
Mawar segera pergi dari rumah sakit setelah cukup lama berada di sana sambil mengobrol dan makan siang bersama dokter dan anaknya, yang merupakan seorang dokter internsip di sebuah perkampungan. Anehnya Mawar tidak merasakan apa-apa didalam sana, ia tidak mabuk saat menghirup aroma rumah sakit. sedikit membingungkan, walau begitu ia merasa bersyukur tidak merasa mual dan cukup enjoy bersama mereka.
Mawar melangkah menghampiri tukang ojek yang mangkal tak jauh dari area rumah sakit. berjalan terburu-buru akibat berpacu dengan waktu, sontak membuatnya tersandung batu hingga tubuh itu terhuyung ke depan.
"Aw!" pekiknya
Namun, untung saja Mawar tidak tersungkur ke tanah tatkala seorang pria menahan tubuhnya agar tidak terjatuh. Mawar tercenung sebentar, masih tidak menyangka dengan apa yang barusan ia alami. sontak Mawar memegang perutnya sembari bangkit berdiri.
"Ma-maaf, Tuan, terima kasih."
Sebelum pria itu menjawab, seseorang disisinya lebih dulu menyahut. "Lain kali hati-hati! jalan itu pakai mata!"
Mawar menggigit bibirnya kecil sambil mengangguk mengiyakan. "Baik, Nona, maaf."
"Maafkan pacar saya, permisi." ucap pria tersebut, yang langsung diangguki oleh Mawar.
Mawar memerhatikan pasangan itu hingga keduanya pergi. pria bule dan wanita berwajah cantik bertubuh tinggi bak model, namun kelakuannya minus dimata Mawar. Mawar menggeleng-gelengkan kepala melihatnya, ia pun segera melanjutkan perjalanan tanpa memerhatikan pasangan itu lagi.
Disisi lain, Dave mondar mandir di ruang kerjanya sambil menyibukkan diri dngan ponsel sesekali melihat jam di pergelangan tangannya. sudah pukul satu lebih namun Mawar belum juga kunjung kembali. ia begitu resah, kemanakah wanita itu pergi tanpa sepengetahuannya.
Tok tok tok!
Ketukan pintu sontak menjadi pusat perhatian Dave. sekilas senyum tipis terpatri diwajahnya seolah yakin jika yang mengetuk adalah wanita impiannya. Dave melangkahkan kakinya lebar, segera membuka pintu untuk sang pujaan.
"Permisi, Tuan."
__ADS_1
Seketika itu senyum manisnya luntur dalam sekejap tatkala bukan Mawarlah yang berada didepan matanya. melainkan orang lain, pekerja patri membawakannya cemilan dan juga kopi kesukaannya.
Dave menghembuskan napas dengan kasar, begitu kecewanya diri itu.
Seperginya petugas patri, sontak Assisten Refal yang tengah duduk santai, menertawakan kebucinan Dave. Dave seolah tengah diledeki hingga harga dirinya jatuh dihadapan pria itu.
"Astaga, Dave! duduklah, nikmati kopi ini." gerutu Refal, gemas sekali melihat lelaki itu
"Aku belum bisa tenang kalau tidak ada dia disini." imbuh Dave
Refal mengangguk paham, memerhatikan lelaki itu seolah terlalu takut kehilangan Mawar. Refal terus meniliknya lebih dalam, ada sesuatu yang baru muncul dari dalam diri Dave menurut pengamatannya.
"Dave, kau sudah jatuh cinta padanya?" tanya Refal
"Siapa?"
"Mana mungkin. cintaku hanya untuk Wilona." tukasnya
"Kenapa kau risaukan orang lain dari pada tunanganmu sendiri? kau sepertinya lebih menjaga Mawar dari pada Wilona."
"Wilona itu sedang bekerja, sekarang dia sedang fokus! lagi pula dia bisa menjaga diri. sedangkan Mawar, dia baru tiga bulan di kota ini."
"Seperhatian itu kau dengannya," ledek Refal
Refal teramat yakin jika sesungguhnya Dave telah mencintai Mawar. hanya saja pria itu belum tahu akan perasaannya terhadap orang lain. cintanya pada Wilona seolah telah menutupi segalanya, sejumput perasaan yang baru berkembang.
__ADS_1
Mawar mendudukkan tubuhnya dikursi kerjanya dengan napas ngos-ngossan. melihat jarum jam dipergelangan tangan, sudah menunjukkan pukul satu lebih lima belas menit. tak menyangka waktu berjalan dengan sangat cepat.
Ddddrrrrrttt
Dering telepon di meja kerjanya mengalih perhatian Mawar. Mawar segera mengangkat panggilan tersebut lalu menjawab panggilannya. siapa sangka, yang dikira adalah orang penting, namun yang menyahut dari seberang sana adalah Dave Felixio.
[Kau sudah kembali? buruan datang ke ruangan saya dalam waktu tiga detik ini!]
Glek!
Seketika Mawar menelan ludahnya dengan kasar. ia begitu yakin jika Dave akan mengintrogasinya sekarang juga atas pasal pergi tanpa izin. Mawar pun segera bangkit dengan membawa beberapa berkas agar tidak dicurigai pegawai lain. ia melangkah cepat memasuki ruang presdir dengan pikiran yang terus berputar mencari seribu alasan.
Aura ruang ini terasa mencekam, melihat sorot mata pria itu begitu sangat tajam menatapnya. cara duduknya yang angkuh memberi kesan menakutkan bagi Mawar. ia seolah akan disidang oleh hakim killer. sungguh menegangkan, Mawar hanya bisa menggigit kecil bibir mungilnya.
"Dari mana saja kau! sudah setengah dua baru datang!" geramnya
"Itu, hmm, tadi--" Mawar bergumam kecil. "Ah, saya habis ketemu teman kuliah yang dari Bandung, Tuan. kebetulan dia ada di Jakarta, jadi mengajak saya makan siang bareng." jawab Mawar begitu semangatnya setelah sebuah ide meluncur dipikirannya
Mawar kembali membeku kala melihat sorot mata Dave meniliknya begitu dalam. "Cewek atau cowok?" tanya pria itu
"Tentu saja cewek, saya tidak punya teman cowok."
"Ohya?? atau--jangan-jangan mantan yang pernah kamu ceritakan?!"
"Hah, mantan?" Mawar bergumam sambil berpikir
__ADS_1
...~Bersambung~...