
Beberapa orang kaget melihat selera makan anak baru ini yang super dahsyat sekali. Tiga piring berbagai macam menu ada dihadapan Mawar. tanpa memikirkan harga diri, Mawar meraup semuanya dengan nikmat. Rekan-rekan yang ada disekitarnya hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala, sungguh lucu sekali.
Namun, ada satu orang yang melihatnya dengan jijik. merasa geli sendiri menyaksikan seseorang serakus itu.
"Dia rakus banget," bisiknya kepada rekan sebelahnya
"Tapi enak aja ngelihatnya, jadi ikutan lapar sih, bisa-bisanya aku bakal gak jadi diet,"
"Kamu is, podeae!"
"Wes lah! Lanjut makan,"
Semuanya yang terdiri dari lima orang itu pun menyusul Mawar menyantap hidangan siangnya dengan penuh kehangatan. Sesekali mereka mengobrol, sedangkan Mawar lebih banyak menyimak dan menanggapi. Mungkin karena masih baru, Mawar masih butuh beradaptasi.
"Mas, nanti kalau udah gajian, Mawar ganti ya, uangnya." ucap Mawar kepada pria disisinya ini
"Kenapa mesti ganti? kamu tahu nggak, ini semua saya yang bayarin, bukan kamu aja."
Seketika saja Mawar mendelik. yang benar saja, semua hidangan ini ditanggung olehnya.
"Oh," Mawar terkekeh
"Dasar! percaya diri sekali kamu," bisik lelaki itu
"Apaan sih!" Mawar memutar bola matanya, jengah.
__ADS_1
Disisi lain, pergelaran resepsi pun akhirnya dimulai setelah dua jam lamanya istirahat memulihkan tubuh yang lelah menjalani prosesi akad nikah.
Usai menghirup aroma menyengat berasal dari minyak angin, Dave mulai mengerjapkan kedua matanya pertanda ia mulai siuman. Semua orang turut berbahagia olehnya. berkat Dokter Gilang, Dave akhirnya sadar. Kepala Dave mulai keliyengan, sesuatu didalam perutnya mulai beraksi aneh hingga membuat Dave harus melarikan diri ke toilet.
Semua orang terpaku mendengar Dave memuntahkan sesuatu. Ibunya yang kembali panik, datang menyusul putranya lalu mengusap-ngusap punggung pria itu. Sedangkan Wilona, malah semakin risau. Ia sempat lega kekasihnya sudah siuman, tapi kembali gelisah kala Dave beraksi seperti ini.
"Kenapa lagi?" gerutu sang ibu dari Dave
"Kepalaku pusing, Ma, mungkin masuk angin," lirihnya
Dokter Gilang kembali datang membawakan segelas air putih untuknya. Dave menyambut dengan hangat lalu menenggaknya hingga tandas tanpa sisa.
Dave meminta semua orang untuk meninggalkannya. ia butuh istirahat sejenak merilekskan tubuhnya sebelum memulai akad nikah kembali. Kini hanya tersisa dirinya, sang ibu dan sahabatnya, Dokter Gilang.
"Kamu kelelahan mengurus pernikahan ini, Nak? Kenapa nggak protes, biar kita undur agak dua bulan lagi," gerutu sang ibu
"Aduuh ... sekarang keadaanmu begini,"
"Sudah mendingan, aku butuh baring agak setengah jam saja," pintanya
"Baiklah. hari juga masih lama, tidur aja dulu."
Dave mengangguk
"Sebaiknya olesin dada, perut, tengkuk leher, pakai minyak angin, Tan, biar enakan. dan ini, aku tambahin resep obat mual. Nanti tante suruh siapapun buat nembus obatnya, ya, Tan, biar segera dikonsumsi Dave." saran Dokter Gilang menyodorkan secarik kertas resep dan juga minyak angin
__ADS_1
"Sekali lagi terima kasih, Lang. kamu mau, kan, stay di sini sampai acara selesai?"
"Tentu saja, demi sahabatku yang lemah ini!" ledek pria itu, menepuk lengam Dave
"Brengsek lu!" decak Dave
Hingga ibu dan sahabatnya pun tertawa melihatnya.
Mama Dave pun mulai mengolesi minyak angin ke bagian tubuh yang disarankan oleh Gilang. Dave hanya nurut, ini juga demi kebaikan dan kelancaran acara.
Setelah selesai, mama menyuruh sang putra untuk beristirahat. Sedangkan ia dan Gilang, bergegas keluar meninggalkannya.
Diluar ruangan, mama memerintahkan anak buahnya untuk menembus resep ini. Mereka patuh, langsung pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Tante, gimana dengan Dave?" Wilona datang menghampiri
"Sudah mendingan, Dave butuh istirahat sebentar."
"Lalu, akadnya jadi, kan?" ketus perempuan tersebut yang langsung disenggol oleh sang ibu untuk menjaga sikap
"Tentu saja jadi, tenang saja!" mama mengulum senyum padanya. Wilona manggut-manggut paham walau agak sedikit gelisah
Benar saja, hampir satu jam kemudian, akad nikah pun kembali dimulai. Kali ini Dave sudah agak mendingan, dan begitu lancar mengucap kalimat ijab qobul. Hingga, para saksi memutuskan kedua mempelai ini telah sah menjadi sepasang suami istri.
Akhirnya, Dave sudah menjadi suamiku, dan aku telah menjadi istrinya.
__ADS_1
**