
Tepat pada tengah hari, ketika masjid-masjid di pedesaan tengah melantunkan ayat-ayat suci menjelang adzan dzuhur, sepasang suami istri tersebut telah tiba di kediaman keluarga Mawar. keduanya disambut hangat oleh ibu dan ketiga adik Mawar. mereka tampak gembira sekali sekaligus terkejut, pasalnya Mawar tidak menghubungi terlebih dulu jika anak dan menantunya akan berkunjung.
Mawar memeluk sang ibu dengan penuh cinta. sudah dua bulan lebih setelah kepergiannya untuk merantau, belum pernah sempat untuk menjenguk keluarga. dan hari ini suasana penuh suka cita, mereka saling memeluk dalam waktu cukup lama alih-alih melepaskan rasa rindu yang memuncak.
"Ibu senang sekali kalian kemari, kenapa nggak billang-bilang dulu? biar ibu masak banyak hari ini." ucap ibu
"Surprise, Bu. Mawar sengaja nggak beritahu." ujar Mawar, kembali memeluk sang ibu lalu menarik tubuhnya kembali
"Ini, untuk ibu dan adik-adik, oleh-oleh dari Jakarta." Dave menyodorkan beberapa kantung kresek yang berisi oleh-oleh untuk keluarga Mawar. dalam perjalanan, keduanya menyempatkan waktu untuk mengunjungi pusat oleh-oleh di ibukota
Ketiganya menyambut kantung tersebut dengan raut wajah yang semringah, bergembira sekali mendapatkan buah tangan dari ibukot negara ini.
Mawar mengulum senyum melihat kegembiraan adik-adiknya. hati ini terasa tentram dan damai sekali bila menyaksikan senyuman mereka.
Ibu segera menyuguhkan masakan sederhananya di lantai ruang tamu. dibantu oleh putri keduanya yang berusia tujuh belas tahun, hanya selisih lima tahun dengan Mawar. melihat masakan ibu, seketika air liurnya ingin segera menetes. aromanya begitu lezat, dan ini termasuk masakan kesukaannya.
"Ayo kita makan siang dulu, setelahnya kalian beristirahat." ajak ibu
Mawar dan Dave mengangguk. Mawar segera menyiapkan nasi untuknya, yang langsung diperhatikan oleh sang ibu.
"Nih, centongnya." Mawar memberikan centong kepada sang suami
__ADS_1
Ibu mengernyitkan dahinya melihat sikap Mawar kepada suami. "Mawar, bukan seperti itu kamu memperlakukan suamimu. siapkan nasi dan lauknya, juga air minumnya, bukan menyuruhnya untuk mengambil sendiri." tegur sang ibu dengan sedikit nasihatnya
Dave hanya tersenyum, memang seperti itulah seharusnya.
"Hehehe, Bu, biasanya juga dia ngambil sendiri." Mawar cengengesan
Ibu menggeleng-gelengkan kepala melihatnya. "Tidak boleh seperti itu. bagian menyiapkan makanan, termasuk melayani suami. kamu harus mengubah kebiasaanmu itu!"
"Baiklah." Mawar mengangguk paham. setelah mengambil porsi untuknya, kini ia menyiapkan nasi dan lauk buat sang suami yang tampak kalem di kediamannya ini. coba saja di rumah Dave, pria itu akan lebih brutal ingin memburunya untuk menjadikan santapan rudal raksasa yang tersembunyi.
**
Mawar mengajak sang suami menikmati suasana desa pada sore hari. memandang luasnya hamparan kebun teh yang sangat sepi, suasana iklim yang mulai terasa cukup sejuk, udaranya pun segar membuatnya ingin menikmati suasana tempat ini.
"Ayo kita ke sana!" Mawar menarik tangan Dave, keduanya berlari kecil menelusuri hamparan daun teh yang bertengger disisi kanan dan kirinya.
Menghirup daun teh adalah kesenangan tersendiri bagi gadis berusia dua puluh dua tahun tersebut. sejak dulu Mawar senang sekali bermain di sini bersama adik dan teman kecilnya semasa dulu.
"Mawar, sepertinya mau hujan." ucap Dave, menengadahkan kedua tangannya ke udara, merasakan jatuhnya air hujan yang berasal dari atas sana.
Dave mendongak menatap langit yang sudah berubah menjadi kelabu. tampak awannya pun perlahan bergerak jika diperhatikan dengan serius.
__ADS_1
"Wah, asyik dong kalau hujan! seru mah di sini kalau mandi hujan." seru Mawar yang tampak euforia sekali
"Ck!" Dave menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kekanak-kanakkan sosok Mawar tersebut
"Sudah ah, di sini dulu sampai maghrib. kapan lagi coba mandi hujan, terus menikmati penghijauan. melihatnya saja segar banget." ucap Mawar tersenyum dari jarak keduanya yang cukup jauh.
Perempuan itu tidak bisa diam dalam satu tempat, selalu pergi kesana kemari membawa rasa bahagianya
Mawar dan Dave pun diguyur oleh air hujan yang cukup deras. tampak perempuan itu menengadahkan wajahnya ke atas, sedangkan kedua tangannya direntangkan ke udara sembari menikmati air hujan yang jatuh menimpa wajahnya.
Sedangkan Dave sedikit terkejut. merasakan air hujan yang sangat deras baginya, ia segera menghampiri Mawar lalu menarik tangannya. membawa Mawar ke tempat perteduhan yang entah di mana.
"Aaakh, Dave!" teriak Mawar. lelaki itu mengganggu ketenangannya
"Hujannya semakin deras! bagaimana kalau kau sakit?" balas Dave ditengah riuhnya suara hujan menyentuh tanah
"Nggak akan, kok. aku sudah biasa,"
"Keras kepala sekali!" decak Dave, mengusap wajahnya dengan kasar
Mawar menghempaskan tangannya dari cekalan tangan Dave. ia memang menyukai hujan di pedesaan, vibesnya itu membawa ketenangan. maka dari itu, Mawar tidak suka diganggu oleh siapa pun.
__ADS_1
Dave menghembuskan napas dengan kasar. jalan satu-satunya adalah menggendong wanita ini agar dapat pergi dari tempat ini.
...~Bersambung~...