hal tersebut lantas membulatkan mulutnya. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa kali ini dia akan kalah telak dari pria itu. Bisa-bisanya ia dicap gila.


"Aku tidak gila, berhenti mengatakan itu kan aku memang gila. Aku waras dan semua keterangan yang aku berikan itu benar," ucap Amor menggebu-gebu berharap bahwa orang-orang di tempat ini percaya dengannya.


Tapi pada saat melihat bagaimana orang-orang itu menatap dirinya ia merasa sangat tidak yakin bahwa ada yang memihaknya. Seketika Amor langsung memandang ke arah Liam yang hanya memberikan seringaian miliknya pada saat tahu bahwa Amor tengah memandangnya.


Laki-laki itu benar-benar licik dan bahkan ia sudah merasa menang. Ia tak akan menyangka bahwa polisi tidak mempercayainya. Padahal ia sudah mengorbankan nyawanya hampir tertembak untuk memberikan keterangan yang sebenernya.


Padahal ia salah satu saksi tapi malah dianggap gila. Apakah mereka masih waras?


Amor terpaksa dibawa pergi ke rumah sakit jiwa. Wanita itu menatap ke arah Liam saat melewati pria tersebut.


"Liam, kau berhasil. Aku tahu aku tidak bisa melawan mu tapi aku juga tidak akan menyerah," bisik wanita itu dan kemudian menarik napas panjang seraya menhan tangis yang benar-benar sudah pecah.


Rupanya tidak semudah itu untuk membalas dendam. Semuanya butuh perjuangan dan Amor berharap bahwa perjuangannya tidak akan sia-sia. Ia rela berkorban nyawa.


________


Rupanya ia tidak bisa meremehkan laki-laki tersebut karena memiliki banyak bekingan. Sementara Ia hanya bisa berjuang sendirian untuk melawan ketidakadilan.


"Kau benar-benar hebat Liam, aku hanyalah gadis muda yang mengharapkan dapat keadilan tapi malah terjebak di dalam sini." Selama berada di rumah sakit jiwa ini Amor tidak mengkhawatirkan siapapun selain ayahnya.


Mengingat reputasi Liam yang benar-benar buruk dan bisa saja melukai ayahnya. Apalagi ia mendengar bahwa ayahnya sudah semakin membaik, ia takut itu akan menjadi ancaman bagi Liam dan akhirnya melakukan hal yang di luar ketidak keinginannya terhadap ayahnya.


"Ingat Liam, aku tidak akan membiarkanmu Jika kau berani menyentuh ayahku."


Wanita tersebut menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Iya pun memeluk lututnya dan kemudian meletakkan dagunya di atas tungkainya tersebut seraya menangis tersedu-sedu.


Pada saat ia merasa benar-benar sangat pasrah dirinya terkejut ketika merasakan seseorang yang merusak lengannya dan kepalanya. Amor mengangkat kepalanya dan berharap bahwa orang itu akan menyelamatkannya.

__ADS_1


Namun pada saat matanya yang sembab bertatapan dengan laki-laki tersebut dia hanya bisa termenung dan semakin terpuruk. Dia Liam seolah-olah tengah peduli dengannya. Padahal pria itu sendiri yang membuatnya seperti ini.


Liam tidak berbicara apapun dan lalu memeluk tubuh Amor. Wanita tersebut juga tidak bereaksi apapun dan membiarkan Liam memeluk tubuhnya. Mungkin saat ini Ia memang membutuhkan sebuah pelukan hangat untuk menenangkan hatinya.


"Apakah kau sudah merasa puas? Amor, kau tidak seharusnya melawanku. Sudah aku katakan jika kau duduk dengan manis dan menuruti semua perintahku maka aku akan memaafkanmu dan memberikanmu kebahagiaan."


Amor menggelengkan kepalanya dengan lemah. Sama sekali dirinya tidak berharap bahwa ia menginginkan hal tersebut. Yang ia inginkan hanyalah sebuah keadilan di mana seorang penjahat seperti Liam ini dipenjara.


"Tidak mungkin aku menuruti semua perintahmu dan berlindung dengan orang yang telah menghancurkan keluargaku. Kau tahu sendiri semua harta dan aset-aset yang seharusnya diwariskan ke aku kau ambil semuanya. Aku tidak memiliki apapun lagi dan semua itu karenamu. Lalu masuk akalkah jika aku dengan sukarelanya mendengarkan dirimu?" Amar seolah-olah ingin mengungkapkan isi hatinya yang benar-benar sangat sakit. "Sekarang kau bahkan membuatku berada di tempat ini."


Liam pun pengusaha pipi Amor dan kemudian mengangkat dagu wanita tersebut. Ia tersenyum lebar dan kemudian menata Amor dengan tatapan tajam.


"Baiklah, karena ini adalah pilihanmu maka aku tidak ada kata lain selain menurutinya. Aku akan memberikan hukumanmu karena sudah berani mengaku. Sekarang kau tahu sendiri bahwa kau tidak bisa melawan ku."


Secara tiba-tiba Lia pun mendekatkan bibirnya ke bibir Amor. Kemudian ia mengecup bibir tersebut dengan cukup lama. Amor yang sudah tahu bahwa dia tidak bisa bergerak sama sekali untuk saat ini maka ia harus pasrah dan menyusun rencana.


Sayangnya gadis yang baru memasuki usia remaja dipaksa untuk menjadi dewasa. Seharusnya ia sedang menikmati masa mudanya akan tetapi semua itu tidak ada lagi artinya. Ia harus berjuang mati-matian demi keluarganya. Jika ingin berhasil maka ia harus mengorbankan sesuatu, mungkin inilah yang akan dikorbankan oleh Amor.


Wanita tersebut hanya menjadi seorang patung dan membiarkan dia melakukan apapun kepada tubuhnya. Merasa jika tidak ada perlawanan dari Amor Liam yang sudah sangat lama terangsang itupun melakukan hal yang lebih pada tubuh Amor.


Amor benar-benar menahan rasa takutnya karena ini adalah pertama untuknya. Apalagi orang yang akan mengambilnya adalah orang yang paling dibencinya. Mungkin ini akan menjadi sejarah bagi Amor.


Liam pun mengangkat tubuhnya keranjang rumah sakit tersebut. Kemudian ia meneruskan aksinya dengan sangat terburu-buru karena sudah tidak bisa menahannya lagi. Akan tetapi ia juga tetap melakukan hal yang lembut membuat Amar terbuai sehingga tanpa sadar Ia juga larut dalam permainan itu.


________


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.

__ADS_1


__ADS_2