
Setiap hari selalu bekerja di depan layar laptop dan tumpukan kertas penting memenuhi meja kerja. membuat Dave mulai jengah dengan apa yang ada didepan matanya. sspertinya pria ini butuh sedikit hiburan. disela kesibukannya, Dave terpikat dengan tontonan biru yang selalu menjadi favoritenya. sejenak ia meninggalkan pekerjaannya, beralih pada perangkat lain yang menayangkan koleksi filmnya.
Tatapan matanya menilik satu persatu film miliknya. dari awal hingga akhir, Dave mendengus kala tidak terdapat satupun film yang menarik hatinya. semuanya sudah ia tonton, bahkan berulang kali, sungguh membuatnya bosan. Dave berpikir, apa yang harus ia lakukan kini. pria itu melirik jam dipergelangan tangannya, sudah pukul sepuluh pagi.
"Di sana sudah jam lima pagi. apa ku telpon saja Wilona?" gumamnya begitu bingung. hatinya berkecamuk bersamaan dengan akal pikirannya. pasalnya wanita itu juga belum pernah menghubunginya, kecuali melalui pesan di ponselnya
"Lebih baik aku hubungi. dia tidak mungkin sibuk, paling sedang tidur." sambungnya
Kemudian Dave menghubungi sang tunangan di Benua Eropa sana.
☆☆☆
Tok tok tok
Ketukan pintu mengalihkan perhatian Dave yang tengah melakukan panggilan via video call bersama sang tunangan. baru saja lima menit sudah ada yang mengganggunya.
"Sayang, sebentar, ya!"
[Hmm, baiklah. lebih baik kamu bekerja dan aku juga masih ingin tidur. hoaaaam!!]
"Ck!" Dave berdecak. "Akan ku hubungi lagi nanti, bye!" sambungnya
Perempuan diseberang sana mengangguk, mata pun sudah tampak sayu-sayu. Dave segera memutuskan panggilannya sembari menyahuti seseorang diluar sana.
"Masuk!"
Pintu didorong, sosok seorang wanita berpakaian anggun memasuki ruangannya. Dave terpaku, paras ayu itu memenuhi kedua penglihatannya, membuatnya terpana. Dave tidak berkedip, ia terus memandang wanita cantik mempesona yang sudah hampir sebulan ini menemaninya.
"Tuan, ada yang harus ditanda tangan." ucapnya
__ADS_1
Dave mengedipkan matanya berkali-kali, ia tersadar dari lamunannya.
"Hmmm, baiklah." Dave segera membubuhkan tanda tangan ditempat yang telah ditentukan
"Baik, terima kasih." Mawar kembali mengambil berkas itu. membalikkan tubuhnya agar segera pergi dari sana.
"Tunggu, Mawar!" cegatnya
"Ya??" Mawar menoleh
"Jangan lupa tersenyum." ucap Dave, melebarkan bibirnya membentuk senyuman manis
Mawar mengulum senyum lebar sambil menganggukkan kepala
Seperginya Mawar dari ruangannya, Dave menghembuskan napas dengan kasar. sebenarnya ia ingin menikmati tubuh itu, namun mengingat tempat yang kini ia pijak, rasanya mustahil untuk melakukannya dalam waktu lebih lama.
Disisi lain, Mawar berpikir untuk memulai rencana pemeriksaan ke rumah sakit mengenai janin yang ia kandung. hari demi hari, waktu demi waktu, dirinya selalu terikat bersama Dave. tidak pernah berpisah sedikit pun. hanya jarak antara meja presdir dan sekretaris yang memisahkan mereka.
"Walaupun berharap sakit sekarang dan aku pamit ke rumah sakit, pasti pria itu akan mengekoriku." gumamnya tanpa suara, menggigit pulpen yang melekat di jemarinya
Mawar terus berpikir bagaimana cara keluar dari teritorial Dave walau agak sebentar saja. Mawar pun juga butuh angin segar agar bisa bernapas dengan lapang tanpa lelaki itu disisinya.
Asyiknya bergelut dalam pikiran, sontak saja Mawar tersenyum semringah kala menemukan ide menarik.
"Aha!! aku akan berakting pada esok hari."
***
"Bisakah kau ajak aku jalan-jalan, entah ke mana gitu?" tanya Mawar, keduanya sedang dalam perjalanan pulang ke kediaman Dave
__ADS_1
Dave tercenung, mendengar permintaan Mawar jelas sekali bila selama ini ia tidak pernah membawa perempuan ini jalan-jalan menikmati kota ini, bahkan ke tempat hiburan sekalipun.
Bodo! bahkan aku nggak pernah membawanya jalan-jalan. gimana mau buat dia jatuh cinta kalau nggak begitu. batin Dave
"Bisa, tentu saja bisa." sahut Dave
"Mau makan ice cream?" sambungnya
Mawar mengangguk dengan senyum semringah menghiasi bibirnya
"Boleh!" katanya dengan gembira
"Bawa kami ke tempat makan ice cream, Refal!" titah Dave
"Oke. saya punya tempat yang bagus dan menu umumnya adalah ice cream," ucap Assisten Refal
"Ohya? apa banyak variasi?" tanya Mawar
"Tentu saja."
Mawar mengangguk paham, dan ia merasa tidak sabar untuk sampai ke tujuan. entah ada angin apa yang membuat bibirnya berceletuk ingin jalan-jalan bersama Dave. dan Mawar terlonjak gembira kala Dave mengajaknya menikmati makanan manis itu.
Tanpa terasa mereka bertiga telah tiba disebuah kafe yang menyajikan ice cream dengan segala macam variasi unik dari bentuk dan cita rasanya.
Mawar bingung memilih menu apa yang ada di buku ini, semuanya terlihat menggiurkan dan sangat sulit untuk ia memilah. Mawar mendongak lalu menoleh ke kiri menatap sang suami.
"Boleh beli banyak?" tanyanya
"Sesukamu jika perut itu cukup menampungnya." kata Dave
__ADS_1
"Ck! tentu saja cukup!"
...~Bersambung~...