Menjadi Istri Karena Nafsu Gila

Menjadi Istri Karena Nafsu Gila
Kontrol


__ADS_3

Dave tidak bisa menemani Mawar di kediamannya seorang diri, kala Mawar telah menjelaskan bahwa pagi itu hingga sore menjelang, Dave memiliki kesibukan yang teramat padat. hal itu pun dibenarkan oleh Assisten Refal setelah memeriksa susunan jadwal bagi presdir. Lagi pula Mawar hanya butuh istirahat di rumah tanpa mau ke mana pun.


Mawar sedikit lega bisa meluluhkannya. memandang kepergian Dave, akhirnya ia merasa bebas pada hari ini.


"Akhirnya kita bisa ke rumah sakit," ucap Mawar tersenyum sembari mengelus perutnya yang terasa sedikit buncit


Mawar sedikit terpaku merasakan perutnya yang sedikit menonjol. bukan buncit karena lemak, melainkan buncit ini terasa padat, tidak seperti buncit biasanya. "Kira-kira udah berapa minggu, ya? kok terasa buncitnya." gumam Mawar


Mawar pun mengendikkan bahu, ia pun belum tahu sudah berapa lamakah si jabang telah bersemayam di tubuhnya. Mawar bergegas kembali ke kamar, melangkahkan kakinya dengan langkah cukup lebar untuk tiba di lantai dua.


Buru-buru ia membersihkan tubuhnya yang telah terasa lengket, kemudian Mawar bergegas mengenakan pakaian dengan setelan rok plisket, tanktop dan dilapisi oleh jaket denim. simple sekali, apa lagi rambut ikalnya tergerai bebas menyentuh pundak hingga punggungnya.



Sebelum merias, Mawar terlebih dulu memesan ojek online via aplikasi kuning di ponselnya. setelah terkonfirmasi, Mawar kembali melanjutkan riasan diwajahnya agar tetap terlihat segar dan cantik. tak lupa mengenakan sepatu kets berwarna putih, begitu pula dengan ransel berwarna senada.


"Saatnya kita berangkat, Sayang." ucap Mawar, setelah memeriksa isi tasnya yang berisi keperluan penting jika saja pihak rumah sakit membutuhkannya.


☆☆☆


Dalam waktu hampir tiga puluh menit, Mawar telah tiba di rumah sakit yang cukup besar di ibukota. pagi-pagi begini sudah dipenuhi oleh banyaknya orang. ada yang ingin menjenguk, dan ada pula yang ikut pemeriksaan seperti dirinya.


Mawar bergegas melangkah masuk lalu ikut mendaftar seperti yang lainnya. kali ini mendengar kata mengantri harus bisa bersikap sabar, sesabar-sabarnya menanti panggilan.

__ADS_1


Hampir dua jam Mawar menunggu, akhirnya nama itu disebut juga. Mawar bangkit berdiri sembari pamit dengan teman obrolannya, yang juga ikut berkonsultasi dengan dokter kandungan. terkadang melihat para calon ibu ini membuat Mawar sedih, pasalnya mereka ditemani sosok suami yang begitu mencintai, menikahi dengan ketulusan hati, bukan seperti dirinya yang dinikahi karena iba dan pelunasan hutang. Mawar tidak akan percaya jika Dave menyebut kata cinta padanya. jangankan cinta, kata sayang pun tak pernah terdengar.


Jadi Mawar tetap yakin ingin menyembunyikan kandungan ini sampai diketahui sendiri oleh Dave. hingga keduanya bisa membuat keputusan baru di masa mendatang.


"Selamat pagi, Dok." sapa Mawar


"Pagi, silakan duduk, Nona Mawar." sambut Dokter wanita tersebut


Mawar membenamkan bokongnya pada kursi yang telah disiapkan. Ia siap untuk berkonsultasi saat ini.


"Kemarin saya melakukan testpack, apa benar kalau saya sedang mengandung?" tanya Mawar, menyodorkan dua alat itu kepadanya


Dokter melihat garis dua tersebut sembari mengulum senyum. "Ya, benar. ayo kita coba untuk usg kandungannya, ya, Nona." Dokter itu bangkit dan mengajak Mawar untuk berbaring diatas brankar yang dikelilingi oleh alat USG untuk mendeteksi sesuatu didalam tubuh seseorang, termasuk rahim milik Mawar.


Mawar menatap fokus pada layar monitor, sebuah benda berbentuk bulat terlihat samar dimatanya.


"Janinnya sudah berbentuk kantung, ini sekitaran tiga minggu usia kehamilan bunda." ujar Dokter


"Tiga minggu?" sontak Mawar terbelalak mendengarnya


"Ya, benar. janinnya juga sangat sehat."


"Benarkah?" Mawar menatap kagum pada layar itu

__ADS_1


Dokter menganggukkan kepalanya. "Selamat, ya ... saya akan beri vitamin untuk menguatkan kandungan bunda."


Kemudian dokter bangkit setelah membersihkan gel yang melekat di kulit perut Mawar. Mawar mengekorinya, kembali duduk ditempat semula.


"Apa ada keluhan selama kehamilan bunda?"


"Hmmm, mual, muntah, demam, pusing, saya ngiranya sih cuma masuk angin." jawabnya cukup polos


"Itu termasuk tanda-tanda kehamilan, ya, bunda ... ini sudah saya berikan resep berupa vitamin dan obat pereda mual. diminum jika bunda merasakan mual saja ya, dan vitaminnya harus diminum setiap hari."


Mawar mengangguk mengiyakan


"Pola makannya juga harus diperhatikan, makan sayuran, buah, dan tidak lupa susu hamilnya supaya janin yang dikandung tetap sehat."


"Baik, Dok, terima kasih."


"Baiklah, jangan lupa kontrol lagi dua minggu kemudian."


Setelah selesai berkonsultasi dan menebus resep, Mawar beranjak pergi dari rumah sakit ini. aroma tempat ini semakin lama semakin mengundang rasa mualnya. entah karena efek kehamilan, ataukah efek sejak dulu yang tidak tahan dengan aromanya.


Mawar buru-buru melangkah, hingga sesuatu didalam perutnya terus bergejolak mmbuatnya tidak sanggup lagi untuk menahan.


"Uwek!"

__ADS_1


...~Bersambung~...


__ADS_2