
Mawar terpelongo melihat sosok pria kemarin yang hampir menabraknya berada diruangan ini. Begitu pula dengan pria tersebut. Berulang kali pria itu melihat pasphoto milik Mawar, lalu berpaling ke sosok aslinya. Tampak sedikit berbeda, yang asli terlihat lebih cantik. Hingga dirinya sampai pangling
"Jadi kau? Wanita menyebalkan itu?" celetuknya
"Saya tidak menyebalkan, justru anda!" tuduh Mawar
"Berani sekali," cibir pria tersebut. "Belum diinterview saja, attitudemu sudah terlihat,"
"Yasudah, saya bisa kok cari yang lain, banyak yang mau nerima saja." ucapnya dengan percaya diri dan sedikit arrogant
Mawar mendekat, merebut berkas-berkas lamarannya yang digenggam oleh pria asing ini. Sembari berdecak sebal, ia berbalik ingin meninggalkan ruangan ini.
Tidak hanya satu tempat ini peluangnya untuk mendapat pekerjaan. Pasti masih ada perusahaan lain yang mau menerimanya. Dirinya cantik, sampai pria kalangan atas yang sudah menghamilinya, memanfaatkan tubuh ini dengan cara keji.
"Tunggu!"
Hampir aja ingin menarik pintu, tiba-tiba pria itu mencegat langkahnya. Mawar terdiam sejenak sambil menghembus napas dengan kasar, bola matanya mengarah keatas, mungkin merasa jengah. Walau begitu, Mawar tetap membalikkan badannya kembali.
"Ada apa?"
"Duduk dulu, saya belum memutuskan kamu diterima atau tidak!" katanya
"Bukannya attitude saya jelek? Anggap aja itu sebagai penolakan,"
"Sudahlah, duduk dulu! kamu cerewet sekali," gerutunya
Mawar melangkah maju, menarik sedikit kursi lalu membenamkan bokongnya di sana. Keduanya saling berhadapan. Pria itu menatap lekat wajah Mawar yang lebih cantik dari pasphotonya
__ADS_1
"Berapa senti bedakmu?" tanya pria asing ini
Sontak, Mawar mendelik. Ia terbelalak kaget mendengar pertanyaan konyol ini.
"Apa maksudnya nanya bedak saya?" Mawar menjawabnya dengan pertanyaan pula
"Hmmm, asli sama foto beda," ungkap pria itu
"Heh??" cibir Mawar. "Kenapa malah mempermasalahkan muka saya. Ya, begini adanya, bedak nggak tebal-tebal amat kok,"
"Tu foto dari saya baru lulus kuliah, ya wajarlah sekarang udah cantik," papar Mawar
Bagaimana tidak cantik, uang gaji hasil kerjanya di Perusahaan Ghaza mencukupi kebutuhannya. Tentu saja pengeluarannya telah ia atur. Untuk dikirim ke ibu, biaya kost, makan, dan sedikit perawatan untuk kulitnya. Lagi pula foto tersebut, dipotret kala ia baru lulus kuliah untuk sebagai lampiran melamar pekerjaan.
"Baiklah. Langsung saja, perkenalkan jati dirimu!"
"Hebat juga kamu pernah bekerja di Ghaza Group sebagai sekretaris," pujinya.
"Ya, begitulah."
"Lalu, kenapa keluar?" tanyanya
Mawar terdiam. pertanyaan itu mengingatkannya dengan permasalahan yang ia alami hingga hidupnya benar-benar hancur karena tertipu.
"Saya-ingin resign saja karna waktu itu ingin pulang ke Bandung." ungkapnya sebagai alasan
"Hmmm, padahal bisa cuti,"
__ADS_1
"Tidak bisa. Saya balik kampung hampir sebulan, mana mungkin bisa ngambil cuti." tukasnya
"Hhh ... baiklah. Mulai besok kamu bisa mulai bekerja,"
Mawar tercenung? bersungguhkah pria ini? Walau tadi sempat kesal dan jual mahal, sekarang Mawar bersorak ria didalam hatinya karena mendapat kabar baik ini
Alhamdulillah, memang jalan rejekimu selalu dimudahkan, Nak. Batin Mawar mengelus perut ratanya
"Ini, seragam untuk kamu selama jadi pegawai disini." pria itu memberikan beberapa seragam yang harus dikenakan Mawar
Mawar tertegun melihatnya.
"Bekerjalah yang baik mulai besok, salah satu pegawai sini akan mengajarimu apa saja pekerjaan yang harus dilakukan,"
Mawar manggut-manggut paham. "Baiklah." katanya
"Sekarang boleh pulang dulu, besok datang pukul delapan pagi,"
"Oke. Terima kasih, ya," Mawar mengulurkan tangan padanya. yang langsung disambut oleh pria tersebut.
Usai dengan urusannya, Mawar melenggang pergi dari ruangan ini seraya membawa beberapa seragam yang ia simpan didalam tas.
Pria itu mengulum senyum mengantarkan kepergian Mawar. Kedua tangan bersedekap didada, kedua kaki menyilang dibawah sana.
"Menarik juga." gumamnya
☆☆
__ADS_1