
Pagi-pagi sekali Mawar terbangun pada pukul empat subuh, sengaja mengaktifkan alarm melalui ponselnya pada waktu tersebut. Secara diam-diam ia merogoh sesuatu dari tas miliknya, sesekali menoleh ke arah Dave yang masih terlelap. Berharap pria itu tidak terjaga hingga urusannya selesai.
Mawar sengaja bangun lebih cepat untuk memeriksa kondisi tubuhnya dibagian bawah perut, hanya ingin mengetahui apakah ada nyawa lain yang bersemayam ditubuhnya. Berharap sekali itu nihil, tatkala Mawar tidak ingin ada sosok lain diantara mereka. jika saja hasilnya sesuai dengan keinginannya, Mawar harus segera mengambil sikap untuk mengenakan alat kontrasepsi selama masa kontrak berjalan.
Mawar mengayunkan langkah kakinya dengan hati-hati. berharap pria itu tidak terjaga terlalu cepat. setiba didepan pintu, Mawar segera masuk lalu menguncinya.
"Bismillah ... semoga negatif." gumamnya, berharap.
Mawar memasukkan dua benda memanjang seperti stik ke dalam mangkuk kecil berisi cairan bening kekuningan. cairan yang berasal dari dalam tubuhnya. dengan hati-hati dan teliti ia melakukannya, sesuai prosedur yang telah tertulis di bungkusan benda tersebut.
Selama menunggu hasilnya, jantung ini berdetak lebih kencang tak seperti biasanya. bahkan Mawar dapat mrndengarnya sendiri apa yang terjadi dengan jantungnya didalam ruang kamar mandi yang hening ini. Mawar memejamkan kedua matanya, relung hatinya sembari berdoa, tengah berharap hasilnya hanya garis satu.
Cukup lama memejamkan mata, Mawar kembali membukanya untuk melihat hasil testpack tersebut.
Glek!
Seketika Mawar menelan salivanya dengan kasar, sepasang matanya pun membulat tatkala menangkap hasil bergaris dua warna merah. ya, tentu saja hasilnya positif, tidak sesuai dengan ekspektasinya.
Mawar terpaku, tubuhnya membeku, merasa tidak percaya dengan apa yang ia lihat. dua alat sekaligus yang ia uji, sama-sama menghasilkan garis dua dalam satu waktu. tubuh Mawar perlahan merosot ke bawah, ia terduduk sambil memandang dua garis tersebut.
"Tidak! tidak mungkin, kan? nggak mungkin aku hamil." Mawar menggeleng tak percaya
__ADS_1
"Bagaimana dengan nasib anakku kelak kalau saja saat dia lahir, kita akan berpisah dengan papamu."
"Kamu akan merasakan kurangnya kasih sayang, Nak. mama harus apa??"
"Syukur-syukur kalau kamu tetap bersama mama, tapi bagaimana jika papamulah yang menginginkanmu hngga memisahkan kita? tidak! tidak!" Mawar menggeleng tidak terima
Seolah kini Mawar tengah membayangkan dirinya, sang bayi dan Dave detik-detik akan berpisah. sungguh mengenaskan. disisi lain Mawar tidak ingin anaknya kekurangan kasih sayang, disisi lain pula ia takut anaknya akan diambil alih oleh Dave yang berkuasa itu. jika semuanya itu terjadi, Mawar merasa takut, ia tidak ingin berpisah dengan anaknya.
Mawar bingung harus berbuat apa, ia tidak ingin hidup selamanya dengan Dave yang menikahinya hanya karena pelunasan hutang. ditambah lagi pria itu memang belum siap beristri apalagi memiliki anak.
"Kita memang harus berpisah dengan papamu, karna mama tidak mencintainya."
"Nak, kamu mama umpetin dulu, ya?"
"Ck!" Mawar berdecak bingung. kerumitan dalam hidupnya semakin bertambah dengan adanya janin ini
☆☆☆
"Kamu kenapa? kok dari tadi cuma diam saja tidak bersemangat?" tanya Dave, memperhatikan sang istri yang hanya diam termenung
Dave dan Mawar tengah mengenakan pakaian kerjanya setelah memerintahkan sang assisten untuk mengambil setelan pakaian mereka di kediaman. kini keduanya masih berada di hotel, dan akan check out pada pagi itu jua.
__ADS_1
"Nggak ada, sih." ucap Mawar, mengelak
Dave mendekati Mawar yang tengah mengenakan rok span selutut. lalu mengulurkan tangannya dan menempelkannya pada kening sang istri.
"Nggak demam," gumamnya
"Dibilang juga nggak apa-apa, lho." Mawar menepis tangan Dave
"Kamu ini semakin aneh." gerutu Dave
"Memang! hahahaha ..." begitu garingnya tawa itu terdengar
Mawar menghembuskan napasnya perlahan, mengeluarkan angin dari dalam paru-parunya yang membuatnya sesak. ya, dada ini sangatlah sesak kala merasa bingung dengan masa depannya kelak.
Sempat terpikir apakah harus membuat Dave jatuh cinta padanya dan benar-benar menginginkannya setulus hati? alih-alih agar mereka tetap hidup bersama dengan janin yang tumbuh dirahimnya. ataukah tetap berusaha menutupi sampai Mawar siap untuk mengungkapkannya hingga keduanya bersikukuh tetap mempertahankan kesepakatan untuk berpisah? berharap keduanya bisa sama-sama menyayangi anak mereka tanpa hubungan apapun lagi.
"Jangan banyak berpikir, nanti sore kita pulang ke rumah kok." ucap Dave
Mawar mengangguk sembari mengulum senyum, berusaha menutupi kegalauannya.
Semoga saat berpisah nanti, kita masih bisa meluangkan waktu untuk si kecil, walau tanpa hubungan lagi. batin Mawar
__ADS_1
Dedek yang tenang disana, jangan ikut sedih maupun bingung. tumbuh kembanglah dengan baik, nanti mama akan ke dokter untuk melihat adanya kamu, Sayang. sambungnya bermonolog. sembari mengelus perutnya tanpa sepengetahuan Dave
...~Bersambung~...