
Hampir larut malam, kendaraan panjang dan berjalan kilat disepanjang rel, berhasil membawa Mawar dengan selamat hingga ke Stasiun Tugu, Yogyakarta. ditengah riuhnya suasana kota, Mawar menikmati suasananya dengan menaiki becak yang dikendarai oleh pak tua yang masih tampak segar mencari pundi-pundi kehidupan.
Mawar mengabadikannya dengan memotret tiap bangunan yang menarik dimatanya. seolah telah melupakan masalah yang tengah dihadapi, kota ini berhasil membuatnya tersenyum disepanjang perjalanan.
Lagi pula untuk apa ia menangisi lelaki pengkhianat itu, tidak ada gunanya sama sekali. saat ini Mawar hanya fokus memulai hidup baru bersama janin yang tengah ia kandung. walau tak sedikit pun rasa sedih kembali menerpa mengingat kisahnya bersama Dave, apa lagi status janin ini yang ternyata dari hasil perbuatan tak disangka.
Mawar mencoba menepis bayangan masa lalunya, biarkanlah angin yang membawa kedukaannya. Mawar segera menyadarkan diri dari ingatan kelam, kembali fokus pada jalanan kota yang masih dipenuhi hiruk piruk riuhnya warga.
Selang tak berapa lama, akhirnya Mawar telah tiba di kediaman barunya yang berada disisi kota. sebuah rumah kost akan segera ia tempati setelah sepanjang perjalanan mencari tempat tinggal via media sosial yang ada diponselnya. beruntungnya ia mendapatkan rumah dengan harga ekonomis per tiap bulannya, dan tempatnya pun terlihat cukup nyaman.
"Matur nuwun, Pak." ucap Mawar kepada pak becak, yang langsung diangguki olehnya
***
Usai bertemu dengan pemilik kost dan berbincang sedikit, kini Mawar telah menjatuhkan tubuhnya yang lelah ke atas ranjang tunggal. menatap langit-langit kamar, memori itu kembali terlintas diingatannya. entah sampai kapan ia dihantui oleh masa kelam itu, hatinya yang masih sakit tidak mungkin secepat kilat untuk sembuh. butuh waktu untuk melupakannya, bahkan mungkin tidak pernah terlupakan. wajar saja pengalaman mengesankan yang berakhir pilu penuh pengkhianatan, tidak akan mungkin lari dan musnah dalam memori dan perasaannya.
"Sudahlah, kenapa mesti diingat? lupakan, Mawar!" Mawar berusaha meredamkan ingatannya perihal itu
"Sekarang fokus pada hidupmu dan anakmu, berusahalah agar kelak kalian tidak bertemu dengan pengkhianat itu!" sambungnya
Seolah tersirat dendam, Mawar telah bersumpah tidak akan mempertemukan anaknya dengan sang ayah yang telah mendzolimi bahkan menipu mereka. parahnya lagi, Dave tidak menikahinya. sudah jelas status anak ini yang tercipta dari perbuatan haram mereka, tanpa Mawar ketahui. mengingat itu semakin membuat rasa bencinya memuncak.
Disisi lain, Dave belum juga bisa terlelap hingga larut malam begini. walau tubuhnya lelah setelah bercinta dengan Wilona, namun mata itu masih tetap terang dan tidak sayu kala memorinya mengingat Mawar yang selama ini menemaninya.
Rasa sesal menghinggapi jika saja Mawar mengetahui kenyataannya bila penikahan itu hanya settingan demi rasa nafsunya bisa tersalurkan. Dave akhirnya sadar dirinya telah salah memperlakukan wanita. kini ia merasa kehilangan sosok Mawar yang sangat memperhatikannya. kini hatinya telah hampa, ingin mencarinya namun tak kunjung jua jumpa. di manakah engkau, Mawar? kalimat itu selalu terucap dalam hatinya.
"Apa lagi yang kamu lamunkan? perempuan itu??!" tegur Wilona disisinya
__ADS_1
Dave tersentak, ia menoleh menatap wanita disampingnya. "Tidak." jawabnya singkat
"Apa kau mencintainya?" tanya Wilona, menilik lebih dalam raut wajah calon suaminya ini
Mendengar kalimat itu, Dave terpaku dan terdiam. apakah ia mencintai Mawar sampai sosok itu tak pernah pergi dari ingatannya.
Dave kembali tersentak kala Wilona kembali memanggilnya dengan nada amarah yang mulai memuncak.
"Katakan!" gertak Wilona
"Mmm ... tentu saja tidak, Wilona!"
"Lalu mengapa kau melamun dan hanya diam dari tadi?!"
Dave merasa jengah, memutar bola matanya sebagai tanda muak oleh sikap Wilona.
"Mana Mawar sudah pergi tanpa jejak," gumamnya sendu. sayup-sayup Wilona sedikit mendengar
Wilona menyipitkan mata menatap Dave, rasa sakit hati mulai mengiris dadanya.
"Kau membutuhkannya?"
"Siapa?" tanya Dave
"Tentu saja sekretarismu, si ****** itu!"
"Jaga mulutmu!"
__ADS_1
Adu cekcok pun mulai terjadi diatas ranjang tersebut. seolah Dave tidak terima bila Mawar dijelek-jeleki dengan kalimat itu.
"Kau membelanya, Dave? jelas-jelas dia ****** yang memaksamu untuk menikahinya." Wilona mengingatkan hal itu kembali, alasan Dave yang menikahi Mawar
Dave terdiam, ia lupa dengan alasan yang ia buat. walau pada kenyataannya, Mawar tidaklah pernah menggodanya.
"Maaf, aku tidak membelanya atau siapapun. aku hanya pusing memikirkan pekerjaan. yang biasanya ada sekretaris, sekarang tidak ada."
"Jadi tolonglah mengertiin aku, aku tidak mencintainya." Dave menatap dalam wajah tunangannya
"Apa jasa assistenmu saja tidak cukup?" tanya Wilona
"Tugas mereka telah diatur. Refal juga ada bagian miliknya."
"Kalau begitu, suruh dia kerjain tugas sekretarismu."
"Ya. kau tidurlah lagi, besok kita akan melakukan prewed." ajak Dave, yang langsung dituruti oleh Wilona.
...~Bersambung~...
☆
☆
☆
Maaf menunggu lebih lama🙏 efek lebaran, liburan, sampai mood nulis belum ada, jadi aku susah untuk update.🥺
__ADS_1