Menjadi Istri Karena Nafsu Gila

Menjadi Istri Karena Nafsu Gila
Diagnosa


__ADS_3

Assisten Refal segera memanggil dokter dengan memencet sesuatu didekat brankar. tak berapa lama, dokter maupun suster telah tiba diruangan tersebut. Masih terdengar suara seseorang tengah memuntahkan sesuatu, Assisten Refal sudah panik sendiri melihat tubuh rimpuh dari seorang Dave.


"Dia muntah-muntah, Dok." ujarnya


"Baiklah, saya akan mempertanyakan lebih banyak kepada pasien."


"Sebaiknya, tuan berikan ini kepadanya." Dokter tersebut menyodorkan sebuah masker kepada Assisten Refal. Refal langsung menyambutnya dan beranjak menghampiri Dave yang tengah membilas wajahnya.


"Dave, sudahan? pakai ini kalau nggak muntah lagi,"


Dave mengangguk tanpa sepatah kata. Ia mengenakan masker itu, sesungguhnya ia membutuhkan ini agar aroma obat dan hawa rumah sakit ini tidak selalu mengusik indra penciumannya hingga berdampak pada lambung yang selalu bergejolak hebat.


"Sudah baikan?" tanya Refal


"Sudah."


"Baiklah, ada dokter yang mau menemuimu,"


Dave mengangguk, Refal menggopoh tubuh pria yang lemah ini.


Dave mendudukkan tubuhnya diatas brankar, salah satu punggung tangannya kembali dipasangkan jarum infus yang sempat ia lepaskan.


"Apa tuan punya penyakit asam lambung?" tanya dokter tersebut yang mulai mengintrogasi Dave


Dave menggelengkan kepala. "Tidak," jawabnya


"Hmm, sudah tidak mual lagi pakai masker?"


"Udah enggak lagi," jawabnya


"Apa anda mual mencium aroma rumah sakit?"


Dave mengernyitkan dahinya, bingung. "Kenapa bisa tahu?" jawabnya dengan pertanyaan balik.

__ADS_1


Bukannya dijawab langsung, dokter ini malah senyum-senyum kepadanya. Dave melirik sang assisten, pria itu mengendikkan bahunya seolah tidak tahu apa-apa


"Apa anda sudah punya istri, Tuan?"


"Sudah. memang kenapa, Dok?" Dave seolah tak sabar untuk mengetahui diagnosanya


"Kemungkinan besar, istri anda sedang hamil. dan anda tengah mengalami kehamilan simpatik," jelasnya


Dave tertegun mendengar penjelasan tersebut. begitu pula Refal, yang langsung menepuk pundak Dave dengan begitu gembiranya


"Hamil?"


Dokter mengangguk, membenarkan.


"Ada baiknya istri anda dibawa untuk memeriksakan rahimnya. saya akan buat surat pengantar ke dokter obgyn,"


Dave masih tidak percaya, benarkah Wilona tengah mengandung benihnya? rasa sakit yang ia derita, ternyata memberikan hasil yang tak pernah ia sangka


Mawar tengah menunggu antrian didepan ruangan obgyn. hampir setengah jam menunggu, akhirnya nama itu pun dipanggil juga oleh sang assisten.


Dengan degup jantung yang berdetak cepat, Mawar sungguh grogi. Ia bangkit berdiri membawa perasaannya itu, memasuki ruangan tersebut.


"Hai, Ibu Mawar," sapa dokter tersebut


"Hai, Dok," sahutnya


"Gimana dengan keadaan kamu? apa dedeknya rewel?"


"Alhamdulillah, tidak, Dok. saya nggak pernah mual dibuatnya," Mawar sedikit terkekeh


"Wah, bagus! bagaimana dengan napsu makanmu?"


"Meningkat! si dedek pengen makan terus," imbuhnya

__ADS_1


Dokter mengulum senyum kepada pasiennya tersebut. Dokter ini memang terkenal ramah dan terkesan santai ketika bertemu dengan pasiennya.


"Pinter banget dedeknya. sekarang dua bulan lebih, ya? tepatnya sembilan minggu,"


"Ya, benar sekali, Dok." seru Mawar


"Baiklah. saatnya si dedek harus kita periksa perkembangannya, ya, mama,"


Dokter wanita itu beranjak bangkit berdiri, disusul Mawar yang langsung merebahkan tubuhnya diatas brankar. disekitarnya terdapat beberapa alat USG, untuk mendeteksi sesuatu didalam tubuh, termasuk menyaksikan perkembangan dan pertumbuhan janin didalam kandungan.


Mawar berusaha rileks, dalam hatinya ia berdoa semoga sang janin tumbuh baik didalam sana.


Dokter mengolesi cairan gel diperut pasiennya. Kemudian, sebuah alat mulai menelusuri perutnya tersebut.


Tampak gambar hitam putih yang kurang jelas, tengah bergerak-gerak didalam monitor. Hanya dokter yang mengetahuinya, sedangkan Mawar hanya bisa melihat dan menganalisa sendiri, hingga dokter menjelaskan perkembangan janinnya.


"Perkembangannya cukup baik, organ tubuhnya juga sudah ada. mau lihat jenis kelaminnya, nggak, mama?"


"Boleh, Dok, ini yang saya tunggu!" seru Mawar


"Pastinya," dokter mengulum senyum lucu


Kemudian ia kembali mencari celah letak kelamin sang janin.


"Waah ... mama bakal ada saingan, nih."


Mawar mengernyit heran, apa maksudnya dokter ini. Mengetahui Mawar tengah bingung, dokter pun menjelaskan jenis kelamin yang tengah dikandung. Tapi itu masih kemungkinan, akan terlihat lebih jelas lagi saat kontrol berikutnya.


Mawar terduduk lemas mendengarnya. Jenis kelamin itu, pasti akan membawa kesedihan saat sang janin tumbuh dewasa nanti.


Hhh ... aku terlalu berpikir jauh, batinnya


☆☆

__ADS_1


__ADS_2