
Cukup lama berdebat dan meyakinkan bahwa kondisi tubuh Mawar sudah baik-baik saja tanpa merasakan kepala pusing maupun demam, Dave akhirnya menyerah dan pasrah menerima kekeras kepalaan wanita ini yang tetap enggan untuk dibujuk.
Berkat koyo, merupakan obat luar ditempelkan ke bagian tubuh yang sakit, termasuk pelipis agar rasa denyutnya berkurang, Mawar sudah tidak merasakan apa-apa lagi. Hanya saja suhu tubuhnya terasa naik turun. beruntung saja sore ini suhu tubuhnya normal hingga Mawar berhasil meyakinkan Dave untuk tidak membawanya ke rumah sakit.
Bagi Mawar, ia tidak terbiasa ke rumah sakit jika mengalami kondisi tubuh yang sering dialami oleh banyak orang. hidup di kampung, hanya obat herballah yang selalu ia konsumsi dari hasil racikan sang ibu. dan itu terbukti ampuh untuknya dan keluarga.
Dave yang tengah memainkan ponsel, sesekali melirik ke arah Mawar disisinya. wanita itu memegang perut, terkadang meremasnya. sesekali meringis, membuat Dave mengernyit heran hingga perhatiannya teralihkan ke arah Mawar.
"Kamu kenapa? masuk angin lagi?" tanya Dave
Mawar menggelengkan kepala. "Aku lapar. tiba-tiba ke pengen sate,"
"Sate??"
"Huum. sate padang, deh. kayaknya bikin aku ngiler," ucapnya mengulum senyum
"Baiklah, kita beli sate. lalu apa lagi?" mumpung akan menjaja makanan, sekalian saja Dave menawarkan makanan lain yang mungkin saja juga diinginkan Mawar.
Dave tidak ingin kejadian tadi malam kembali merepotkannya. sudah tiba di rumah, tiba-tiba minta sesuatu yang mengharuskannya kembali lagi ke perjalanan dalam keadaan melelahkan.
Mawar yang ditawarkan keinginan apa lagi harus dituruti, tidak akan menyia-nyiakannya. Ia pun berpikir sembari membayangkan cita rasa makanan indonesia yang menggugah selera.
Seketika air liurnya menetes kala membayangkan sesuatu didalam fantasinya.
"Buruan!" desak Dave, lama sekali berpikirnya
"Sate padang, nasi padang, telur gulung, martabak manis,"
Dave mendelik mendengarnya, sebanyak itukah, apa sanggup? ia pun bingung.
__ADS_1
"Aha! jangan lupa brownies redvelvet!" nada mengancam menghunus kepada Dave yang seketika menepuk jidatnya dengan cukup keras
"Masih saja mengingatnya." gumam Dave yang dapat didengar oleh sang istri
"Tentu saja ingat! pokoknya semua-semua permintaanku harus diberikan!" tegas Mawar
Assisten Refal yang tengah mengendarai roda empat ini hanya menyimak, dan kini ia malah menggeleng-gelengkan kepala mendengar lima macam makanan tersebut.
"Ya ya ya! kita langsung cus cari makananmu itu."
"Yes!" Mawar bersorak gembira. "Ah, satu lagi, kepengen lingerie." Mawar, dengan senyum manisnya, melenggang-lenggokkan tubuhnya dihadapan Dave.
"Ppppfffft!" sontak saja Assisten Refal menahan tawa yang hampir mencuat. sedangkan Dave membelalakkan matanya mendengar permintaan vulgar itu
Ia mengedipkan mata berkali-kali seolah tak percaya dengan apa yang ia dengar. "Lingerie??" kata Dave
Mawar mengangguk, ia tersenyum malu hingga pipinya nampak bersemu merah. entah racun apa yang bersemayam dipikirannya, hingga benda itu dengan lancarnya keluar dari mulutnya.
"Tumben pengen lingerie?" bisik Dave
Mawar mengendikkan bahunya. "Nggak tahu, pengen aja." dengan polosnya ia menjawab
Dave mengeram, juniornya mulai berdiri tanpa diperintah.
"Refal." panggil Dave
Refal menoleh sekilas ke belakang, memelankan laju mobilnya.
"Ya?"
__ADS_1
"Berhenti!"
Refal menurutinya, kembali menoleh ke belakang.
"Kau keluarlah!" usir Dave. Assisten Refal menyipitkan matanya, bingung.
"Buruan!" gertak Dave, hingga pria itu menghela napas panjang sambil menggelengkan kepalanya berdesah frustasi.
Refal jelas tahu apa tujuan tuannya ini mengusir dirinya, ia sudah biasa dan ini bukanlah sekali saja diusir kala ada wanita diantara mereka.
☆☆☆
Dave memacukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup kencang. Mawar sempat dibuat bingung akan sikap suaminya yang terlihat brutal. beberapa menit kemudian, Mawar dibuat heran mengapa Dave membawanya ke sebuah gedung yang memiliki banyak jendela. ya, hotel, Dave membawanya ke hotel, bukanlah kediaman mereka.
"See? nanti saja kita beli semua keinginanmu itu. yang terpenting kau harus penuhi kebutuhanku saat ini."
"Kau tahu? ini ulahmu!" ucap Dave
"Ulah apa?? aku nggak ada ngapain kamu kok, kok jadi ulahku." Mawar menggaruk kepalanya yang tidak gatal
"Ayo kita turun!" ajak Dave
Tanpa banyak kata, Mawar segera membuka pintu mobil hingga tubuhnya hampir terhuyung ke depan kala Dave menarik tangannya.
"Lepas, ih! aku pengen sate!" Mawar berusaha melepaskan genggaman sang suami
"Nanti saja!"
"Ck!" Mawar berdecak kesal. mendongak menatap langit-langit gedung hotel yang tampak estetik dengan interior modern
__ADS_1
Dasar laki-laki gatal! batinnya
...~Bersambung~...