
Pernikahan Dave dan Wilona tersisa beberapa hari lagi. Hari ini, keduanya akan melakukan foto prewedding dibeberapa tempat. Ditengah jalan, di taman, dan di pantai. Sesuai permintaan sang calon istri.
Sepasang kekasih itu telah siap, membawa sang fotografer dan penata rias juga busana. dengan mobil yang berbeda, kendaraan ini melesat laju meninggalkan kediamannya
Disepanjang perjalanan, Dave hanya diam tanpa banyak berbicara. Memandang keluar, memikirkan Mawar entah di mana. Apakah dia masih di kota ini ataukah tidak? seketika Dave teringat jika ia memerintahkan anak buahnya untuk memantau kediaman orang tua Mawar. Buru-buru Dave merogoh ponselnya untuk menghubungi anak buahnya tersebut.
'Bagaimana? Apa kalian melihat Mawar di sana?'
Dave mengirim pesan tersebut via aplikasi hijau. hanya menunggu beberapa menit, ponsel pun terasa bergetar. Dave sengaja memasang mode getar, agar dering ponsel tidak mengganggu acaranya pada hari ini. Apalagi melihat gelagat Wilona yang terus memperhatikannya, membuatnya sedikit risih dan tidak nyaman.
"Jangan pegang ponsel terus, kamu sedang bersamaku sekarang!" peringat Wilona
"Yang penting aku tidak pergi kabur darimu, bukan? jangan mengaturku, aku juga pusing ini mikirin kerjaan belum beres, untung aja sekarang weekend." gerutu Calvin
Bagaimana tidak, minggu depan keduanya resmi menikah. Banyak yang harus dipersiapkan. Beruntung undangan sudah disebar dengan dibantu oleh beberapa anak buahnya.
Calvin kembali melihat ponselnya.
'Tidak ada, Nona Mawar, Tuan.' balas salah satu anak buahnya diseberang sana
Dave menghembuskan napas kasar, kemudian menyimpan ponselnya kedalam saku celana.
"Kamu terlihat gelisah." tebak Wilona
"Ng-ya wajar aku gelisah. Aku gugup saat ijab qobul nanti," hanya alasan itu yang masuk akal bagi Dave
__ADS_1
"Tenanglah." ucap Wilona. Dave mengangguk mengiyakan
Disisi lain, Mawar mulai bersiap-siap mencari pekerjaan di kota ini. Kota pelajar yang begitu indah dengan bangunan-bangunannya yang masih klasik. menghirup udaranya terasa begitu segar, pemandangan didepan mata begitu menyejukkan.
"Mama senang kita memilih tinggal di sini, Nak. Kota Yogya adalah kota yang menarik bagi mama. Nanti kapan-kapan kita ke Candi Borobudur, ya, Sayang ... sekarang kita cari pekerjaan dulu untuk keseharian kita."
"Sebelum mama cari kerjaan, kita singgah ke toko sepeda dulu, ya? Lumayanlah naik sepeda, harganya terjangkau dari pada motor, mama belum sanggup beli. Hihihi," oceh Mawar kepada janinnya. Kini posisi Mawar, tengah menaiki becak. pemandangan didepan begitu puas mata ini menyaksikannya. Tak lupa, Mawar memotretnya pada setiap objek yang menarik perhatiannya.
Selang beberapa lama, Mawar telah tiba di toko sepeda tersebut. Mawar segera turun lalu membayar ongkosnya kepada pak becak.
Berbagai sepeda dipajang didepan toko. Beragam macam dari yang kecil, biasanya untuk anak-anak, ada pula yang berukuran sedang dan besar. Mawar tertarik pada sepeda berukuran sedang, sangat cocok untuk ia kendarai.
"Yang ini berapa, Pak?" tanya Mawar. Sepeda berwarna biru muda, memiliki keranjang didepannya dan terdapat dua bangku. Sepeda yang dikhususkan untuk wanita dewasa
"Yang itu, dua juta, nduk," jawabnya
"Waduh! nggak bisa, Nduk."
Mawar mengerucurkan bibirnya. Ia berpikir sejenak, apakah ia harus mengambil yang ini atau memilih yang lain? Tapi Mawar sudah jatuh cinta duluan sama yang merek ini.
"Yang ini, satu setengah," seru si bapak penjual. Mawar melihatnya, tapi ia tetap kekeuh ingin yang pertama
"Nggak, deh. Ini aja, Pak, tapi kasih satu tujuh deh, masa nggak bisa nawar sih?"
"Hmmm, yasudah, ambillah, Nduk, satu tujuh." akhirnya si bapak pun menyerah.
__ADS_1
Mawar begitu girangnya bisa mendapatkan sepeda ini. Tapi, sebelum membayarnya, Mawar lebih dulu memeriksa kondisi sepeda tersebut.
"Boleh saya coba ngayuh dulu?" tanyanya
"Silakan, Nduk!"
Mawar mengulum senyum. Ia menaiki sepeda pilihannya dan mencoba mengayuh beberapa kali. Alih-alih memeriksa kelancaran gayuhannya.
"Oke, sip, Pak, satu tujuh, ya?" Mawar bergegas merogoh uang tabungannya dari dalam tas selempang. Beruntung saja sebelum berangkat dari Jakarta, Mawar lebih dulu mengambil uang tunai dari ATM
Mawar menghitungnya, lalu menyodorkannya kepada si bapak.
"Ini, Pak, boleh dihitung dulu."
Si bapak pun melakukannya. Akhirnya, dagangan pun terjual, dan Mawar pun memiliki kendaraan yang akan membawanya menjelajahi kota ini. Termasuk mencari pekerjaan demi menyambung kehidupannya.
Disepanjang perjalanan, Mawar menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari tempat yang dirasa cocok untuknya.
"Coba kesana deh," Mawar menunjuk gedung diseberang sana. saking semangatnya, tanpa Mawar sadari ada sebuah mobil yang mendadak belok ke arahnya.
Tit tit!
"Aaaaakh!!"
☆
__ADS_1
☆
Nggak mau janji, tapi diusahain update kalau aku ada waktu luang 😊 terima kasih buat kalian yang masih mau mampir🤗