
Jarum jam terus berputar tak kenal henti, detik demi detik mengubah jarum panjang ke posisi lain. tujuh lebih lima belas menit Mawar telah bersiap-siap, suara bell berbunyi sudah pasti itu adalah seseorang yang ia nantikan. Mawar menenteng tas miliknya, segera pergi meninggalkan Dave seorang diri dengan pikiran berkecamuk penuh tanda tanya.
"Eh, mau ke mana?" teriak Dave, berusaha mencari jawaban
"Aku berangkat sama mang ojol! jangan lupa bereskan meja makan!" balas Mawar dari kejauhan. Ia kembali berlari melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti
Dave menggeleng-gelengkan kepalanya, ada-ada saja tingkah perempuan itu yang semakin hari semakin menggemaskan. tidak hanya tubuhnya yang menggoda, namun sikapnya juga sungguh menggoda kesabarannya. Dave membersihkan sisa makanan pada mulutnya dengan tissu, setelahnya ia bangkit untuk membereskan piring-piring kotor.
"Sejak kapan, Pak, ganti posisi jadi ART?"
Suara bariton milik seseorang tengah meledek Dave yang sedikit terkejut akan kedatangannya. siapa lagi kalau bukan Assisten Refal, menyelonong masuk ke dalam kediamannya.
"Kau!"
"Nona muda pergi dengan lelaki lain, nah, kau malah memungut piring kotor. hahahaha!" Refal tergelak. Assisten sekaligus temannya ini terlihat senang melihat pemandangan pagi itu
__ADS_1
"Lancang sekali mulutmu! kau bereskan ini semua!" Dave menoyor kepala Refal saking geramnya dengan hinaan pria itu, tak lupa memberikan tumpukan piring ke tangan Refal agar tugas dapur segera dibereskan olehnya.
Refal mendengus kesal, rasa senangnya tergantikan dengan pembalasan sang atasan.
☆☆
Mendongak memandang gedung nan menjulang tinggi hingga menembus awan, Mawar menghembuskan napas lega karena telah tiba di perusahaan, tempat ia mencari nafkah. Mawar mengayunkan kedua kakinya setelah membayar ongkos kepada Mang Ojol. ketika sepasang kakinya menaiki beberapa anak tangga, tiba-tiba kepalanya mulai terasa pusing. penglihatannya mulai berkunang-kunang, semuanya berputar tak tentu arah.
"Kenapa lagi ini?" gumamnya, memijat kedua pelipis. Mawar melangkah gontai begitu terhuyung-huyungnya ia mencari sandaran. seketika ia menghentikan langkah disisi pintu sembari menyandarkan tubuhnya di sana.
"Huh!" Mawar meringis ngilu, mencoba memejam mata dan bersikap tenang. selang beberapa detik ia kembali membukanya berharap penglihatan ini pulih sediakala.
"Kamu kenapa?" Chilla datang menghampiri kala melihat Mawar yang tampak lesu tak bersemangat. memandangnya dari dekat pun terlihat jelas wajahnya mulai pucat. Mawar menggelengkan kepala sambil mengulum senyum
"Nggak apa-apa, Chil. kamu balik sana ke mejamu, aku mau bikin kopi untuk presdir dulu." katanya. Mawar berusaha bangkit, namun Chilla menghentikan niatnya
__ADS_1
"Kamu pucat, lebih baik aku saja yang siapin." dengan sungguh perhatiannya Chilla berbaik hati kepada Mawar. perempuan itu lantas meninggalkan Mawar dan berlari kecil menuju pantri yang berada di lorong ujung.
Mawar menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Chilla, gadis baik hati nan pecicilan itu terlalu sigap untuknya. beruntung sekali Mawar memiliki teman sebaik dia.
Pintu lift tampak mulai terbuka dalam pandangan Mawar yang seolah menanti kedatangan Dave. Mawar tercenung memerhatikan sosok yang baru saja menampakkan dirinya di sana. sepasang matanya tak berkedip kala memandang tingginya dan gagahnya tubuh sang suami, memiliki kulit putih dan wajah yang teramat tampan. wajah campuran antar dua budaya. Mawar tidak menyangka bila ia telah menikahi lelaki tersebut. selain tampan, pria itu juga tajir dan cerdas.
"Anjir! presdir datang, aku cabut dulu!" sayup-sayup Mawar mendengar ucapan Chilla, namun perempuan ini tak mempedulikannya dan malah fokus memandang Dave yang melangkah dengan tegapnya
Hingga jarak keduanya yang kian mendekat, membuatnya tak kunjung sadar. Dave menyipitkan sebelah mata, mengapa wanita itu memandangnya begitu lekat dalam tatapan takjub. Dave dibuat besar kepala olehnya, pria itu mengulas senyum tipis sembari merapikan poninya agar semakin terlihat tampan.
"Bekerjalah, Nona, ketampananku memang tak ada obatnya." celetuk Dave, membuat Mawar tersentak setengah sadar
Mawar mendelik, sontak ia membuang muka dan berpaling menatap komputernya. sungguh malu sekali, lirikan matanya memerhatikan satu persatu ekspresi pegawai lain
Aih, kenapa aku begitu? mereka malah mengghibah. batinnya
__ADS_1
Mawar terlihat frustasi, menggenggam secangkir teh hangat lalu ia angkat mendekati bibirnya. Mawar menyesap perlahan teh buatan Chilla yang sepertinya membuat hatinya lumayan lega.
...~Bersambung~...